Kategori: Wonogiri

Pencarian Luweng di Wonogiri: Keruk Tanah Pakai Linggis & Bawa Alat Panjat Tebing


Solopos.com/Aris Munandar

Solopos.com, WONOGIRI – Pencarian mulut luweng di Wonogiri, Jawa Tengah, yang hilang selama puluhan bahkan seratusan tahun bukanlah perkara mudah.

Saryono, warga Desa Sumberagung, Pracimantoro, Wonogiri, merupakan salah satu sukarelawan pencari luweng. Ia mengatakan, ada beberapa hal tersulit dalam pencarian luweng.

Pertama, menentukan titik lokasi pencarian luweng. Kedua, jika sudah ditemukan, hal tersulit selanjutnya melakukan pelebaran terhadap mulut luweng.

"Pelebaran itu manual. Kalau alat berat hanya mengeruk hingga ditemumannya rongga luweng. Saat kami melebarkan rongga luweng menggunakan linggis, palu dan alat lainnya. Tentunya juga menggunakan alat safety," ungkap dia saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (2/3/2021).

Baca juga: Terawangan Sesepuh Jadi Kunci Pencarian Luweng di Wonogiri

Dikeruk Manual

Ia menuturkan, satu tim pencari luweng berjumlah 10 orang. Selebihnya, para sukarelawan bergantian dalam mencari luweng.

"Setelah dikeruk alat berat, kami kan memperlebar rongga atau mulut luweng. Itu dilakukan secara manual. Kami bawa alat-alat panjat tebing dan alat untuk safety," kata dia.

Ia mengatakan, pencarian luweng untuk mengatasi banjir di Pracimantoro itu atas inisiatif beberapa pihak, di antaranya anggota DPRD Wonogiri, Irwan Hari Purnomo dan Camat Pracimantoro, Warsito serta para Kepala Desa yang daerahnya dijadikan lokasi pencarian luweng.

"Peralatan kami, alat berat dan logistik sudah ditanggung beliau-beliau. Kami juga memasak di lokasi sendiri, jadi tidak menyusahkan masyarakat," kata Saryono.

Baca juga: Data 2020 Jumlah PSK di Solo 0, Yakin Valid?

Minta Petunjuk Sesepuh

Sebelum melakukan pencarian, ia bersama sukarelawan lain menemui sesepuh di desa setempat. Hal itu dilakukan untuk mengetahui keberadaan luweng yang dulu ada namun sekarang hilang.

"Keterangan dari para sesepuh desa itu kami kumpulkan. Kesimpulannya dicocokkan ke lokasi yang diyakini dulu ada luwengnya," kata dia.

Saryono menjelaskan, berdasarkan pencarian yang sudah dilalukan di beberapa lokasi, ia dan tim sudah bisa mengamati lokasi atau titik mana yang di dalamnya ada mulut luweng. Ada dua ciri utama yang di dalam tanah terdapat luweng, yakni adanya tumpukan bebatuan dan tanah hitam bercampur sampah.

"Setelah diberitahu sesepuh, tanah itu dikeruk atau digali menggunakan alat berat. Di kedalama tiga hingga lima meter itu ditemukan tanda-tanda adanya tanah hitam bekas sampah dan adanya tumpukan bebatuan atau tidak. Kalau ada ciri-ciri tersebut, proses pencarian dilakukan di titik itu," ungkap dia.

Baca juga: Kronologi Laka Karambol di Jalan Solo – Purwodadi: Motor Disenggol Truk – Truk Diseruduk Bus Rela

Ciri-Ciri

Ciri-ciri itu, kata dia, sudah terbukti. Saat mencari luweng di Dusun Joho Kidul, Desa Joho dan Dusun Pakem, Desa Sumberagung, dilokasi ada tumpukan batu dan tanah hitam. Pada akhirnya mulut luweng ditemukan.

Berbeda dengan pencarian di Dusun Dompol, Desa Petirsari. Karena tidak ditemukan tanda-tanda itu, mulut luweng tidak ditemukan.

"Mulut luweng itukan bentuknya lubang atau rongga. Dulu mungkin ditutup pakai batu sehingga ditemukan tumpukan batu. Kalau tanah hitam bekas sampah itu mungkin karena lubang banyak sampah yang masuk ke situ," ujar dia.

Baca juga: Bisnis Prostitusi di Kota Solo: Dari Jalanan Merambah ke Online

Ia mengatakan, pencarian luweng untuk menanggulangi banjir merupakan kegiatan baru bagi sukarelawan. Sebelumnya belum pernah melakukan pencarian luweng. Biasanya, sukarelawan mencari luweng untuk mendapatkan air bersih. Maka dibutuhkan langkah khusus untuk mengenali ciri-ciri keberadaan luweng.

"Saya tanya ke senior sukarelawan dan BPBD, memang belum ada rumus dan tata cara pencarian luweng yang pasti. Maka kami mencari hal-hal baru serta mengandalkan feeling. Dan buktinya ciri-ciri yang kami kenali bisa berhasil mendapat luweng yang hilang," kata dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita