Peneliti China Sebut Radiasi Bulan 200 Kali Bumi, Apa Manfaatnya?
Ilustrasi Bulan saat blue moon. (space.comyus)

Solopos.com, JAKARTA — Pengukuran yang dilakukan astronom dengan moon lander milik China, Chang’e-4, menyimpulkan bahwa radiasi Bulan 200 kali Bumi. Studi itu didasarkan pada kenyataan satelit Planet Bumi itu tidak memiliki medan magnet pelindung atau pun atmosfer layaknya Planet Bumi.

Dengan semakin banyak negara-negara berencana untuk mendaratkan manusia di Bulan di beberapa dekade ke depan, para ilmuwan dari Jerman dan China melakukan studi untuk menentukan seberapa besar tingkat astronot akan terpapar radiasi di permukaan Bulan.

Hasil dari penelitian ini adalah indikator seberapa banyak pelindung yang dibutuhkan astronot di masa depan. Termasuk studi tentang seberapa banyak seorang astronot akan terpapar dengan dosis harian rata-rata 1.369 mikrosievert radiasi di permukaan Bulan, atau sekitar 2,6 kali lebih banyak dari dosis harian awak Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Kencangkan Organ Kewanitaan Pakai Suntik Stem Cell sedang Tren

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Science Advances, Jumat (25/9/2020). dengan pengukuran yang dilakukan astronom dengan moon lander milik China, Chang’e-4, yang mendarat di sisi terjauh bulan pada 3 Januari 2019. Eksperimen dengan nama Lunar Lander Neutron and Dosimetry yang dikembangkan oleh ilmuwan Jerman, mengukur radiasi selama “siang hari” di bulan, dari 3-12 Januari dan 31 Januari hingga 10 Februari 2019.

“Penempatan dosimeter di dalam wahana satelit Chang’e-4 memberikan perlindungan parsial, seperti halnya pakaian antariksa astronot akan lakukan pada tubuh mereka. Jadi temuan ini cukup bisa diaplikasikan untuk penjelajah manusia,” ujar Robert Wimmer-Schweingruber yang menjadi rekan penulis dari penelitian tersebut yang juga merupakan seorang fisikawan di Universitas Kiel di Jerman sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara dari scmp.com.

Tingkat radiasi yang diukur di Bulan per jamnya sekitar 200 kali lebih tinggi daripada di permukaan Bumi, dan lima hingga 10 kali lebih tinggi daripada penerbangan penumpang jarak jauh dari Frankfurt ke New York, tulis Wimmer-Schweingruber dalam sebuah pernyataan. “Karena astronot akan berada di bulan lebih lama daripada penumpang yang terbang ke New York dan kembali, ini menunjukkan tingkat paparan yang cukup besar bagi manusia,” tambahnya.

Viral Video Kepala Desa Gantar Kesurupan Setelah Lihat Tari Jaipong

Menurut Wimmer, meski demikian astronot dapat dan harus melindungi diri mereka sendiri sebisa mungkin selama tinggal dengan durasi yang lebih lama di bulan. Misalnya dengan menutupi tempat tinggal mereka dengan lapisan tebal tanah Bulan.

Radiasi Berisiko

Menurut studi tersebut, radiasi ruang angkasa adalah salah satu risiko utama bagi kesehatan para astronot karena paparan kronis sinar kosmik galaksi dapat menyebabkan kanker, katarak, atau penyakit degeneratif pada sistem saraf pusat atau sistem organ lainnya. Bahkan paparan dari peristiwa partikel matahari yang lebih besar apabila tidak diiringi dengan perlindungan yang tidak memadai dapat menyebabkan efek samping yang parah.

Penemuan studi ini datang pada saat beberapa negara membuat rencana jangka panjang untuk mendaratkan manusia di bulan. Pada pekan lalu, NASA mengumumkan niatnya untuk mendaratkan wanita pertama dan sebagai manusia berikutnya yang mendarat di bulan pada 2024 sebagai bagian dari misi Artemis, yang bermaksud mengirim kru untuk tinggal dalam waktu jangka panjang.

Pajak Mobil Baru 0%, Gaikindo Klaim Pabrikan Siap Pangkas Harga

Sedangkan China berencana mengirim astronot ke bulan sebelum tahun 2036, kata seorang perwira senior dari People Liberation Army pada 2016. Pada saat itu, Letnan Jenderal Zhang Yulin, wakil komandan dari China Manned Space Programme, mengatakan akan memakan waktu 15 hingga 20 tahun bagi negara itu untuk mendaratkan astronot di permukaan bulan.

Penemuan ini juga penting untuk misi antarplanet di masa depan. Karena bulan tidak memiliki medan magnet pelindung atau pun atmosfer, radiasi di permukaan bulan serupa dengan radiasi di ruang luar angkasa antarplanet, terlepas dari pelindungan oleh bulan itu sendiri, menurut para ilmuwan.

“Pengukuran dalam studi ini dapat digunakan untuk meninjau dan mengembangkan model lebih lanjut yang dapat digunakan untuk misi di masa depan,” ujar Wimmer-Schweingruber,  “misalnya, jika misi berawak berangkat ke Mars, temuan baru ini memungkinkan kami memperkirakan secara terpercaya mengenai tingkat radiasi yang diantisipasi ke depannya.”

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Bisnis



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom