Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

 Paulus Mujiran (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Paulus Mujiran (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Kita baru saja merayakan peringatan Hari Kemerdekan Republik Indonesia. Dalam sejarah, pendidikan mempunyai sumbangsih besar dalam meraih cita-cita kemerdekaan. Pendidikan telah membuat bangsa ini lebih bermartabat, bahkan menjadi bangsa yang maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Jika kita tengok ke belakang sejarah lahirnya pendidikan nasional tidak bisa dilepaskan dari keadaan waktu itu. Saat anak-anak bangsa ini berada dalam keterbelakangan dan penindasan akibat penjajahan. Pendidikan menjadi alat ampuh melepaskan diri dari penindasan kaum penjajah. Rakyat merasakan betapa pengapnya berada dalam kungkungan penjajah. Penjajahan membawa penderitaan anak-anak bangsa.

Pendidikan nasional yang berkembang lebih dari seabad yang lalu tidak bisa dilepaskan dari organisasi pendidikan di era penjajahan dan tokoh-tokoh di dalamnya. Tonggak pendidikan itu dimulai ketika pada 1912 Ahmad Dahlan mendirikan perguruan Muhammadiyah. Kemudian disusul Ki Hajar Dewantara pada 1922 yang mendirikan perguruan Taman Siswa.

Para pendiri bangsa ini sadar, tanpa pendidikan, bangsa ini akan terus berada dalam jurang keterpurukan dan kebodohan. Budi Utomo pada 1908 menunjukkan kesadaran pendidikan itu. Dewasa ini, pendidikan ditantang untuk semakin berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.
Harus diakui, cita-cita besar pelopor pendidikan ini belum menjadi kenyataan. Praktik pendidikan yang hanya menekankan pada aspek kognitif atau pendewaan intelektual tidak memberikan ruang yang cukup bagi pemerdekaan anak didik.

Pendidikan yang dikelola dengan cara demikian menyebabkan para intelektual gagal memerdekakan. Dampaknya, orang bisa cukup terdidik, tetapi tidak memiliki empati terhadap orang lain. Kemampuan kognitif yang dinomorsatukan membuat orang tergila-gila mengejar gelar akademik, tetapi lupa substansi menyandang gelar itu. Dengan rasa bangga, orang memasang begitu banyak gelar dalam melekat pada namanya, tetapi tidak mampu mempertanggung jawabkan gelar akademik itu dalam dunia nyata.

Itulah sebabnya kita merasakan anak-anak semakin tampak lebih pintar dari generasi sebelumnya, tetapi kering perasaan kepada orang lain. Hidup bersama orang lain, toleransi, menghormati sesama yang sebenarnya kunci sukses hidup bersama orang lain, dan pemeluk agama lain nyaris tidak mendapatkan tempat.

Pendidikan membuat orang makin pintar namun kehilangan martabat sebagai manusia. Tata krama dalam pergaulan, bahasa sopan santun, etiket yang muda kepada yang tua kurang dikembangkan. Dalam aras tertentu, kita dapat mengatakan pendidikan sekarang tidak mempunyai tujuan.

Yang keliru adalah sistem yang menyebabkan sekolah menjadi pelarian hampir semua persoalan yang dihadapi anak. Sekolah menjadi mantra ajaib yang akan menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi anak. Sebagian besar orang tua beranggapan lebih baik menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah ketimbang belajar bersama-sama masyarakat. Sebagian orang tua percaya sekolah adalah obat mujarab atas semua persoalan. Dan di masyarakat anak-anak dianggap mudah teracuni oleh nilai-nilai yang tidak mendidik.

Di sekolah, orang tua mengharapkan semua seperti kepandaian intelektual, kepribadian, karakter, olah rasa, budi pekerti, dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka berharap dalam satu aktivitas, semua permasalahan pendidikan anak dapat diselesaikan.

Banyak orang tua mengirim anaknya ke sekolah dengan tujuan anaknya pintar. Namun, harapan itu sulit tercapai. Tekanan bertubi yang melanda sekolah dan kebijakan yang berubah-ubah menyebabkan sekolah hanya fokus pada pengembangan intelektualitas dan nyaris melupakan aspek lain dalam pendidikan.

Sekolah hanya berfungsi memenuhi banyak standar yang menjerat, tetapi melupakan tugas utamanya dalam mendidik. Sekolah mendorong semua komponen yang ada di dalamnya dan mentransfer ilmu pengetahuan ke otak anak. Sayangnya, isi otak anak ini tidak berimbang. Hanya lobus-lobus yang berisikan kecerdasan intelektual dan terisi penuh. Sementara tempat-tempat yang mengajarkan kesadaran peduli pada orang lain, sesama, dan ketakwaan kepada Tuhan, nyaris kosong melompong.

Ketika masuk dunia kerja, yang tersisa hanyalah teori-teori yang kaku dan kering. Pendewaan indeks prestasi untuk masuk dunia kerja terbukti tidak membentuk karakter. Selembar ijazah berisi angka-angka terbukti tidak menolong. Padahal pendidikan pada masa kini tidak cukup membekali anak didik dengan selembar ijazah.

Olah Batin

Dalam situasi yang diwarnai semangat individualistis dan mengabaikan orang lain, kita memerlukan praksis pendidikan yang menekankan olah batin. Misalnya keteladanan, kerja keras, sopan santun, serta keberanian untuk bertindak dalam menghadapi masalah terabaikan.

Kebijakan pendidikan harus lahir dari keprihatinan anak-anak bangsa. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang membuat bangsa ini merdeka. Di masa kini, pendidikan harus dikelola agar memerdekakan. Pendewaan intelektual semata menyebabkan pendidikan tidak berjiwa. Tidak ada energi untuk menggerakkan pendidikan ketika semangat dasarnya tak sempurna.

Pendidikan yang berjiwa mampu mengantar peserta didik meraih masa depan. Kekuatan dari sebuah praktik pendidikan adalah membuat orang lain menghargai hatinya sendiri sebagai pusat kehidupan.

Di tengah tantangan globalisasi, kita perlu memberi “rasa” atas pendidikan nasional ini agar kita tidak semakin dilecehkan atau dihinakan bangsa-bangsa lain. Apalagi di era revolusi industri 4.0, pendidikan semakin dituntut perannya. Pendidikan yang membentuk mental tahan banting menghadapi beragam persaingan yang terus melaju. Bukan mental lembek dalam menghadapi persaingan yang amat sengit.

Pendidikan seharusnya diselenggarakan dengan kesadaran terhadap nilai yang hendak dituju. Para pendidik harus tahu nilai-nilai apa saja yang bermanfaat bagi masa depan peserta didik.

Fokus persekolahan pada masa kini memang tidak semata-mata pada sekolah tetapi juga masyarakat. Kebijakan pendidikan harus lahir dari kehendak masyarakat dalam pendidikan bukan kehendak penguasa. Dengan begitu, pendidikan memiliki aras pikir yang mendewasakan peserta didik sekaligus mencerdaskan bangsa. Di hari kemerdekaan ini tugas utama negara adalah mendidik sekaligus menjadikan anak didik bermartabat sebagai bangsa.

Berita Terkait

Espos Premium

Kemarin Delta Bikin Heboh, Sekarang Covid-19 Ada Varian Mu, Harus Bagaimana?

Kemarin Delta Bikin Heboh, Sekarang Covid-19 Ada Varian Mu, Harus Bagaimana?

Pemerintah memperketat pengawasan dan karantina pelaku perjalanan ke Indonesia di bandara dan pelabuhan internasional guna mencegah varian Mu dari virus penyebab Covid-19 masuk ke Tanah Air. Kemunculan varian Mu mendorong pemerintah memperketat pengawasan dan karantina pelaku perjalanan internasional yang masuk ke Indonesia.

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga