Pendidikan Vokasi, Cara Inka Cari SDM Perakit Kereta Mumpuni
Suasana kerja karyawan PT Industri Kereta Api (Inka) di lokasi workshop di Kota Madiun, Kamis (22/8/2019). (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN -- Intensitas kunjungan tamu dari luar negeri ke PT Industri Kereta Api (Inka) di Kota Madiun, Jawa Timur, pada beberapa tahun belakangan semakin tinggi. Pada Agustus 2019 lalu, rombongan dari negara-negara benua Afrika seperti Zimbabwe dan Angola berkunjung untuk melihat beragam produk dan workshop PT Inka.

Tidak hanya negara-negara Afrika, negara-negara di Asia dan Asia Tenggara juga sering datang ke perusahaan manufaktur kereta api pelat merah ini dalam beberapa bulan terakhir. Sebut saja seperti Bangladesh, Laos, Filipina, dan Kamboja.

Negara-negara itu ingin melihat produksi kereta dan melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan kereta di PT Inka.

Seperti pada Selasa (27/8/2019) lalu, sejumlah delegasi dari Laos berkunjung ke PT Inka di Madiun. Mereka berkeliling di bagian-bagian produksi kereta api, mulai dari bagian desain kereta, pemasangan bogie, pengelasan baja, sampai di bagian pengecatan kereta. Mereka pun diajak untuk mencoba kereta pesanan dari beberapa negara.

Baca Juga:

Laos Serius Ingin Beli Kereta Produksi Inka Madiun

PT Inka Segera Luncurkan Trem Bertenaga Baterai

Kunjungan dari berbagai negara ini menunjukkan satu-satunya industri manufaktur kereta api di Asia Tenggara tersebut mampu menarik minat dunia internasional. Kunjungan delegasi negara ini bukan tanpa hasil, ada beberapa negara yang akhirnya tertarik membeli kereta PT Inka.

PT Inka tahun ini benar-benar kebanjiran order. Selain masih menyelesaikan pesanan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebanyak 886 kereta. Inka juga harus menyelesaikan pesanan dari Bangladesh sejumlah kereta 250 kereta. Selain itu, mereka juga harus mengejar target garapan pesanan dari Filipina dengan nilai kontraknya Rp800 miliar. Untuk pesanan dari Filipina ini terdiri dari empat trainset KRD (kereta rel diesel), tiga kereta lokomotif, dan 15 unit kereta penumpang.

Dengan tren pertumbuhan bisnis yang positif di bidang perkeretaapian itu PT Inka saat ini sedang membangun pabrik baru di Kabupaten Banyuwangi. Pabrik yang dibangun di lahan seluas 83 hektare itu untuk meningkatkan kapasitas produksi. Untuk saat ini, pabrik di Madiun dianggap sudah tidak mencukupi kebutuhan produksi. Pabrik di Madiun hanya memiliki luas 22 hektare.

Direktur Utama PT Inka, Budi Noviantoro, mengatakan saat ini kebutuhan tenaga kerja di Inka terus bertambah. Hal ini melihat dengan jumlah produksi yang terus meningkat.

“Tetapi itu juga tergantung kebutuhan,” kata dia saat berbincang dengan wartawan di ruang kerjanya di Madiun, Kamis (12/9/2019).

Budi menyebut jumlah karyawan PT Inka saat ini sekitar 4.000 orang. Dari ribuan karyawan ini, paling besar pekerja di bagian produksi. Jumlah karyawan PT Inka akan terus bertambah, terlebih saat pabrik baru di Banyuwangi beroperasi.

Setidaknya pabrik baru akan membutuhkan tenaga hingga 3.000 orang. Nantinya, pabrik baru tersebut akan fokus mengerjakan orderan dari luar negeri.

Menurut Budi, permasalahan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu persoalan besar yang dihadapi industri skala nasional seperti PT Inka. Untuk menyiasati kebutuhan SDM itu, PT Inka mulai mendekati perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan. Melalui program pendidikan vokasi di bidang perkeretaapian itu, Budi yakin permasalahan kebutuhan SDM bisa terpecahkan.

Salah satu yang digandeng PT Inka untuk menerapkan pendidikan vokasi khusus perkeretapian yakni di Politeknik Negeri Madiun (PNM) yang berlokasi di Jl. Serayu No. 48, Kota Madiun. Melalui pola kerja sama, PNM membuka program studi khusus D-IV perkeretaapian. Prodi D-IV Perkeretapian ini dibuka sejak 2018.

“Saat ini kami membuat pendidikan vokasi, sehingga kalau butuh tenaga baru langsung bisa diambil. Salah satunya di Poltek Madiun [PNM] dan beberapa SMK di Madiun juga kita bina. Kalau tidak salah di Madiun ada dua SMK yang membuka kelas khusus perkeretaapian,” jelasnya.

Melalui program vokasi ini, nantinya lulusan SMK maupun PNM dari Jurusan Perkeretaapian bisa langsung kerja. Tenaga dan keterampilan mereka pun bisa langsung diserap sesuai kebutuhan industri.

“Setelah lulus kuliah mereka akan di tes dulu. Setelah lulus akan kita training di sini dan terus kerja,” katanya.

Khusus lulusan SMK dari Jurusan Perekeretaapian yang memiliki kemampuan lebih secara akademik juga akan diberi beasiswa khusus untuk melanjutkan di D-IV Perkeretaapian PNM.

Budi mengaku lega dengan adanya sekolah vokasi bidang pereketaapian di PNM. Minimal, persoalan SDM ahli di bidang perkeretaapian terselesaikan. Kurikulum pendidikan yang diberikan pun sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan industri. Tenaga-tenaga ahli dari PT Inka pun ikut mendidik mahasiswa dan memperkenalkan dunia perkeretaapian.

“Lulusan dari sekolah vokasi ini bisa dikatakan tenaga siap kerja. Untuk di PNM, hampir 60% mata kuliahnya berkaitan langsung dengan perkeretaapian dan praktik di Inka,” jelas dia.

Cara ini dianggap lebih efektif dibandingkan dengan merekrut tenaga dari lulusan non-perkeretaapian. Sebabnya, PT Inka harus memberikan training khusus. Selain itu, tenaga baru juga harus penyesuaian dengan iklim kerja industri. Padahal, kebutuhan tenaga produksi terus mendesak. Terlebih saat pesanan semakin banyak.

Langkah dari PT Inka yang ingin membuka pendidikan vokasi perkeretapian pun disambut hangat PNM. Direktur PNM, Muhamad Fajar Subkhan, menuturkan pendidikan vokasi perkeretaapian di PNM ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Kurikulumnya pun  sepenuhnya disesuaikan dengan kebutuhan industri.

Bahkan, Fajar mengklaim pendidikan vokasi perekeratapian PNM menjadi satu-satunya yang benar-benar menerapkan sistem vokasi. Artinya, sebagian besar pendidikan dipelajari di industri secara langsung. Sehingga mahasiswa lebih mendalam mengetahui kerja-kerja industri dan ilmu yang didapat benar-benar sesuai kebutuhan industri.

Kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan vokasi D-IV Perkeretaapian ini, pada semester I hingga II, mahasiswa akan belajar teori di kelas. Selanjutnya semester III hingga IV, mahasiswa akan belajar di kelas dan di PT Inka. Tiga hari belajar di kelas dan dua hari lagi belajar di PT Inka. Saat menginjak semester V hingga VI, mahasiswa belajar penuh di PT Inka. Setelah itu, pada semester VII hingga VIII, mahasiswa mengerjakan tugas akhir.

“Untuk tenaga pengajarnya, ya ada yang dari PNM, khususnya untuk materi di kelas. Sedangkan materi pelajaran praktik, pengajarnya ya dari praktisi dari PT Inka. Jadi materinya lebih banyak turun ke lapangan,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (2/10/2019).

Tujuan dari penerapan pendidikan vokasi ini, kata Fajar, tenaga-tenaga terampil di bidang perekeretaapian bisa tersalurkan dan sesuai kebutuhan industri. Untuk itu, perumusan kurikulumnya juga melibatkan PT Inka. Sehingga kebutuhan industri seperti apa yang diinginkan bisa dipelajari para mahasiswa.

“Tidak hanya mahasiswa, tenaga pengajar dari PNM juga ada program untuk pengenalan industri di PT Inka. Tujuannya supaya pendidik juga tahu iklim di dunia kerja seperti di PT Inka. Begitu juga para pendidik dari PT Inka, mereka juga diberi pembekalan tentang ilmu pengajaran dan pendidikan. Supaya mereka bisa mengajar dengan efektif dan bisa diterima mahasiswa,” katanya.

Meski prodi D-IV Perekeretaapian ini baru dibuka 2018, prodi ini mendapatkan respons positif dari masyarakat. Itu terlihat dari banyaknya jumlah pendaftar . Pada tahun ajaran 2019 ini, rasio pendaftarnya 1 kursi diperebutkan 30 orang. PNM hanya menyediakan 96 kursi .

“Tahun ini sudah angkatan kedua. Untuk angkatan yang pertama, saat ini sudah menjalani kelas di PT Inka. Di sana disediakan kelas khusus,” ungkap Fajar.

Mengenai ikatan dinas lulusan D-IV Perekeretaapian dengan PT Inka, sejauh ini memang belum ada klausul kerja sama. Sehingga para lulusan prodi ini pun harus mengikuti seleksi penerimaan karyawan dari PT Inka. Namun, ia berharap ke depan ada program ikatan dinas dengan PT Inka. Karena lulusan-lulusan ini secara spesifik disiapkan untuk industri manufaktur kereta api.

Salah satu mahasiswa semester III D-IV Perkeretaapian PNM, Muhammad Azro Dzikri, 19, mengatakan mulai belajar praktik di kelas PT Inka. Di kelas ini, ia mendapatkan mata kuliah gambar teknik serta pelajaran tentang sensor dan aktuator. Mahasiswa asal Malang ini juga mendapatkan materi praktik untuk menggambar dasar-dasar desain kereta.

“Semester pertama dan kedua, saya belajar full di kelas PNM. Baru semester ketiga ini, saya belajar di Inka. Memang terasa banget, karena teori yang kita terima di kelas langsung dipraktikkan di sini,” katanya.

Azro berharap ada program ikatan dinas dengan PT Inka sehingga lulusan dari prodi ini bisa bekerja sesuai dengan keahliannya. Apalagi, ilmu-ilmu yang diterima memang spesifik untuk industri manufaktur kereta api.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho