Tutup Iklan
ilustrasi kejahatan siber, hoax. (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, SOLO -- Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang menyasar karakter pengguna Facebook pada Pemilu Presiden AS 2016 lalu menemukan generasi baby boomers alias orang tua lebih banyak menyebarkan disinformasi dibanding anak muda.

Orang yang berusia 45-65 tahun dan 65 tahun ke atas membagi lima hingga tujuh kali lebih banyak -hoaks-polda-jatim-kejar-pengikut-sugi-nur" title="Terganggu Hoaks, Polda Jatim Kejar Pengikut Sugi Nur">berita palsu (hoaks) dibanding pengguna Facebook berusia 18 sampai 29 tahun.

Analisis tersebut adalah hasil kerja peneliti politik gabungan Universitas Princeton dan Universitas New York. Hasilnya diterbitkan pekan lalu di Jurnal Science Advances.

Menurut Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho alias Zek, hasil penelitian itu tak jauh berbeda dibanding yang terjadi di Indonesia. Orang tua, kata dia, menjadi agen penyebar hoaks terbanyak sekaligus yang paling banyak terpapar.

“Kaitannya dengan -hoaks-jokowi-pemilik-akun-instagram-suararakyat23-diciduk-polri" title="Sebar Hoaks Jokowi, Pemilik Akun Instagram suararakyat23 Diciduk Polri">hoaks politik, kenapa mereka jadi yang terbanyak karena merekalah pelaku politiknya. Mereka terlibat di isu politik. Anak muda sedikit yang terlibat [politik],” kata dia saat berbincang kepada Solopos.com lewat telepon, Minggu (13/1/2019).

Zek mengatakan orang tua merupakan digital migran yang baru saja menyantap sajian teknologi. Mereka beradaptasi dengan hal baru yang sebelumnya tak pernah dijumpai.

Mereka cenderung percaya hanya pada satu kanal, seperti televisi, radio, dan koran yang merupakan kebiasaan lama di mana teknologi belum semasif sekarang.

“Mereka gagap dengan banyaknya informasi di era post truth ini ditambah dengan polarisasi di masyarakat terkait isu politik, saling mengaplifikasi sehingga rentan dengan disinformasi, berita palsu, dan hoaks,” ucapnya.

Para digital migran itu tak terbatas dari kalangan pendidikan yang kurang atau dengan tingkat ekonomi mapan. Batasnya sumir. Siapa pun mereka, rentan menjadi korban dan pelaku hoaks.

“Pakar sekalipun, mereka mudah terkecoh dengan informasi di luar kepakarannya,” lanjut Zek.

Agar tetap waras di dunia yang makin banjir informasi, Zek meminta masyarakat pandai-pandai mengendalikan diri. Kemudian memahami jalan pasti di rimba belantara informasi dengan berlatih membedakan sumber informasi yang benar dengan yang tidak jelas.

Masyarakat wajib tahu sumber informasi itu atau setidaknya mengecek susunan redaksional situs yang disebarkan. “Informasi dari grup layanan perpesanan enggak boleh dipercaya begitu saja. Cek dan ricek. Kami sendiri berjuang debuxing -gerung-foto-lebam-bukan-hoaks-sebelum-pengakuan-ratna-sarumpaet" title="Rocky Gerung: Foto Lebam Bukan Hoaks Sebelum Pengakuan Ratna Sarumpaet">hoaks lewat media sosial dan situs. Jika ada yang diragukan bisa cek lewat itu,” kata dia.

Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Berliana Widi Scarvanofi, meminta masyarakat tak malas mencari kebenaran informasi dengan bertanya, tidak menyebarkan ulang informasi yang didapat dan memadu informasi dari banyak media.

“Ada banyak pihak yang harus bekerja sama untuk mengatasi ini. Media sosial dan hoaks akan terus ada. Ini adalah tantangan kita bersama. Yang enggak diinginkan adalah hoaks yang beredar sampai membuat jiwa seseorang terganggu,” kata dia.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten