Penanganan Kanker Multidisiplin
Agus Jati Sunggoro

Solopos.com, SOLO -- Kanker merupakan penyakit yang sampai saat ini menjadi momok bagi pasien. Berdasarkan data International Agency For Research on Cancer (IARC) pada 2018, diperkirakan jumlah kasus kanker secara global mencapai 18 juta jiwa per tahun dengan jumlah kematian hampir mencapai 10 juta jiwa.

Di Indonesia diperkirakan jumlah kasus kanker baru sekitar 300.000 jiwa dengan 200.000 kasus kematian. Jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru, dan kanker usus besar (Globocan, 2018).

Kanker merupakan salah satu penyakit katastropik yang menyerap biaya yang sangat besar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Berdasarkan data BPJS Kesehatan, pengobatan kanker menghabiskan lebih dari Rp13,3 triliun pada 2014-2018.

Kanker muncul tidak hanya disebabkan satu faktor. Kanker terjadi apabila seseorang memiliki berbagai faktor risiko yang memicu. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat diubah seperti berat badan, diet/pola makan, aktivitas fisik, serta konsumsi rokok dan alkohol.

Selain itu terdapat beberapa faktor risiko yang tidak dapat diubah, di antaranya faktor genetik, usia, sistem imun, serta zat karsinogen. Terdapat beberapa langkah untuk mencegah dan menangani kanker. Salah satu cara mencegah kanker yang saat ini telah terbukti adalah vaksinasi, terutama untuk kanker yang disebabkan virus seperti kanker leher rahim karena virus HPV dan kanker hati karena virus Hepatitis B.

Saat ini vaksin HPV dan Hepatitis B tersedia secara luas. Peningkatan kesadaran tentang kanker dilakukan melalui berbagai media, termasuk Hari Kanker Sedunia dan pemeriksaan payudara sendiri yang telah dikenal semua kalangan. Langkah selanjutnya adalah dengan deteksi dini kanker.

Tak Dapat Ditangani Satu Dokter

Terdapat beberapa metode deteksi dini yang dapat dilakukan, misalnya pemeriksaan radiografi untuk kanker payudara, pemeriksaan PSA untuk kanker prostat, pemeriksaan pap-smear untuk kanker leher rahim, dan pemeriksaan kolonoskopi untuk kanker usus besar.

Deteksi dini secara genetika saat ini juga telah mulai dilakukan, misalnya deteksi gen BRCA1/2 pada kanker payudara. Secara umum, deteksi dini meningkatkan kemungkinan pasien dapat sembuh secara pintas. Apabila pasien didiagnosis dalam tahap lanjut atau stadium 4, kanker lebih susah disembuhkan.

Berbagai jenis kanker yang saat ini telah diketahui tentu tidak dapat ditangani oleh satu dokter. Penanganan kanker memerlukan tim multidisiplin atau multidisciplinary team (MDT) yang beranggotakan para dokter dari berbagai disiplin ilmu yang mempertimbangkan pilihan terapi dan perawatan yang tepat untuk pasien kanker.

MDT membuat suatu rencana terapi terbaik untuk pasien secara bersama dan bukan keputusan perorangan dokter spesialis. Hal ini perlu diketahui karena tidak ada model khusus untuk menangani semua jenis kanker.

Beberapa faktor memengaruhi model penanganan kanker di antaranya jenis kanker, fasilitas dan terapi yang dibutuhkan, keterlibatan profesional kesehatan dalam perawatan, ketersediaan fasilitas di rumah sakit, serta keputusan pribadi pasien.

Saat ini terdapat beberapa metode dalam menangani kanker, yaitu pembedahan untuk mengangkat jaringan kanker; radioterapi untuk menghancurkan sel kanker dengan radiasi; kemoterapi untuk menghancurkan dan memperlambat pertumbuhan sel kanker dengan obat;  terapi hormon untuk mengontrol sensitivitas kanker terhadap hormon tertentu; terapi target dengan menggunakan molekul khusus yang dirancang untuk melawan sel kanker; serta terapi terbaru imunoterapi yang merupakan obat khusus yang meningkatkan kekebalan tubuh sehingga tubuh pasien dapat melawan sel kanker.

Melibatkan Pasien

Berdasarkan berbagai metode tersebut, terdapat tiga subspesialis utama yang menangani kanker, yaitu dokter spesialis onkologi medis, bedah onkologi, dan radiologi onkologi. Penanganan kanker tidak hanya dilakukan oleh tiga subspesialis tersebut, melainkan melibatkan berbagai profesi dan ahli lain.

Profesi dan ahli lain itu termasuk dokter spesialis patologi anatomi dan radiologi yang mendiagnosis kanker, dokter spesialis bidang lain yang menangani kanker seperti dokter spesialis ginekologi onkologi, THT, paru, dan dokter spesialis lain yang mendukung, termasuk psikiater dan ahli gizi.

Pada tahap awal kasus kanker akan dibahas oleh MDT untuk penegakan diagnosis. Pasien dengan kecurigaan kanker yang dirujuk oleh dokter umum akan ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan onkologi medik dan dibicarakan dalam sebuah rapat tim yang mengikutsertakan dokter spesialis bedah onkologi, radiasi onkologi, dan spesialis terkait untuk langkah biopsi/operasi dan langkah penegakan diagnosis selanjutnya.

Setelah diagnosis kanker ditegakkan, MDT akan mendiskusikan kasus serta menyusun rencana penanganan serta pengobatan mulai dari sisi medis sampai psikologis. Apabila pasien memerlukan kemoterapi, pasien akan mendapatkan rangkaian pengobatan kemoterapi oleh dokter konsultan onkologi medis.

Apabila diperlukan pembedahan,  dokter onkologi medik akan berkoordinasi dengan dokter bedah onkologi atau dokter subspesialis bedah lain. Begitu juga apabila diperlukan radiasi maka koordinasi akan dilakukan dengan dokter radiologi onkologi.

MDT juga akan melibatkan pasien dalam pemilihan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien. Berbagai penelitian dan praktik klinis di luar negeri telah mendukung adanya sistem MDT. Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan, sistem MDT memiliki berbagai manfaat.

Kerja sebagai Tim

MDT dapat mempersingkat waktu diagnosis kanker pasien sehingga pasien dapat segera mendapatkan terapi dan penatalaksanaan yang sesuai (Boxer dkk, 2011). Terapi yang diberikan kepada pasien juga diketahui lebih komprehensif sehingga dapat menurunkan derajat tumor serta memberikan hasil yang lebih baik (Palmer dkk., 2011).

Dengan perencanaan yang lebih baik, kesintasan hidup pasien kanker yang dirawat oleh MDT lebih panjang (Bydder dkk, 2009; MacDermid dkk, 2009). Saat ini yang menjadi kendala di Indonesia adalah belum ada sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai.

Waktu dan kesibukan masing-masing dokter serta hubungan kerja yang kurang baik juga dapat menjadi kendala pembentukan MDT. Perawatan pasien kanker berbasis tim dan pembentukan MDT telah dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK 01.07/MENKES/14/2017 tentang Komite Penanggulangan Kanker Nasional, meskipun implementasinya belum tampak di rumah sakit secara umum.

Untuk menunjang perawatan pasien dengan lebih baik, paradigma yang dijunjung adalah adalah kerja sebagai tim, bukan era kerja individu atau one man one show.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho