Pemkab Sleman Tak Gelar Operasi Cabai Meski Harga Melambung, Alasannya Biar Petani Untung
Ilustrasi pedagang cabai. (Antara)

Solopos.com, SLEMAN -- Harga komoditas cabai dijual di atas Rp100.000 per kg di sejumlah wilayah termasuk di Sleman, DIY. Kondisi ini dinilai menguntungan kalangan petani cabai di masa pandemi. Oleh karenanya, Pemkab Sleman tidak akan menggelar operasi pasar.

Kenaikan harga cabai terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Harga cabai melonjak sejak akhir tahun 2020 hingga awal tahun ini karena permintaan pasar yang tinggi. Harga cabai secara sempat turun hingga akhir Januari, namun secara bertahap kembali naik mulai pertengahan Februari hinggi Maret ini.

Ketua Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Sleman, Inoki Azmi Purnomo, mengatakan berdasarkan informasi yang ia terima, kenaikan harga cabai saat ini lebih dipengaruhi hasil panen yang tidak baik seiring musim penghujan. "Info yang kami terima karena daerah sentra cabai panennya kurang bagus," katanya saat dikonfirmasi Harian Jogja, Kamis (4/3/2021).

Baca juga: Baru 30% Hotel dan Restoran di Kulonprogo Tergabung di PHRI, Ini Dampaknya

Selain hasil panen yang tidak menggembirakan di sentra pertanian cabai, kata Inoki, biaya operasional naik. Di mana harga pupuk dan sarana produksi setiap tahun naik sehingga memengaruhi biaya produksi petani.

Tak Diinginkan Petani

Meski saat ini lonjakan harga cabai cukup menguntungkan petani, sambung Inoki, hal itu bukan hal yang diinginkan petani. Para petani cabai lebih suka jika harga cabai menguntungkan secara berkesinambungan. "Yang diharapkan petani harga yang menguntungkan secara kontinyu dan bukan fluktuatif kadang tinggi dan kadang sangat rendah," katanya.

Untuk mempertahakan harga komoditas ini agar tetap menguntungkan petani, PPHPM setiap hari menggelar lelang cabai di Bunder Purwobinangun Pakem. Kegiatan lelang cabai PPHPM bekerja sama dengan banyak pedagang agar petani memperoleh harga terbaik. "Setiap hari kami melaksanakan lelang cabai dengan aplikasi secara online. Kalau lembaga kami yang tiap hari melaksanakan lelang cabai rata-rata saat ini 1,5 ton perhari," ujarnya.

Baca juga: Enaknya, Warga Surabaya Peserta BPJS Kesehatan Bisa Berobat di Puskemas Mana Pun

Di Sleman, katanya, sentra pertanian cabai lumayan banyak. Para petani cabai tersebar di sejumlah kapanewon [kecamatan]. Mulai Kapanewon Pakem, Turi, Tempel, dan Sleman. Selain itu, para petani cabai juga tersebar di Ngemplak, Kalasan, Ngaglik dan Seyegan. Hanya untuk tempat lelang berlokasi di PPHPM di Bunder.

"Kalau di Sleman petani tidak menanam cabai secara serentak dalam hamparan luas. Kondisi berbeda di luar Sleman di mana centra cabai kabupaten lain petaninya menanam secara serentak dalam hamparan yang luas," terangnya.

Awan Turseno adalah salah seorang petani cabai di Pakem. Ia mengaku lahan pertanian cabainya masih tergolong kecil. Rabu (3/3/2021) kemarin ia sudah memanen semua cabainya. "Ya hasilnya paling 15-17 kilogram. Ya lumayan, panen sitik tapi regane selangit," katanya.

Baca juga: Setahun Pandemi Covid-19, Begini Kondisi Sektor Industri di Boyolali

Minimnya Pasokan

Terpisah, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Haris Martapa, mengatakan saat ini harga cabai masih tinggi. Selain adanya pergantian musim, harga cabai naik akibat berkurangnya pasokan di pasaran. "Pasokan berkurang karena faktor cuaca. Banyak tanaman cabai yang terkena patek atau antraknosa," ujar Haris.

Pada Februari kemarin, kata Haris, sebenarnya petani panen cabai. Lantaran permintaan cabai masih tinggi sementara stoknya sudah mulai habis, maka terjadi kenaikan harga.

Ia mengatakan kebutuhan cabai rawit di Sleman sekitar 178.000 kg per bulan. Selama tahun lalu, stok cabai rawit surplus dan tidak mengalami lonjakan harga. "Harga di pasar lelang saat ini juga sudah di atas 100.000 untuk cabai rawit,"ujarnya.

Baca juga: Airasia Buka Lini Usaha Layanan Pesan Antar Makanan, Diantar Pakai Pesawat?

Meski terjadi kenaikan harga untuk komoditas ini, Haris menegaskan jika Pemkab tidak akan melakukan operasi pasar. Selaih bukan termasuk barang kebutuhan pokok dan penting, komoditas cabai masih bisa dipasok dari daerah lain.

"Tidak ada rencana operasi pasar karena itu bukan barang pokok penting. Saat ini untuk stok cabai untuk level nasional khususnya Pulau Jawa mengandalkan stok dari Jawa Timur," kata Haris.

Sumber: harianjogja.com



Berita Terkini Lainnya








Kolom