Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Busyro Muqoddas (kiri) dan mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjajanto (dua dari kiri), saat mengisi halaqah bertema Menyelamatkan Pesantren dan Nahdliyin dari Jebakan Korupsi di Ponpes Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (28/3/2016). (Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

Pencegahan korupsi dilakukan pondok-pondok pesantren nahdliyin di Jawa Tengah dengan menggelar halakah.

Solopos.com, SALATIGA – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) M. Busyro Muqqodas menilai pondok pesantren (ponpes) rawan terlibat tindak pidana korupsi. Bahkan, tak jarang banyak para koruptor yang menggunakan ponpes untuk praktek pencucian uang.

Pernyataan ini disampaikan Busyro Muqqodas saat tampil menjadi pembicara dalam halakah bertema “Menyelamatkan Pesantren dan Nahdliyin dari Jebakan Korupsi,” di Ponpes Edi Mancoro, Gedangan, Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (28/3/2016).

“Pondok pesantren itu rentan terjebak korupsi. Banyak para koruptor yang menggunakan ponpes sebagai tempat pencucian uang. Oleh karena itu ke depan, pihak ponpes harus lebih selektif dalam menerima sumbangan dari seseorang atau perusahaan. Memang menerima sumbangannya itu enggak masalah, yang jadi masalah dari mana asalnya,” ujar Busyro.

Selain Busyro, dalam halakah itu turut hadir pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang K.H.  Mustofa Bisri, mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Direktur Dikyanmas KPK Sujanarko, anggota Dewan Penasihat Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) K.H. Masdar F. Mas’udi, dan Alissa Wahid yang merupakan putri sulung Presiden ke-4 Indonesia, K.H. Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur.

Menjamur
Gus Mus, sapaan K.H. Mustofa Bisri, menilai kejahatan korupsi saat ini memang sudah menjamur dalam masyarakat Indonesia, tak terkecuali di pesantren. Ia bahkan mengaku sulit menanggulangi jebakan korupsi di lingkungan pesantren. “Para kyai itu tidak tahu kelakuan koruptor, tapi koruptor sangatlah tahu kelakukan para kyai. Kyai yang sifatnya husnuzan [tidak suka menuduh], suka menerima tamu dan selalu baik. Sifat seperti inilah yang acap dimanfaatkan oleh para koruptor untuk memanfaatkan para kyai,” tutur Gus Mus.

Oleh karena itu, Gus Mus pun berharap para kyai maupun pengelola pesantren dan madrasah lebih selektif dalam menerima tawaran dari pihak lain, terutama yang bersifat bantuan sosial. Ia berharap tawaran-tawaran yang menggiurkan itu jangan sampai membutakan mata hati para pengurus pesantren itu.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten