(Ilustrasi) Hamparan tanaman cabai tumbuh persawahan Desa Pule, Kecamatan Selogiri/ Cahyadi Kurniawan

Solopos.com, WONOGIRI—Angka urbanisasi yang tinggi mengakibatkan Desa Bumiharjo, Nguntoronadi, kekurangan tenaga kerja produktif dan kreatif. Dampak utama tingginya urbanisasi adalah sulitnya mendapatkan petani dari kelompok usia muda. Kondisi itu memaksa Pemerintah Desa Bumiharjo, mengarahkan pengembangan potensi desa tak lagi ke pertanian padi melainkan ke tanaman hortikultura.

Jumlah warga Desa Bumiharjo yang merantau per November 2018 sebanyak 405 orang. Jumlah itu terdiri atas 180 laki-laki dan 225 perempuan. Dalam periode yang sama, Desa Bumiharjo memiliki penduduk 1.853 jiwa terdiri atas 935 laki-laki dan 918 perempuan. “Yang boro atau merantau kebanyakan anak muda lulus SMA/SMK lalu pergi bekerja di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagian ada yang bekerja di Malaysia,” kata Kepala Desa Bumiharjo, Sugiyanto, saat ditemui Espos di kantornya, Selasa (8/1/2019).

Kondisi itu terjadi bertahun-tahun. Kendati, belakangan ini sempat menurun lantaran di sekitar kawasan Bumiharjo berdiri industri tripleks, konfeksi, dan lainnya.

Dampak utama akibat tingginya urbanisasi , lanjut Sugiyanto, adalah sulitnya mendapatkan petani dari kelompok usia muda. Petani di Bumiharjo rata-rata berusia tua. Petani kini kesulitan mencari tenaga tanam. “Dulu, musim tanam mudah dapat tenaga. Sekarang, cari orang tanam sulit sekali. Ada kelompok penanam padi tapi harus antre lama agar kebagian tenaga,” ujar dia.

Teknologi tepat guna didatangkan ke Bumiharjo untuk mengatasi kendala minimnya petani. Namun, hasilnya nihil. Sebab, teknologi tidak diaplikasikan. Untuk menerapkan teknologi tepat guna, butuh orang muda yang memiliki daya serap atau kemampuan memahami tinggi. “Di desa kami kebanyakan orang tua. Walaupun dilatih dan didatangkan ahli, daya tangkap orang tua lebih rendah ketimbang anak muda,” beber Sugiyanto.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten