SOLOPOS.COM - Kondisi lokasi tambang di perbukitan wilayah Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, Jumat (3/3/2023). Aktivitas penambangan di bukit yang menyimpan batuan purba itu sudah berhenti sejak awal Januari 2023. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Direktur CV Kadonyan, Tedy Saputro, sebagai pemegang izin penambangan tanah uruk tol di perbukitan kawasan Bayat, Klaten, mengakui menemukan sejumlah batuan diduga batu purba selama aktivitas penambangan di lokasi tersebut, Oktober-Desember 2022 lalu.

Batuan purba itu terutama ditemukan di kawasan Bukit Cakaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat. Batu-batu itu kemudian dikumpulkan dan dikoordinasikan dengan ahli geologi.

Promosi Beli Emas Bonus Mobil, Pegadaian Serahkan Reward Mobil Brio untuk Nasabah Loyal

Sebagai informasi, salah satu kawasan Bukit Cakaran beberapa waktu terakhir menjadi lokasi pertambangan tanah uruk untuk proyek tol Solo-Jogja. Aktivitas pertambangan dilakukan CV Kadonyan.

Kegiatan pertambangan tanah uruk dilakukan pada Oktober-Desember 2022 dan pada Januari 2023 aktivitas pertambangan sudah berhenti. Saat ini, aktivitas di lokasi itu tinggal penataan lahan, salah satunya dengan pengamanan tebing terjal bekas ditambang.

Lokasi pertambangan Bayat, Klaten, yang terdapat batuan purba itu berada di tanah milik warga yang dikerjasamakan dengan pengusaha. Tedy Saputro mengatakan aktivitas pertambangan sebelumnya hanya untuk pengambilan tanah yang digunakan untuk uruk tol.

Dia menjelaskan tidak ada penambangan batu di lokasi itu. Soal batuan purba, Tedy membenarkan selama kegiatan pertambangan berlangsung, ditemukan sejumlah batuan yang diduga batuan purba. Batuan itu berwarna agak kemerahan dan terdapat bintik-bintik kecil.

Tedy memastikan batu-batuan itu dirawat alias tidak dihilangkan. “Ditemukan ada beberapa batuan dan kami kumpulkan [di lokasi pertambangan]. Bentuk batuan warnanya agak merah dan ada bintik-bintik kecil di atas,” kata Tedy saat ditemui Solopos.com di lokasi pertambangan, Jumat (3/3/2023).

Tedy menjelaskan temuan batuan yang diduga batu purba di perbukitan Bayat, Klaten, itu sudah dikomunikasikan dengan para peneliti yang sering melakukan penelitian di kawasan perbukitan tersebut termasuk di sekitar lokasi pertambangan.

“Kami komunikasikan. Ada tim yang sering kali datang dari dosen, peneliti, dan mahasiswa hampir setiap pekan datang. Di sisi lain banyak yang merasa bersyukur karena batu [purba] yang selama ini terpendam di tanah muncul di atas dan itu menjadi bentuk penelitian baru mereka,” ungkap dia.

Berusia 100 Juta Tahun

Seperti diberitakan sebelumnya, ada aktivitas pertambangan di kawasan perbukitan purba di wilayah Kecamatan Bayat. Aktivitas pertambangan itu berada di Bukit Cakaran sisi barat yang berada di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, dan bukit di sisi utara Desa Kebon yang disebut warga setempat sebagai Gunung Konang.

Batuan yang menyusun bukit wilayah Bayat, Klaten, itu disebut-sebut merupakan batuan purba berusia sekitar 100 juta tahun dan bsia jadi merupakan yang tertua di Pulai Jawa.

Kepala Stasiun Lapangan Geologi UGM yang berada di Bayat, Didit Hadi Bariyanto, mengatakan sudah menanyakan ke berbagai pihak yang berkompeten terkait aktivitas pertambangan di perbukitan kawasan Bayat. Dari hasil konfirmasi Didit ke kontraktor maupun kementerian, tanah di Bayat dinilai memenuhi spesifikasi teknis tanah uruk untuk jalan tol.

Sementara tanah di tempat lain tidak sesuai. Di sisi lain, perbukitan di wilayah Bayat menyimpan batuan purba yang semestinya dilestarikan. Bukti perbukitan di Bayat termasuk Bukit Cakaran serta bukit di sisi utara Bukit Konang atau Gunung Konang di Desa Kebon, Bayat, menyimpan batuan purba yang langka tersingkap selama aktivitas penambangan.

Seperti di lokasi tambang uruk tol sisi utara Gunung Konang, tersingkap batuan grafit yang sangat besar, marmer, serta bekas magma purba yang diperkirakan berumur 30 juta tahun. Batuan itu dulunya tertutup tanah.

Terkait kondisi perbukitan purba yang terlanjur dikeruk untuk diambil tanahnya, Didit meminta kegiatan bisa dilakukan secara berhati-hati. Dia berharap batuan purba yang sudah tersingkap di lokasi tambang tak dirusak.

“Saya bukan antiproyek jalan tol karena itu penting bagi masyarakat. Tetapi, ketika melakukan pengambilan [penambangan], perlu bijaksana dalam mengambil termasuk jangan sampai ada masalah lingkungan,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya