Damar Tri Afrianto/Istimewa

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Jumat (3/5/2019). Esai ini karya Damar Tri Afrianto, dosen di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Sulawesi Selatan. Alamat e-mail penulis adalah dammar.tri.a@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Sejak gelombang pasang arus modernisasi pendidikan, kita seakan-akan pontang-panting dalam menjawab sisi humanitas era globalisasi. Pendidikan kita turut reaktif dan terbawa arus globalitas secara total tanpa menentukan karakter sendiri pendidikan seperti apa yang harus dikonstruksi dalam era yang kerap disebut milenial ini.

Permasalahannya tentu pada jenis pendidikan seperti apa yang harus dirumuskan dalam konstelasi peradaban global saat ini. Permasalahan tersebut perlu strategi dan kerja sama dari berbagai aspek dan sangat mungkin membutuhkan tahapan-tahapan dalam prosesnya.

Pendidikan dalam hal ini tidak hanya kita dudukkan sebagai sebuah institusi formal, namun perlu didudukkan pada konteks dan ekosistem dalam membentuk pendidikan itu sendiri. Artinya, komponen-komponen penunjang pendidikan perlu menjadi pertimbangan, seperti kurikulum, metode, keluarga, dan aspek sosialnya.

Inilah eksosistem pendidikan yang tidak hanya berurusan pada ruang ”kelas”. Kerangka dasar negara kita juga meletakkan fondasi kuat pada aspek pendidikan, terutama pada aspek mencerdasakan kehidupan bangsa.

Amanat ini perlu diisi dari berbagai sudut pandang agar pendidikan kita tidak hanya berhenti pada legalitas formal. Pembahasan ini semacam upaya mengajukan gagasan tentang pendidikan yang harus bertemu dengan dunia global, tentu arahnya tetap pada preferensi pembentukan manusia yang lebih humanis dan nasionalis.

Aspek yang perlu mendapat perhatian lebih dalam dunia pendikan era global yaitu kearifan lokal. Kearifan lokal ini menyinggung aspek yang lebih luas yaitu ”kebudayaan”. Pendidikan dan kebudayaan bukan sebuah entitas yang berdiri sendiri dan terpisah seperti yang terjadi saat ini.

Keduanya perlu diintegarasikan secara intim. Pendidikan kita seolah-olah lepas dari aspek kebudayaan, terutama kearifan lokal, sehingga arahnya tidak jelas. Indonesia yang kaya keragaman kebudayaan beserta kearifan lokal minim dieksplorasi dalam dunia pendidikan baik di tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Muatan Lokal

Kehadiran kebudayaan tidak lebih hanya mewujud pada konten muatan lokal atau pelajaran seni dan budaya dan terkadang jatuh pada perayaan seremoni kedaerahan, tidak lebih. Kesadaran tentang kebudayaan inilah yang perlu kita bangun dan dieksplorasi.

Kebudayaan cakupannya sangatlah luas, tidak hanya berkutat pada kesenian. Tidak menutup kemungkinan ranah kebudayaan dapat diintegarasikan pada segala bidang dan elemen pendidikan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Himar Farid yang mengutip  pendidikan di negara tetangga Singapura menjelaskan beberapa aspek atau metode pendidikan yang dapat membangun kultur lokal untuk menghadapi kondisi global, terutama pendidikan sejarah.

Aspek-aspek tersebut adalah reason (akal), kemampuan peserta didik dalam menggunakan bukti-bukti dalam membangun argumentasi;  enquiring (kemampuan menggali informasi); dan dislearning (kemampuan pembacaan kritis, dalam arti tidak menerima mentah-mentah apa yang sedang dihadapi).

Ini penting sebagai penangkal hoaks atau isu-isu kebohongan yang marak terjadi. Selanjutnya adalah balance yaitu keberimbangan dan keterbukaan diri dalam menerima segala macam bentuk pengetahuan. Implikasinya adalah membangun toleransi untuk menerima dari segala sudut pandang.

Aspek terakhir adalah empati, yaitu kemampuan menempatkan diri dan melihat dari perspektif dari luar dirinya. Indonesia dengan modal keberagaman sangatlah mampu mengembangkan pendidikan sendiri dengan dasar kekayaan budaya.

Apa yang telah dilakukan Singapura sebenarnya di Indonesia telah lebih dulu diterapkan sejak Ki Hajar Dewantara meletakkan fondasi pendidikan di negeri ini. Permasalahannya adalah penyelenggaraan pendidikan kita terasa memisahkan diri dari kebudayaan.

Pemerintah saat ini secara filosofis sebenarnya memberi dukungan melalui jargon ”kebudayaan menjadi platform pembangunan”. Jargon tersebut juga melahirkan sebuah undang-undang tentang pemajuan kebudayaan. Sekarang tinggal bagaimana menyusun strategi dan menempatkan kebudayaan dalam ranah pendidikan.

Integrasi

Dalam hal ini gagasan yang diajukan di antaranya bagaimana konten kurikulum yang telah dirumuskan perlu kiranya mengeksplorasi kearifan lokal. Sumber daya budaya perlu diidentifikasi melalui sebaran kurikulum, misalnya eksplorasi cerita rakyat pada konten pendidikan bahasa, ungkapan tradisional pada pelajaran kewarganegaran atau Pancasila dan sejarah.

Kearifan lokal makanan tradisional perlu dieksplorasi pada bidang ekonomi dan manajemen. Permainan tradisional perlu dieksplorasi pada bidang olahraga. Arsitektur budaya dieksplorasi pada ilmu-ilmu eksakta, misalnya matematika atau fisika, dan masih banyak kemungkinan bentuk-bentuk integrasi kebudayaan dalam pendidikan kita.

Ruang kelas sebaiknya tidak menjadi sumber utama tempat pendidikan. Mengunjungi museum, wisata budaya, serta apresiasi pada peristiwa-persitiwa sejarah dan kebudayaan perlu digalakkan.

Strategi-strategi tersebut tidak lain agar peserta didik menjadikan budaya sendiri sebagai inspirasi, bukan mencari inspirasi dari apa yang asing dan jauh dari sosial kultur meraka, seperti kebudayaan Barat. Diharapkan jalur pendidikan bukan hanya kanal untuk kecerdasan kognisi, namun jalur pengembangan nilai-nilai kebudayaan yang mereka miliki sebagai indentitas.

Bagaimana kabar pendidikan Indoensia ditentukan salah satunya sejauh mana kontribusi dalam membentuk sumber daya manusia yang humanis berdasarkan memori kolektif bangsa yang sarat nilai budaya. Jangan sampai pendidikan kita tercerabut dari realitasnya sendiri.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten