Penantian 6 Tahun, Jalan Penghubung 2 Dusun di Pracimantoro dan Giritontro Wonogiri Akhirnya Terealisasi
Warga Dusun Dungtemu, Desa Banaran, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, tengah bekerja bakti membuat jalan tembus untuk akses pertanian di desanya, Sabtu (12/9/2020). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI - Jalan penghubung antara Dusun Dungtemu, Desa Banaran, Kecamatan Pracimantoro dengan Dusun Grogol, Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Wonogiri, akhirnya bisa terealisasi. Jalan penguhubung ini akan sangat bermanfaat untuk warga.

Pada Sabtu (12/9/2020), warga Dusun Dungtemu telah melakukan kerja bakti untuk membuat jalan tersebut. Salah seorang warga Dungtemu, Warijan, mengatakan pembuatan jalan tersebut bakal digunakan untuk arus transportasi pertanian warga sekitar.

Di sisi lain, jalan tersebut juga dapat menghubungkan dua dusun, antara Dusun Dungtemu dengan Dusun Grogol, Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Wonogiri. Jalan yang dibuat tersebut tepat berada di wilayah perbatasan antara Kecamatan Pracimantoro dengan Kecamatan Giritontro. Wilayah perbatasan itu berjarak satu kilometer dari permukiman warga.

6.139 Pemilih Pemula Belum Rekam KTP-el, Ini Langkah Disdukcapil Sukoharjo

Setelah jadi, jalan itu akan memudahkan petani ketika panen. Jika biasanya hasil panen harus diangkut sejauh satu kilometer, nantinya petani sudah tidak harus bersusah payah seperti itu lagi. Karena jalan tersebut sudah bisa dilalui mobil, bahkan truk sekalipun.

"Nanti petani tinggal sewa mobil atau gerobak dibawa kesini untuk mengangkut hasil panennya. Jadi lebih dekat mengangkutnya. Wes ora rekasa, biayane murah," kata dia kepada Solopos.com di sela-sela kegiatan pembuatan jalan.

Awalnya, lebar jalan tersebut hanya 50 centimeter. Untuk dilewati motor cukup susah. Sehingga banyak warga yang lebih memilih mengangkut hasil penennya ke jalan yang bisa dilalui mobil sejauh satu kilometer.

Kini lebar jalan tersebut menjadi tiga meter. Jadi ada penambahan 2,5 meter. Adapun panjang jalan dari permukiman warga hingga wilayah perbatasan sepanjang satu kilo meter. Sepanjang 300 meter, yang berdekatan dengan permukiman warga sudah dikerjakan tahun lalu. Pada 2020 ini akan mengerjakan 700 meter.

Direncanakan 6 Tahun Lalu

Sementara itu, untuk bisa menghubungkan antardua wilayah, Dusun Grogol harus membuat jalan serupa yang penjangnya 300 meter. "Warga Grogol setuju dan menyanggupi akan membuat jalan juga. Sehingga bisa tersambung. Karena sebagian warganya juga mempunyai lahan di Dusun Dungtemu," ungkap dia.

Inisiatif untuk membuat jalan penghubung itu sudah direncanakan warga Dungtemu Wonogiri sejak enam tahun lalu. Namun ada berbagai kendala sehingga baru terwujud sempurna pada 2020.

Warijan mengaku rasa gotong-royong warga di desanya tersebut masih cukup kuat. Mereka rela sebagian tanahnya digunakan untuk akses jalan. Dalam pelebaran jalan itu tidak ada proses ganti rugi tanah. "Ini bisa dikatakan tanah hibah. Warga tidak ada yang protes. Selain itu juga tidak ada unsur pemaksaan," kata dia.

Warijan mengatakan sumber dana pembangunan berasal dari warga Dungtemu yang merantau di Jakarta, Surabaya dan wilayah lainnya. Saat itu ia mengutarakan rencana warga akan membuka jalan untuk akses pertanian di salah satu grup media sosial perantauan warga Dungtemu.

Setelah banyak yang merespon, satu pekan setelahnya, para peratau menyumbangkan bantuan. Bantuan berwujud uang, sebagian langsung berwujud meterial berupa batu dan pasir. Tanpa berfikir lama, warga bergegas untuk memulai membangun jalan pada 1 September 2020. "Yang mendanai warga perantau, warga di desa tinggal kerja bakti," ujar dia.

Diawali Ledakan, Pangkalan Elpiji dan Bengkel di Jl Sragen-Solo Ludes Terbakar

Tepat pada Sabtu, (12/9/2020), pembangunan jalan itu selesai dikerjakan. Meski hanya berbahan tatanan batu putih dilapisi tanah liat dan pasir, kontruksi jalan tersebut mampu dilalui kendaraan dengan muatan tiga ton. Dalam proses pengerjaan menghabiskan 33 rit batu. Satu rit terdapat 3,5 kubik.

"Jalan ini kami beri nama lintas timur mandiri. Timur berarti kawasan ini berada di wilayah Pracimantoro paling timur. Mandiri karena biayanya berasal dari swadaya masyarakat, bukan dari pemerintah. Jika nanti dapat bantuan jalan dicor blok, dengan senang hati kami menerimanya," kata Warijan.

Salah satu perangkat desa Banaran, Sutrisno, mengatakan jalan tersebut juga bisa dijadikan jalan alternatif warga Giritontro yang akan pergi ke Kecamatan Wuryantoro atau Eromoko. "Bisa hemat jarak tempuh sekitar 15 kilometer," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom