Pemkot Solo Janji Tingkatkan Pengamanan Singosaren Plaza
Kamera CCTV merekam tiga pelaku pencurian di Singosaren Plaza, Solo, Senin (22/10/2018). (Instagram ICS_Info Cegatan Solo)

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan menambah sistem pengamanan di Pasar Singosaren atau Singosaren Plaza pascapembobolan 11 konter handphone (HP) oleh sekawanan pencuri, Senin (22/10/2018) pagi.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Solo Subagiyo mengaku kejadian pencurian itu salah satunya disebabkan kelalaian petugas keamanan.

“Waktu itu dua petugas jaga ketiduran setelah patroli di pos keamanan di dalam pasar,” kata dia ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Selasa (23/10/2018).

Untuk pengamanan Pasar Singosaren selama ini Pemkot mengerahkan enam petugas yang terbagi dalam tiga sif. Masing-masing sif dijaga dua petugas keamanan. Selain petugas keamanan, Pemkot juga melengkapi keamanan Pasar Singosaren dengan delapan unit kamera CCTV.

“Kami akan usahakan untuk tambah satu personel petugas keamanan lagi. Jadi kalau ada yang tertidur, yang lain bisa patroli,” katanya.

Selain itu, Pemkot akan membangun satu pos keamanan di luar pasar. Saat ini posisi pos keamanan hanya berada di dalam pasar sehingga pemantauan dari luar pasar kurang maksimal.

Sesuai rencana, pos keamanan akan dibangun antara sisi barat dan selatan pasar. Harapannya, petugas keamanan dapat memantau beberapa sisi pasar lebih detail. Sedangkan dari sisi timur-selatan, pemantauan keamanan sudah dijaga aparat kepolisian.

“Kami juga menambah pintu teralis di sisi barat. Karena melihat rekaman kamera CCTV saat kejadian, pelaku berhasil masuk lewat pintu tanpa teralis itu,” katanya.

Subagiyo mencatat sejak 2009 ada tiga kali kasus pencurian di Pasar Singosaren. Selama ini sistem pengamaman di Pasar Singosaren sudah sesuai standard operating procedure (SOP) pasar, di antaranya memasang kamera CCTV dan menempatkan petugas keamanan.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo sebelumnya sambat pendapatan dari penarikan retribusi pasar dianggap tidak sebanding dengan biaya operasional. Atas kondisi itu, Pemkot mengajak seluruh warga lingkungan pasar untuk menjaga kebersihan hingga keamanan pasar.

Rudy sapaan akrabnya mencontohkan pendapatan dari pengelolaan Pasar Jebres tidak lebih Rp140 juta. Sedangkan operasional biaya kebersihan, listrik, pemeliharaan dan lain sebagainya lebih dari angka itu, bahkan dua kali lipat.

Jika dihitung-hitung, Pemkot selalu merugi dalam pengelolaan pasar tradisional. Dari sektor pendapatan pasar, Pemkot menerima dana Rp20 miliar setahun. Namun biaya operasional bisa mencapai Rp60 miliar.

“Jadi jangan mentang-mentang sudah membayar retribusi, lalu merasa seenaknya saja. Tidak menjaga kebersihan dan keamanan tempat jualan dan sebagainya,” katanya.

Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom