Yudha Pratama Putra, Novia Sariningsih, dan Wahyu Puji Pamungkas, mahasiswa FMIPA UNS yang melakukan inovasi pembuatan lapisan pembungkus makanan menggunakan pati jahe.

Plastik hingga kini masih banyak dipakai mengemas produk makanan atau minuman. Padahal penggunaan plastik sudah diketahui menimbulkan berbagai permasalahan, terutama pencemaran lingkungan.

Sifat plastik yang tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroba mengakibatkan penumpukan sampah plastik, bahkan menyebabkan kerusakan lingkungan. Selain itu, plastik dapat mencemari bahan pangan yang dikemas karena adanya zat-zat tertentu yang berpotensi memicu kanker atau karsinogenik yang dapat berpindah ke dalam bahan pangan yang dikemas. Pembakaran sampah plastik akan mengeluarkan zat kimia yang bersifat karsinogenik yang berbahaya bagi tubuh manusia, sehingga ini bukan solusi yang tepat untuk mengurangi besarnya limbah plastik.

Sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan pengemas sintetik, dapat digunakan bahan pengemas alami yang ramah lingkungan seperti edible film atau pelapis yang bisa dimakan untuk melapisi bahan pangan. Lapisan ini bahkan dapat dimakan langsung dan mampu terdegradasi oleh alam secara biologis. Edible film dapat dibuat dengan tiga komponen utama penyusun yaitu hidrokoloid, lemak, dan komposit. Salah satu bahan utama yang digunakan dalam pembuatan edible film adalah pati yang termasuk kelompok hidrokoloid dan merupakan salah satu bahan yang mudah didapat, harganya murah, dan jenisnya beragam di Indonesia.

Biasanya edible film dibuat menggunakan bahan dasar pati sorgum yang terdapat pada bahan makanan pokok seperti singkong atau jagung. Namun tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo membuat inovasi baru dalam pembuatan edible film yaitu menggunakan pati jahe.

Mereka adalah mahasiswa Program Studi (Prodi) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS, yaitu Novia Sariningsih dari Angkatan 2014, Yudha Pratama Putra dari Angkatan 2014, dan Wahyu Puji Pamungkas dari Angkatan 2015. Mereka merupakan salah satu dari 11 tim UNS yang akan maju dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2017 di Makassar, 23-28 Agustus 2017. Sebelumnya, mereka berhasil meraih dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017.

Yudha selaku pencetus ide penggunaan pati jahe sebagai bahan dasar pembuatan edible film ini karena diketahui bahan tersebut juga memiliki beberapa komponen kimia seperti gingerol, shogaol, dan zingerone yang memberi efek farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan. “Kami melakukan inovasi pembuatan edible film dengan memanfaatkan limbah pati jahe hasil pembuangan industri jahe sebagai bahan utamanya, yang di poliblend dengan kitosan yang bertujuan untuk memberikan sifat antibakteri pada edible film dan merupakan salah satu bahan pengawet alami yang bisa digunakan,” ungkap Novia selaku juru bicara tim, saat ditemui wartawan di Kampus UNS Solo, Kamis (17/8/2017).

Untuk memberikan sifat elastis pada edible film dari pati jahe dan khitosan, digunakan sorbitol sebagai plasticizer. Sorbitol merupakan sejenis pemanis yang sering digunakan oleh penderita diabetes untuk bahan pengganti gula.

Edible film dari pati jahe ini juga telah melalui beberapa tahap pengujian, yaitu uji ketebalan, uji mekanik, uji ketahanan air dengan uji daya serap air, uji antibakteri dengan metode difusi agar, serta dilakukan analisis morfologi dengan Scanning Electron Microscope (SEM) dan analisis termal dengan TGA-DTA. Wahyu menambahkan, edible film yang dihasilkan dari poliblend pati jahe dan kitosan memiliki sifat antibakteri, memiliki sifat elastisitas yang cukup bagus untuk digunakan sebagai pembungkus makanan, dari uji suhu termal menunjukkan bahwa suhu terdegradasinya cukup tinggi yaitu sebesar 208oC, meskipun demikian edible film ini mempunyai kemampuan menyerap air sebesar 50 persen sehingga akan mudah dicerna tubuh ketika dikonsumsi.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten