Tutup Iklan
Patung legenda ular naga Baru Klinting yang dibangun di pinggir Telaga Ngebel Ponorogo. (Solopos/Abdul Jalil)

Solopos.com, PONOROGO -- Pemerintah Kabupaten Ponorogo mengaku kesulitan untuk mengembangkan kawasan wisata https://madiun.solopos.com/read/20151004/516/648633/wisata-ponorogo-ini-dia-cerita-mistis-seputar-telaga-ngebel">Telaga Ngebel. Selama ini kawasan wisata ini dianggap stagnan dan kurang dilirik wisatawan dari luar daerah. 

Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, mengatakan Telaga Ngebel kurang diminati wisatawan luar daerah karena akses yang tidak representatif. Tidak ada akses yang menghubungkan Ponorogo ke kota lain menjadi salah satu kendala. 

"Misal ada wisawatan yang selesai berkunjung dari Solo. Rata-rata mereka langsung kembali ke Jakarta. Kalau kita bisa membangun konektivitas antara Solo-Madiun-Ponorogo-Trenggalek-Nganjuk, itu [kawasan wisata Telaga Ngebel] tentu akan bisa dikembangkan," kata Ipong seusai mengikuti prosesi larungan di Telaga Ngebel, Minggu (1/9/2019). 

Bupati agak lega dengan rencana pembangunan Lingkar Wilis yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Proyek Lingkar Wilis ini menjadi salah satu dari tiga skala prioritas pembangunan Pemprov Jatim periode ini. 

"Lingkar Wilis ini kan di sekitar Gunung Wilis ini. Itu nanti kalau sudah terlaksana. Ya untuk konektivitas bisa terpenuhi dan pengembangan wisata akan lebih mudah," jelasnya. 

Sebenarnya, kata Ipong, kawasan Telaga Ngebel ini sudah berkali-kali ditawarkan kepada pemerintah pusat supaya dijadikan salah satu wisata andalan nasional. Seperti kawasan wisata Bromo, Pulau Bali, Danau Toba, hingga Bunaken. Tetapi, saat perwakilan pemerintah pusat datang ke Telaga Ngebel, disampaikan belum memenuhi syarat untuk bisa dijadikan wisata andalan nasional. 

Salah satu alasannya yakni karena akses transportasi yang ada di kawasan wisata cukup sulit. Kawasan wisata ini hanya bisa diakses dengan jalur darat. Sedangkan jalur darat belum terkoneksi secara penuh. 

Pada tahun ini, pemkab telah menganggarkan senilai Rp5 miliar untuk pelebaran jalan menuju kawasan Telaga Ngebel. Tetapi, pelebaran jalan ini terkendala izin dari pemerintah provinsi terkait izin pinjam pakai kawasan hutan. 

Selain itu, pemerintah juga bakal menertibkan warung-warung yang berada persis di pinggir telaga. Setidaknya ada 22 warung di kawasan telaga.

"Kami akan menertibaknya dengan cara persuasif. Kami akan berbicara dengan pemilik warung, akan dicek legalitasnya, akan dicek bayar pajar atau tidak, dan bangunan warungnya itu ada izinnya atau tidak. Setelah itu baru bicara sama mereka mau dipindah apa tidak," ujar Ipong.

Tentang Telaga Ngebel

Menurut wikipedia.com, Telaga Ngebel adalah https://madiun.solopos.com/read/20190117/516/965695/60.000-benih-nila-tombro-disebar-di-telaga-ngebel-ponorogo">danau alami di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Kecamatan Ngebel terletak di kaki gunung Wilis. Telaga Ngebel terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Ponorogo atau yang terkenal dengan nama Kota Reog.

Keliling Telaga Ngebel sekitar 5 km. Dengan suhu antara 20 - 26 derajat celsius, suhu dingin nan sejuk membuat pengunjung makin nyaman mengunjungi Telaga Ngebel.

Selain Reog, Telaga Ngebel merupakan salah satu andalan wisata yang dimiliki Kabupaten Ponorogo. Air Telaga Ngebel berasal dari berbagai sumber. Paling besar dari Kanal Santen. Selain itu, ada sebuah sungai yang mengalir di Telaga Ngebel yang di bagian hulunya terdapat air terjun yang diberi nama Air Terjun Toyomarto.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten