PENATAAN PKL SOLO : Kena Parapet dan Jadi Tempat Mesum, Lapak 19 PKL Dikosek
ilustrasi (JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha)

Penataan PKL Solo, 19 lapak PKL di kawasan sekitar jembatan Jurug digusur.

Solopos.com, SOLO -- Sebanyak 19 pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di bantaran Sungai Bengawan Solo dekat jembatan Jurug dikosek Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Selain terkena pembangunan parapet, lokasi itu kerap dijadikan tempat mesum. Kepala Bidang (Kabid) Arif Darmawan mengatakan sterilisasi PKL dilakukan seiring mulai dikerjakannya pembangunan parapet oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Parapet akan dibangun dari Jurug hingga Mojo sebagai proyek pengendalian banjir di Kota Solo. “Ada 19 PKL di Jurug [bantaran Sungai Bengawan Solo]. Empat PKL sudah pindah, kini tinggal 15 pedagang yang belum meninggalkan lokasi,” kata Arif ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Selasa (15/11/2016).

Pemkot memberi tenggat bagi PKL untuk meninggalkan lokasi paling lambat akhir pekan ini. Pemkot akan menertibkan PKL jika pedagang nekat masih menggelar dagangan di bantaran Sungai Bengawan Solo.

Selain akan mengganggu pembangunan parapet, dia mengatakan keberadaan PKL di sana kerap dimanfaatkan pasangan berbuat mesum. Satpol PP bahkan menangkap basah satu pasangan yang tengah asyik mesum di pinggir bantaran Jurug.

“Kami langsung memberi pembinaan kepada pasangan itu,” katanya.

Selain PKL tersebut, pedagang dadakan yang menggelar dagangan di bawah jembatan Jurug juga menjadi sasaran Satpol PP. Dia tidak memberikan toleransi bagi pedagang yang berjualan di lokasi itu. Tempat itu masuk kawasan bebas PKL.

Larangan aktivitas PKL berjualan di bahu jalan, karena dapat mengganggu arus lalu lintas terutama di jalan-jalan utama Kota Bengawan. Selama ini, dia mengatakan para PKL itu kerap kucing-kucingan dengan petugas.

“Mereka langsung pergi ketika petugas datang, dan jualan lagi kalau petugas sudah pergi,” katanya.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo Subagiyo menawarkan para PKL itu pindah ke Pasar Puncangsawit. Menurut dia, pedagang harus pindah dari lokasi tersebut sehingga tidak menghambat proyek pembangunan parapet.

“Mau tidak mau pedagang harus pindah. Tidak boleh di sana lagi karena proyek parapet mulai dibangun,” kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom