Pendaki yang Petik Edelweis di Gunung Lawu Minta Maaf, Dihukum 100 Kali Push Up & 5 Tahun Dilarang  Mendaki
Pendaki yang nekat petik edelweis di Gunung Lawu, Karangnyar, Minggu (13/9/2020). (Facebook Gunung Lawu 3265 Mdpl)

Solopos.com, KARANGANYAR – Wanita pendaki yang viral di media sosial karena diduga memetik bunga edelweis beberapa waktu lalu mendatangi base camp Lawu di Candi Ceto, Rabu (16/9/2020). Kedatangaannya tak lain untuk meminta maaf secara langsung sekaligus melalui media sosial.

Dia membuat surat pernyataan dan dihukum tidak boleh mendaki Gunung Lawu selama kurun waktu tertentu.

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari akun Facebook Gunung Lawu 3265 Mdpl, Kamis (117/9/2020), mengunggah keterangan dan sejumlah foto si pendaki saat berada di base camp Lawu di jalur pendakian Candi Ceto. Unggahan itu diberi judul pendaki yang memetik edelweis di Lawu minta maaf dan menerima sanksi dari pihak base camp.

Jadi Tontonan, Wanita Cantik Asal Karanganyar Bersihkan Kali Pepe Solo Akibat Terjaring Razia Masker 

Salah satu sukarelawan yang saat itu bertugas di base camp Lawu jalur pendakian Candi Ceto, Dian Dwi Saputro, menyampaikan si pendaki datang didampingi perangkat desa di Kecamatan Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur. Dia juga didampingi orang tua dan sejumlah temannya.

"Kami klarifikasi tindakan itu. Dia mengaku mengambil bunga yang sudah patah, di bawah, dan sudah kering. Saat perjalanan turun ditegur pendaki lain. Mungkin dia [pendaki perempuan] capek. Saat direkam dan ditanyai itu jawabnya begitu," ujar Dian saat berbincang dengan wartawan, Kamis (17/9/2020).

Dian menyayangkan sikap si pendaki dalam video viral tersebut. Menurut dia, kasus itu tidak akan viral apabila si pendaki itu memberikan penjelasan saat ditanyai pendaki lain atau yang mengambil gambar. Pihak pengelola menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan dengan sejumlah pertimbangan.

"Mediasi secara kekeluargaan. Semoga tidak terulang lagi. Pelaku tidak diberi sanksi hukum tetapi membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan. Dia juga melakukan push up 100 kali dan tidak boleh mendaki Gunung Lawu maksimal lima tahun," ungkap dia.

Kemenkes: Scuba dan Buff Bukan Masker, Jangan Dipakai! 

Pembatasan akses pendaki itu ke Gunung Lawu akan ditinjau kembali dengan mempertimbangkan aktivitasnya di gunung. Dian menuturkan pendaki itu merupakan  pegiat alam di tempat tinggalnya. Saat kejadian, Minggu (13/9/2020), pendaki itu naik melalui jalur pendakian Jogorogo di Kabupaten Ngawi.

"Dia naik dari Jawa Timur tetapi lokasi kejadian yang divideo itu di sekitar pos lima jalur pendakian Candi Ceto. Saat kejadian itu dia mendaki bersama sejumlah teman lelaki. Menurut keterangannya itu pemimpin rombongan sudah mengingatkan agar tidak mengambil bunga. Tetapi [pendaki perempuan] tetap mengambil karena sudah kering," jelas dia.

Perhutani

Sementara itu, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Utara, Widodo, menyampaikan Perum Perhutani saat ini fokus mengambil tindakan pencegahan agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Widodo mengaku sudah berkoordinasi dengan Asper BKHP Lawu Selatan di wilayah Plaosan, Jawa Timur.

"Langkah pencegahan berkoordinasi dengan wilayah timur. Kejadian ini bisa dicegah bersama. Ada pencegahan dari seluruh jalur pendakian Gunung Lawu. Utamanya pemeriksaan tas pendaki yang mencurigakan saat turun. Barang disita. Pelaku diserahkan ke pihak berwenang dan berwajib," tutur Widodo saat dihubungi Solopos.com, Kamis.

Blusukan Hindari Razia di Karanganyar, Pengendara RX King Berpelat Palsu Ini Nyasar hingga Kaget Dicegat Polisi

Dia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian terhadap Gunung Lawu. Dia berharap semua pihak ikut membantu melestarikan alam dan mencegah perbuatan melanggar hukum di wilayah hutan Gunung Lawu.

"Kalau memang tahu ada yang berbuat tertentu [diduga melanggar hukum]. Tangkap dan serahkan kepada pihak berwenang [Perhutani]. Jangan main hakim sendiri,” tandasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom