PENATAAN PKL SOLO : 40 PKL Gerobak Kuning Tak Aktif Berjualan di Selter Sriwedari
Pedagang kaki lima (PKL) mendorong gerobak saat mengikuti kirab Boyongan PKL Citywalk di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Jumat (1/4/2016). Kirab boyongan tersebut diikuti 54 PKL yang direlokasi dari citywalk, Jl. Slamet Riyadi ke kawasan sisi selatan dan timur Stadion Sriwedari. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)

Penataan PKL Solo, dari 57 PKL, hanya 17 pedagang yang berjualan di selter Sriwedari.

Solopos.com, LAWEYAN -- Sebanyak 40 pedagang kaki lima (PKL) gerobak kuning yang mendapat jatah tempat di selter Sriwedari tak berjualan. Hanya 17 dari 57 PKL yang kini aktif memanfaatkan selter tersebut.

Salah satu PKL gerobak kuning, Paryono, 35, mengatakan tinggal sedikit PKL gerobak kuning yang aktif berjualan di dalam selter Sriwedari. Dia menghitung setidaknya ada 17 PKL yang masih aktif berjualan di selter setiap hari.

Sedangkan PKL lain berjualan tidak rutin, ada yang sepekan hanya sekali atau tiga kali berjualan. Paryono menyebut cukup banyak PKL yang berjualan di luar selter. (Baca: Baru Sebagian PKL Buka Dagangan di Selatan Stadion Sriwedari)

"Saya amati sekarang hanya ada 17 PKL yang aktif berjualan. Teman-teman lain ada yang berjualan di luar selter, berjualan di selter tapi tidak setiap hari, dan ada juga yang sudah tidak berjualan lagi. Kami mengalami masalah setelah pindah berjualan di selter. Kami kehabisan modal karena dagangan tidak laku. Selter masih juga sepi," kata Paryono saat ditemui Solopos.com, Selasa (7/2/2017) pagi.

Meski merugi, Paryono tetap berjualan di selter Sriwedari setiap hari agar tidak kehilangan pelanggan yang tinggal sedikit. Dia mengaku kerap tidak mendapatkan untung sama sekali dari berjualan minuman es di selter Sriwedari.

Bahkan, Paryono mengaku terkadang harus siap tombok uang untuk modal karena dagangan benar-benar tidak laku. "Kami yang masih bertahan di selter datang dengan modal nekat. Setelah dipindah dari city walk Jl. Slamet Riyadi, omzet saya turun drastis. Bahkan omzet saya berjualan di selter 10 kali lipat lebih sedikit dibanding omzet saat berjualan di city walk. Selter Sriwedari sepi. Makanan tidak bertahan lama. Kami merugi banyak jika dagangan tidak laku terjual," jelas Paryono.

Paryono mengaku alasan lain PKL gerobak kuning masih bertahan di Selter Sriwedari agar tidak dicoret oleh Dinas Perdagangan Solo. Apabila PKL tidak juga memanfaatkan selter hingga Jumat (10/2/2017), lanjut dia, Dinas Perdagangan bakal mencabut izin PKL berjualan di Selter Sriwedari.

Paryono menyebut ketentuan itu telah diberitahukan kepada PKL saat peresmian selter pada November 2016 dan melalui surat pemberitahuan dari Dinas Perdagangan yang disebar Januari 2017. "Kabar yang saya tangkap, Dinas Perdagangan tidak akan memberikan kompensasi lagi kepada para PKL yang tidak berjualan di selter hingga batas waktu 10 Februari besok. PKL akan langsung dicoret dari daftar pengguna selter. PKL sebenarnya serbabingung. Kami ingin berjualan, tapi tidak punya modal. Kami tidak bisa berjualan, tapi takut selter dicoret," jelas Paryono.

Kasi Pembinaan PKL Dinas Perdagangan Solo, Didik Anggono, mengatakan PKL tidak boleh lagi berjualan di jalanan setelah masuk selter Sriwedari paling lambat pada Jumat (10/2/2017). Apabila PKL nekat kembali berjualan di luar selter setelah batas waktu tersebut, Dinas Perdagangan tidak segan menertibkan mereka.

Dia berharap PKL bisa memahami kebijakan Pemkot Solo yang bertujuan untuk kebaikan bersama. "Keberadaan PKL di luar selter sekarang menyebar di banyak lokasi. Kebanyakan dari mereka di berjualan sekitar city walk Jl. Slamet Riyadi yang dekat dengan tempat berjualan mereka dulu. Mereka ada di sekitar Purwosari sampai Solo Grand Mall. Kami berharap mereka bisa masuk selter. Saya yakin selter lama-lama akan ramai dikunjungi pembeli apabila penuh pedagang," imbau Didik.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom