Pemkab Sragen Kunci Sawah Lestari 42.286 Hektare, Dilarang Alih Fungsi

Pemkan Sragen berkomitmen menjadi lumbung dengan mengunci sawah lestari seluas 42.286 hektare yang tidak bisa dialihfungsikan.

 Dua petani Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, memasang papan pengumuman bahwa sawah mereka tidak dijual, Selasa (14/7/2020). (Solopos.com/Moh Khodiq Duhri)

SOLOPOS.COM - Dua petani Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen, memasang papan pengumuman bahwa sawah mereka tidak dijual, Selasa (14/7/2020). (Solopos.com/Moh Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Kabupaten Sragen merupakan salah satu lumbung padi nasional dengan produksi beras tertinggi kedua di Jawa Tengah (Jateng). Pemkab Sragen berkomitmen untuk menjaga status itu dengan mempertahankan sawah lestari seluas 42.286 hektare.

Sawah lestari atau kawasan pertanian pangan berkelanjutan (KP2B) tersebut dilarang untuk perumahan atau permukiman. Apalagi untuk industri. Lahan hijau seluas 42.286 hektare itu dikunci sebagai sawah lestari.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Sebagai gantinya, Pemkab Sragen sudah menyiapkan kawasan permukiman yang terbagi menjadi dua kawasan. Yakni kawasan permukiman perdesaan seluas 21.761 hektare dan kawasan permukiman perkotaan seluas 13.432 hektare. Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2020 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2011-2031.

Kabid Pertanahan dan Tata Ruang Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen, Yunika Purwaningrum, menerangkan Perda RTRW merupakan proyeksi yang disiapkan untuk menyikapi pertumbuhan penduduk pada 20 tahun ke depan. Dia menyebut pertumbuhan penduduk Sragen rata-rata per tahun di angka 1,26%.

Baca Juga: Karangmalang Jadi Primadona Bagi Pengembang Perumahan di Sragen

Pertumbuhan penduduk itu, ujar dia, dianalisis dan diproyeksikan dengan menyiapkan pengembangan kawasan, baik kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan pariwisata, hingga mempertahankan sawah lestari.

“KP2B atau sawah lestari itu tidak bisa untuk alih fungsi lahan. Kami mengawasinya lewat perizinan yang ketat dalam alih fungsi lahan,” jelas Yunika, saat berbincang dengan Espos, Rabu (3/8/2022).

Pengembangan permukiman diarahkan ke Sragen bagian selatan. Mulai dari Sragen kota hingga Karangmalang dan seterusnya. “Kalau arahnya ke utara itu mendekati Bengawan Solo, sehingga berpotensi banjir,” sambungnya.

LSD Tak Saklek

Kebijakan lahan sawah yang dilindungi (LSD) dari pemerintah pusat yang sempat ramai, kata Yunika, sekarang sudah ada solusinya. Dia menerangkan setiap ada permohonan alih fungsi lahan pada lahan yang masuk dalam LSD maka harus dibahas melalui Forum Penataan Ruang (FPR).

Jika dalam kajian FPR ternyata dibolehkan adanya alih fungsi lahan, maka permohonan alih fungsi lahan di dalam LSD bisa dilakukan.

Baca Juga: Beberapa Penghuni Rusunawa Cabean Salatiga Minta Keringanan, Karena Ini

“Sampai sekarang ada 10 permohonan [alih fungsi] LSD yang masuk. FPR ini terdiri dari unsur pemerintah dan nonpemerintah. Unsur nonpemerintah ini berasal dari akademi Asosiasi Sekolah Perencana Indonesia, praktisi dari Ikatan Ahli Perencana Indonesia, tokoh masyarakat, dan BPN [Badan Pertanahan Nasional],” ujarnya.

Kabid Perumahan Disperkimtaru Sragen, Puji Lestari, menyampaikan munculnya perumahan baru di kawasan permukiman itu diatur lewat perizinan yang diawali dengan site plan. Dia menerangkan dalam site plan itu diatur tentang peruntukan rumah, ruang terbuka hijau (RTH), fasilitas umum (fasum), dan fasilitas sosial (fasos).

Selain itu jalannya pun, ujar dia, juga diatur minimal selebar enam meter dengan pertimbangan ketika terjadi kedaruratan, mobil pemadam kebakaran bisa masuk dan bersimpangan.

Baca Juga: Rumah Subsidi dan Non Subsidi, Begini Perbedaannya

Site plan itu bagian dari penataan perumahan. Kalau fasilitas umum [fasum] dan fasilitas sosial [fasos]-nya 30%-35% maka ruang terbuka hijau (RTH)-nya cukup 15% dari fasum-fasos. Bila fasum-fasosnya di atas 35% maka RTH-nya hanya 10% dari fasum-fasos. Kemudian bila fasum-fasosnya kurang dari 30% maka RTH-nya harus 20%,” ujarnya.

Puji menerangkan pertumbuhan perumahan yang tinggi terjadi di wilayah Karangmalang. Kemungkinan hal ini disebabkan adanya perumahan bersubsidi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi juga.

Dia menyebut dengan perumahan bersubsidi itu rumah tangga baru bisa memiliki rumah. Karena hanya Rp150 juta bisa mendapatkan satu unit rumah tinggal.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      + PLUS Dilema Hak Asasi Manusia, Destinasi Wisata Prioritas, dan Investasi

      Konflik antara pelaku wisata di Taman Nasional Komodo dengan aparat kepolisian pada Senin (1/8/2022) adalah akibat kebijakan pemerintah yang mementingkan urusan investasi dibanding mendengar aspirasi masyarakat yang langsung terdampak kebijakan.

      Berita Terkini

      Upacara Detik-Detik Proklamasi di Karanganyar Digelar di Alun-Alun

      Pemkab Karanganyar memastikan menggelar upacara detik-detik proklamasi di Alun-Alun Karanganyar.

      Karanganyar Imbau Peternak Jaga Kebersihan Kandang Babi, Ini Tujuannya

      Pemkab Karanganyar mengimbau peternak babi memperhatikan kebersihan kandang mencegah penularan wabah PMK

      Kenapa Orang Solo Doyan Makan Sate Kambing & Tengkleng?

      Tahukah Anda kenapa orang Solo doyan makan aneka olahan kuliner kambing?

      Wow, Ada 9 Pasangan Suami-Istri di Sragen Maju di Pilkades 2022

      Ada 18 orang yang merupakan pasangan suami-istri yang maju dalam Pilkades serentak di Sragen.

      Kabar Duka, Kades Gladagsari Boyolali Meninggal Dunia

      Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama sepekan, Kades Gladagsari Edy Suryanto meninggal dunia di rumahnya.

      Ada Senjata Api di Daftar Aset Pemkot Solo, Ini Kenyataannya

      Laman resmi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Kota Solo menyebutkan ada dua senjata api yang menjadi aset Pemkot Solo.

      Karyawan Pabrik Pergoki Api Menyala dari Rumah Warga Jetak Sragen

      Sumber api diduga berasal dari obat nyamuk yang menyalat kain di sekitar lokasi.

      Ditinggal Pergi, Dapur Rumah Warga Mandong Klaten Terbakar

      Kapolsek Trucuk AKP Sarwoko menjelaskan saat kejadian pemilik rumah tidak berada di tempat

      Sego Trondol Mbok Kam Boyolali Rp5.000, Beri Penasaran Pengunjung

      Sego Trondol Mbok Kam itu mirip nasi kucing dengan menu bandeng, mi, sambal, dan cap jay.

      Dari Pecandu Kini Jadi Pengedar Narkoba, Warga Baki Dibekuk Polisi

      Tersangka sudah membeli obat-obatan terlarang sebanyak lima kali melalui online.

      Vaksinasi PMK di Sukoharjo Masuki Dosis Kedua

      Jumlah vaksin dosis kedua yang diterima Kabupaten Jamu sebanyak 2.100 dosis. Dari jumlah tersebut telah disuntikkan 1.000 dosis.

      KKN UGM Rintis 3 Desa Wisata di Sambungmacan Sragen, Ini Lokasinya

      3 Desa yang dirintis menjadi desa wisata di Kecamatan Sambungmacan, Sragen memiliki potensi yang berbeda untuk mendatangkan pengunjung menikmati desa wisata.

      Inilah Daftar 19 Desa di Sragen yang akan Menggelar Pilkades

      Pilkades serentak akan berlangsung 25 Oktober 2022

      Cuaca Sukoharjo Selasa 9 Agustus Ini, Cerah Berawan Siang Hari

      Berikut ini prakiraan cuaca wilayah Sukoharjo secara lengkap untuk hari ini, Selasa (9/8/2022).

      Bukan Magic, Ini Sebab Kebo Bule Keraton Solo Warnanya Putih Kemerahan

      Meski kerap dikaitkan dengan hal-hal magis, warna kulit pada kebo bule seperti yang ada di Keraton Solo bisa dijelaskan secara ilmiah.