Kategori: Tips

Pendidikan Seks untuk Anak Sebut Alat Kelamin atau Pakai Kata Lain? Ini Panduan Ahli


Solopos.com/Danang Nur Ihsan

Solopos.com, SOLO -- Pendidikan seksual mungkin masih dianggap sebagai hal tabu oleh beberapa kalangan. Namun, tidak sedikit pula orang tua mulai terbuka kepada anak dan memberikan penjelasan tentang pendidikan seks.

Lantas bagaimana cara orang tua untuk menyampaikan pendidikan seksual kepada anak mereka khususnya yang sudah menginjak dewasa?  Sebagaimana dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, beberapa waktu lalu, UNICEF, WHO, sampai UNAIDS menekankan pentingnya pendidikan seks yang dilakukan orang tua terhadap anak mereka yang telah remaja.

Hal ini dilakukan agar mereka memperoleh informasi yang benar dan sehat. Tiga lembaga internasional itu bahkan memiliki panduan pendidikan seksual komprehensif bagi orang tua dan guru di sekolah.

Biar Tak Salah Beli, Ini Lho Arti 3 Warna Lingkaran pada Kemasan Obat

Setidaknya ada dua kategori pendidikan seks bagi remaja berdasarkan usia yaitu 12-15 tahun dan 15-18 tahun ke atas.

Usia 12-15 Tahun

Pada anak usia ini, rata-rata mereka sudah mengalami masa pubertas. Mereka mulai mengerti artinya cinta, kerja sama, persamaan gender dan kepedulian pada keluarga dan teman.

Pendidikan seksual yang perlu dijelaskan kepada mereka seperti memberikan pemahaman mengenai pertemanan yang terlalu dekat antara pria dan wanita bisa berakhir dengan hubungan seksual.

Hubungan seksual yang terlalu dini berisiko pada kesehatan reproduksi karena hamil di usia muda dan berdampak negatif pada psikologis anak. Misalnya, jika hamil saat masa sekolah, anak-anak cenderung malu meneruskan sekolah.

Orang tua juga bisa memberikan paparan mengenai pelecehan dan kekerasan dalam pertemanan bisa terjadi karena perbedaan gender dan labelisasi. Setiap orang bertanggung jawab melawan kekerasan, bias, dan intoleransi dalam hubungan pertemanan.

Mengapa Liburan Sebaiknya di Rumah Saja? Ini Penjelasannya

Pendidikan seksual bagi anak usia ini bisa menyinggung mengenai pernikahan. Misalnya pernikahan akan bahagia jika berdasarkan cinta, toleransi, menghargai, dan tanggung jawab.

Pernikahan di bawah 20 tahun rentan mendapat pandangan negatif dan berisiko untuk kesehatan. Orang tua juga bisa menjelaskan lebih detail soal anatomi tubuh dan organ reproduksi manusia.

”Hindari mengganti kata-kata yang dianggap tabu. Tetap gunakan kata vagina dan penis untuk menjelaskan alat vital manusia. Bagian ini juga bagian inti dalam pendidikan seksual untuk anak. Jelaskan juga secara ringkas proses pembuahan yang bisa menyebabkan seseorang hamil.”

Dari penjelasan itu, orang tua harus juga menerangkan tentang risiko kesehatan akibat hubungan seksual yang tidak sehat, misalnya karena terlalu dini. Jelaskan juga, bahwa berganti-ganti pasangan bisa sebabkan penyakit kanker bahkan HIV/AIDS yang mematikan.

Juga bisa menambahkan penjelasan sesuai peraturan agama dan kepercayaan yang Anda anut mengenai hal ini.

Usia 15-18 Tahun ke Atas

Pendidikan seksual bagi anak usia remaja ini kian luas karena mereka mulai mengerti aturan dan hukum terkait pelecehan dan kekerasan seksual. Perlu anak-anak diberi informasi bahwa ada aturan hukum bagi orang yang melakukan pelecehan.

Ingatkan juga bahwa pelaku kejahatan seksual tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Banyak organisasi dan institusi yang bisa membantu pendampingan bagi korban kekerasan seksual.

Begini Tips Bagi yang Ingin Memulai Karier di Bisnis Properti

Mereka mulai diberi penjelasan mengenai pernikahan bisa jadi hal yang sangat berharga dan penuh tantangan. Anak harus mengerti tanggung jawabnya terhadap sikap yang diambil dan keputusannya terkait pernikahan.

Orang tua bisa menyarankan anak untuk menunda menikah dan berhubungan seksual minimal hingga usia 20 tahun. Tanamkan juga bahwa siapa pun harus menolak kekerasan dalam hubungan pernikahan.

Share
Dipublikasikan oleh
Danang Nur Ihsan