Ilustrasi orang tua dengan anak (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Berapa jumlah anak ideal menurut pasangan suami istri di Indonesia? Jawaban yang muncul mungkin akan sangat beragam. Namun, penelitian menyebutan pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di desa ingin punya anak lebih banyak bila dibandingkan dengan pasangan di kota.

Penelitian mengenai jumlah anak yang diinginkan pasangan suami istri di perdesaan dan perkotaan pernah dilakukan Oktriyanto dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dan Herien Puspitawati serta Istiqlaliyah Muflikhati, keduanya dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Penelitian mereka yang berjudul Nilai Anak dan Jumlah Anak yang Diinginkan Pasangan Usia Subur di Wilayah Perdesaan dan Perkotaan dimuat di Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen.

Mereka membuat dua kategori besar mengenai jumlah anak yang diinginkan istri selama masa hidupnya yaitu ingin memiliki anak kurang dari atau sama dengan dua serta lebih dari dua anak.

”Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,2 persen istri menginginkan jumlah anak lebih dari dua orang. Jumlah anak yang diinginkan minimum adalah satu orang dan maksimum adalah delapan orang,” sebut mereka sebagaimana dikutip dari hasil penelitian itu, beberapa waktu lalu.

Bila dirata-rata, jumlah anak yang diinginkan dalam penelitian itu adalah 3 anak. Mereka menyebutkan tidak ada satupun istri yang tidak menginginkan anak.

Ketika mulai dibagi secara kewilayahan ada perbedaan signifikan antara jumlah anak yang diinginkan. Keluarga yang tinggal di desa ingin punya anak lebih banyak dibandingkan dengan keluarga yang tinggal di perkotaan.

Keinginan punya anak banyak bagi pasangan di perdesaan bisa terlihat dari jumlah anak minimal dan maksimal. Mereka menjawab jumlah anak minimal 2 orang dan maksimal 8 orang.

Sedangkan pasangan di perkotaan menjawab jumlah anak minimal 1 orang dan maksimal 4 orang. Berikut data jumlah anak yang diinginkan pasangan sesuai tempat tinggal mereka.

Perdesaan

  • Kurang dari dan sama 2 anak 13,3%
  • Lebih dari 2 anak 86,7%
  • Rata-rata 4,07 anak
  • Minimal-maksimal 2-8 anak

Perkotaan

  • Kurang dari dan sama 2 anak 78,3%
  • Lebih dari 2 anak 21,7%
  • Rata-rata 2,22 anak
  • Minimal-maksimal 1-4 anak

”Meskipun keluarga di perdesaan pada umumnya ingin punya anak lebih banyak daripada keluarga di wilayah perkotaan, jumlah anak yang diinginkan pada sebagian dari keluarga di wilayah perdesaan khususnya yang bekerja di sektor pertanian telah mengalami perubahan,” sebut mereka.

Ilustrasi anak-anak
Ilustrasi anak-anak (Freepik)

Hal ini tidak lepas dari nilai anak yang menurun sehingga jumlah anak yang diinginkan juga menurun. Nilai anak merupakan nilai yang diperoleh orang tua yang terdiri atas nilai positif (manfaat) dan nilai negatif (kerugian dan biaya) ketika memiliki anak.

Dari penelitian ini diketahui nilai manfaat anak di mata pasangan di perkotaan dan perdesaan sama-sama tinggi. Ada 95% objek penelitian di perdesaan menilai nilai manfaat anak tinggi dan hanya 5% yang sedang.

Mengapa keluarga di perdesaan ingin punya anak lebih banyak dibandingkan di perkotaan? Menurut Schultz (1997), seseorang yang memiliki lahan pertanian yang luas biasanya ingin punya anak yang relatif tinggi.

Sebab, orang tua akan menutup biaya melahirkan anak dengan menggunakan anak untuk menggantikan mahalnya menyewa buruh tani. Biaya bersih anak (net costs of children) di perkotaan dianggap lebih tinggi karena ada pekerjaan yang kurang produktif di sana untuk anak dalam keluarga, seperti biaya makanan, tempat tinggal, dan biaya kursus yang lebih besar.

Tiga peneliti itu juga menyimpulkan keluarga dengan pendapatan tinggi dalam penelitian cenderung menginginkan jumlah anak lebih sedikit daripada keluarga dengan pendapatan lebih rendah.

Keluarga dengan pendapatan tinggi biasanya lebih mengutamakan kualitas daripada jumlah anak. Menurut Easterlin (1975), orang tua yang lebih memberikan penekanan pada kualitas anak maka akan mengorbankan jumlah anak yang diinginkan.

Dengan penghasilan tinggi, orang tua akan memberikan pendidikan dan keterampilan (kursus musik, les bahasa Inggris, dan sebagainya) anak dengan sebaik-baiknya daripada orang tua dengan pendapatan rendah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten