Kegiatan belajar mengajar di sekolah (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO - Kesenjangan yang begitu besar antara pendidikan agama yang ada di daerah perkotaan dan pedesaan, apalagi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) berdampak mendorong peningkatan arus urbanisasi ke daerah perkotaan guna mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Balai Litbang Agama (BLA) Makassar dalam penelitian kualitatif menggunakan studi kasus berupaya untuk memotret pelaksanaan pendidikan agama di daerah 3T di Kawasan Timur Indonesia yang difokuskan pada standar pelayanan minimal di lima Provinsi yaitu Maluku (Kabupaten Buru), Kalimantan Timur (Kabupaten Berau), Kalimantan Utara (Kabupaten Nunukan), Sulawesi Utara (Kabupaten Talaud), dan Papua Barat (Kabupaten Sorong). Berikut penjabarannya di setiap daerah;

Kabupaten Buru

Penelitian yang dipublikasikan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI ini menemukan pelaksanaan pendidikan agama di Provinsi Maluku (Kabupaten Buru) khususnya pendidikan agama Kristen belum berjalan secara maksimal karena tidak memiliki guru agama Kristen pada sekolah sasaran.

Pengajaran hanya dilakukan oleh pendidik yang seagama dengan peserta didik berdasarkan instruksi dan penunjukan oleh kepala sekolah, Dalam proses pembelajaran pendekatan dan metode yang dipakai masih bersifat konvensional menggunakan fasilitas kegiatan keagamaan yang serba kekurangan.

Kabupaten Talaud

Pemenuhan pembelajaran pendidikan agama di Kabupaten Talaud Provinsi Sulawesi Utara juga masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran dan tenaga pengelola (guru) agama serta ruang pembelajaran. Begitupun pada aspek wadah dalam pengembangan SDM dan karier serta kesejahteraan guru agama (PAK dan PAI) yang berstatus honorer. Kemudian, dalam pengangkatan dan penempatan belum selektif tidak berdasar pada kebutuhan satuan pendidikan.

Kabupaten Berau

Ada empat hal yang yang menjadi temuan di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur, yang mendukung kompetensi guru dalam pembelajaran yang bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru di antaranya:

Pertama, guru agama harus mengenal peserta didik secara mendalam terutama karakter dan latar belakang orang tua mereka dalam pendidikan agama dan keagamaan di keluarga;

Kedua, guru agama diharapkan menguasai secara baik bidang studi pendidikan agama yang bersifat ilmu maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah;

Ketiga, guru agama harus melaksanakan dengan penuh tanggungjawab penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan;

Terakhir, pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan. Guru yang memiliki kompetensi akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional.

Kabupaten Sorong

Pelaksanaan pendidikan agama di Kecamatan Klaomono Kabupaten Sorong di antaranya mata pelajaran agama Islam, Kristen dan Katholik dengan menggunakan kurikulum KTSP dan K13 baik pada satuan pendidikan dasar maupun menengah. Proses pembelajaran pendidikan agama didasarkan pada standar proses pendidikan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan pengawasan.

Pelaksanaan Pendidikan agama di daerah setempat terhambat faktor kurangnya tenaga pendidik dan kependidikan, kurangnya media pembelajaran, dan minimnya akses sekolah untuk memperoleh berbagai informasi, telepon maupun akses internet.

Kabupaten Nunukan

Dominan satuan pendidikan di Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara di mana guru garis depan (GGD) yang ditugaskan tidak memiliki guru Pendidikan agama yang berstatus PNS. Namun proses pembelajaran pendidikan agama tetap berjalan meskipun diajar oleh guru yang tidak berkualifikasi dan tidak berkompetensi pendidikan agama.

Peranan GGD dalam meningkatkan proses pembelajaran pendidikan agama pun beragam. Dominan guru GGD tidak terlibat secara kurikuler dalam proses pembelajaran pendidikan agama pada satuan pendidikan di mana ditugaskan. GGD hanya aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan di sekolah, seperti pembinaan karakter religius, peringatan hari besar agama, serta kompetisi pendidikan agama.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten