Penerapan Protokol Kesehatan Jadi Masalah untuk Hotel Melati di Solo
Ilustrasi hotel. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO — Tidak semua hotel di Solo berkondisi baik sehingga bisa menerapkan protokol kesehatan mencegah Covid-19, termasuk hotel melati di Solo. Kebutuhan biaya untuk menerapkan protokol new normal cukup berat bagi hotel melati.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo, Abdullah Soewarno, mengatakan pihaknya sudah membagikan Panduan Umum Normal Baru Hotel dan Restoran dalam Pencegahan Covid-19 dari DPP PHRI ke hotel dan restoran.

Kendati begitu, ia belum bisa memastikan berapa banyak hotel yang akan membuka layanan kembali setelah memutuskan tutup saat pandemi berlangsung. Beberapa hotel diketahui terpaksa tutup karena tak sanggup menanggung biaya operasional, termasuk menggaji karyawan. Kondisi itu makin berat bagi hotel melati di Solo.

Yossy Si Bakul Gorengan Cantik Viral di Jogja Ternyata Lahir di Sukoharjo

“Soal surat kepada wali kota ihwal kesiapan menggelar meeting dan wedding baru kami sosialisasikan sehingga belum ada yang mengirim surat. Tapi, kami enggak mau surat kepada wali kota itu disebut izin operasional ya, karena selama pandemi ini, beberapa hotel boleh beroperasi menerima tamu menginap, meski ada yang tutup. Mau beroperasi lagi pun, tidak perlu izin Pemkot,” ujar dia, pertengahan Juni 2020.

Abdullah mengakui Panduan Umum Normal Baru Hotel dan Restoran masih harus disesuaikan untuk hotel-hotel kelas melati di Solo. Hotel-hotel berbintang jamaknya mempunyai pendanaan yang cukup guna menyokong penerapan panduan tersebut. Namun, hal itu kurang maksimal bagi hotel dan penginapan kelas melati.

Suku Bunga Dipangkas, Sektor Properti Diharapkan Menggeliat

Formulasi New Normal Hotel Melati

“Untuk menyediakan banyak termometer tembak saja, katakan, belum tentu mereka mampu. Belum lagi cairan disinfektan. Kami masih menyusun formulasi yang tepat untuk mereka. Dalam tataran protokol kesehatan, mungkin mereka bisa menyediakan hand sanitizer atau tempat mencuci tangan dengan sabun. Tapi untuk menyemprot kamar dengan disinfektan mungkin belum,” kata Abdullah.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata (Disparta) Solo, Budi Sartono, mengaku sudah menerjunkan tiga tim bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) guna memonitor kesiapan sejumlah hotel dan restoran. Termasuk, hotel melati di Solo.

Produsen Taro Sajikan Laporan Keuangan 2017 Setelah Kasus Beras, Ternyata Rugi

Hasilnya, hampir 90 persen sudah melaksanakan protokol kesehatan. Pengelola hotel di Solo bahkan menerapkan aturan sendiri yakni mengosongkan kamar yang baru dipakai selama 24 jam sebelum ditempati tamu kembali.

Hal itu mereka lakukan untuk memastikan kenyamanan tamu, termasuk karyawan mereka sendiri. Setelah diinapi, kamar disemprot disinfektan guna kepastian higienitas.

“Hotel juga melindungi karyawannya sendiri, sebab jika ada yang positif tertular Covid-19, hotel harus ditutup selama minimal 14 hari. Makanya, protokol kesehatan benar-benar mereka terapkan,” ucap Budi. Sayangnya Budi tidak menyinggung soal kesiapan hotel melati di Solo.

Hotel di Solo Boleh Gelar Meeting dan Wedding, Tapi…


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho