PENELTIAN TERBARU : Angka Harapan Hidup Korsel Tertinggi
Ilustrasi orang tua (Youtube.com)

Penelitian terbaru mengenai angka harapan hidup di sejumlah negara.

Solopos.com, AMERIKA -- Rata-rata angka harapan hidup akan naik secara global pada 2030, baik untuk jumlah kelahiran maupun pencapaian usia 65 tahun.

CNN pada Selasa (21/1/2017) menulis, kedua angka tersebut naik lantaran ada peningkatan kesehatan saat hamil, tumbuh kembang hingga kehidupan orang dewasa.

Rata-rata angka harapan hidup perempuan dapat mencapai 85 tahun di sejumlah negara. Namun, di Korea Selatan (Korsel), nilai rata-rata mencapai posisi puncak, yakni 90,8 tahun.

World Health Organization (WHO) pada 2015 merilis angka rata-rata harapan hidup mencapai 71,4 tahun. Awalnya gaya hidup tak sehat di kalangan kaum pria, seperti kebiasaan merokok maupun konsumsi alkohol berlebih menjadi penyebab rendahnya angka harapan. Namun, seturut perkembangan zaman, angka harapan hidup antara laki-laki dan perempuan setara.

Dari penelitian terbaru yang dipublikasikan di Lancet, angka harapan hidup laki-laki di Korsel pada 2030 mencapai 84,1 tahun.

"Hasil penelitian terbaru, salah satu kelompok akan menembus usia 90 tahun," terang Profesor Kesehatan Lingkungan Dunia dari Imperial College London, Majid Ezzati yang memberikan penjelasan mengenai kelompok perempuan di Korsel. Ezzati dan sejumlah ilmuwan percaya rata-rata angka harapan hidup di negeri ginseng itu melebihi 90 tahun.

"Angka ini menunjukkan meski usia manusia terbatas, tetapi kita dapat memperpanjang. Kita seharusnya merencanakan kehidupan [yang sehat]," terangnya.

Analisa penghitungan riset ini memanfaatkan angka kematian dan rata-rata harapan hidup di 35 negara industri, termasuk negara dengan penghasilan besar atau negara berkembang.

Dari data negara dengan industri berpenghasilan terbesar, angka harapan hidup kelahiran terendah ada di Amerika Srikat, dengan rata-rata 83,3 tahun untuk perempuan dan 79,5 tahun bagi laki-laki. Angka itu setara dengan kehidupan di Meksiko dan Kroasia.

"Ada hubungan antara jumlah rata-rata penduduk muda dan kematian di usia separuh baya," papar Ezzati kepada CNN. Hasil ini menggambarkan kehidupan di negara dengan angka harapan hidup rendah. Rerata, usia kematian 40-50 tahun.

Menurut dia, ada penyebab kematian pada era ini, dari jumlah obesitas serta risiko penurunan kesehatan seperti angka bunuh diri dan kecelakaan lalu lintas. Peneliti menegaskan, kurangnya kepedulian kesehatan secara universal mengambil peranan penting. Adapun hal ini banyak terjadi di Amerika Serikat (AS). Dari keseluruhan riset, angka harapan hidup teredah untuk perempuan di Makedonia dan laki-laki di Serbia.

"Kebanyakan hal ini terjadi karena tidak adanya kesetaraan sehingga menurunkan rata-rata secara nasional," papar Ezzati.

Tim peneliti menilai angka harapan hidup menggunakan data usia meninggal dalam sebuah populasi. Angka kematian anak-anak dan rata-rata kematian usia muda karena kecelakaan dan kekerasan dapat menurunkan nilai tersebut.

Adapun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di Korsel dalam menjaga kesehatan, diet dan gaya hidup yang menjadi budaya mendongkrak angka harapan hidup.

"Negara seperti Korsel dan sejumlah negara yang menuju kelompok ekonomi maju, seperti Swiss dan Kanada memiliki hal tersebut [kesetaraan]. Korsel menunjukkan pencapaian yang luar biasa," katanya.

Ezzati percaya rahasia Korsel dapat mencapai hal tersebut lantaran negara menanamkan investasi yang besar untuk nutrisi anak-anak, pendidikan dan teknologi untuk menjaga tekanan darah tetap rendah. Selain itu, kebiasaan merokok yang rendah juga menjadi penyumbang tersebut.

"Pengetahuan yang baik dan benar mengambil peranan besar," terangnya.

Sementara, negara seperti Jepang yang dikenal memiliki penduduk dengan angka harapan hidup tinggi justru mengalami penurunan.

"Pencapaian Jepang dengan angka harapan hidup tertinggi menurun," tambah dia. Adapun negara ini dikenal memiliki budaya diet sehat maupun gaya hidup yang aktif. Menurut dia, budaya dan kebiasaan tersebut berubah.

"Jumlah obesitas dan tekanan darah rendah masih sedikit, tetapi angka itu mengalami kenaikan," tambahnya. Pengaruh barat seperti diet ditegaskannya menjadi penyebab.

"Korsel menandingi standar kehidupan Jepang," kata Sarah Harper, profesor yang fokus pada gerontologi dari Universitas Oxford.

"Tapi di banyak negara di Asia, anak muda saat ini memiliki pola makan orang barat. Pola hidup sehat yang lama mulai ditinggalkan anak muda hingga usia dewasa," papar dia.

Penelitian ini diharapkan dapat membantu negara-negara belajar gaya hidup sehat. Lebih penting, tegas dia, membantu pengampu kebijaksanaan untuk menyiapkan populasi.

"Apa yang dilakukan Korsel bertentangan dengan negara barat," terang dia. Penjelasan ini cukup memberikan penekanan pada kita untuk memikirkan masalah sosial, perencanaan dan tabungan hari tua saat masuk usia pensiun.

Harper menambahkan riset baru yang akan dilakukan memiliki kesamaan dengan penelitian sebelumnya. Dia juga setuju jika banyak negara di Asia mulai memimpin tetapi dia juga mencermati adanya perubahan di penduduk usia muda.

Selain itu, dia juga menyatakan ketidaksetaraan menjadi faktor yang perlu digarisbahahi. Misalnya pendapatan rendah yang berhubungan dengan angka harapan hidup.

"AS memberikan perhatian yang besar untuk anggaran kesehatan dibanding negara lain di dunia. Banyak orang percaya hal ini terjadi karena besarnya ketidaksetaraan. Skandinavia menunjukkan hal yang baik. Negara ini terbilang lebih setara dan memiliki pendapatan yang lebih besar," tutup dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho