Pendaftaran CPNS 2018 Ditutup, Kuota Guru Honorer Sragen Kurang 9 Orang
Pegawai BKPP Sragen memverifikasi berkas administrasi 132 orang pelamar CPNS, Selasa (16/10/2018). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Jumlah pelamar calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Sragen untuk 505 kuota hanya sebanyak 3.258 orang.

Jumlah pelamar tersebut di luar prediksi dan terhitung paling sedikit bila dibandingkan kabupaten/kota di Soloraya, Blora, dan Grobogan. Dari 505 kuota tersebut, ada 21 lowongan yang masih nol pelamar dan dari 32 kuota untuk tenaga honorer baru ada 23 pelamar.

Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Sragen Sarwaka didampingi Kabid Perencanaan dan Pengadaan Pegawai BKPP Sragen Dwi Agus Prasetyo saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (16/10/2018).

Sarwaka belum bisa menyampaikan data hasil verifikasi berkas administrasi 3.258 pelamar tersebut. Dia menyampaikan masih ada 132 pelamar CPNS yang masih proses verifikasi administrasi.

“Kemungkinan hasil verifikasi administrasi baru bisa disampaikan besok setelah mendapat persetujuan dari Bupati Sragen. Jadi pelamar yang memenuhi syarat [MS] dan tidak memenuhi syarat [TMS] belum bisa saya sampaikan,” ujar Sarwaka.

Sarwaka menjelaskan pada beberapa hari sebelum penutupan pendaftaran masih ada 47 kuota yang belum ada pelamarnya. Sampai penutupan pada Senin (15/10/2018) pukul 24.00 WIB, Sarwaka menyampaikan masih ada lowongan yang tidak ada pelamarnya, yakni dokter spesialis, disabilitas, dan guru honorer.

“Faktornya memang banyak. Salah satunya ketentuan indeks prestasi kumulatif [IPK] minimal 2,75, ada juga batasan usia maksimal 35 tahun. Tetapi juga ada satu lowongan itu dilamar lebih dari 200 orang," jelas Sarwaka.

Secara kumulatif, jumlah pelamar CPNS di Sragen memang paling minim bila dibandingkan daerah lain di Soloraya. Solo ada 7.400 pelamar, Karanganyar 5.378 pelamar, Wonogiri 6.614 pelamar, dan Grobogan ada 5.962 pelamar.

Dwi Agus Prasetyo menambahkan minimnya pelamar dokter spesialis itu disebabkan faktor umur karena jarang ada dokter spesialis yang umurnya di bawah 35 tahun. Awalnya sempat muncul wacana regulasi menambah batasan umur untuk dokter spesialis sampai 40 tahun.

Agus, sapaannya, mengatakan sampai hari terakhir pendaftaran regulasi tersebut tidak terbit. “Untuk verifikasi administrasi diselesaikan hari ini. Besok bisa maju ke Bupati kemudian diumumkan lagi,” tambahnya.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom