PEMKAB KARANGANYAR : Colomadu Masuk Kategori Kawasan Kumuh
Petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar melakukan fogging ke rumah-rumah warga di Desa Gajahan, Kecamatan Colomadu, Karanganyar, Senin (28/3/2016). (Iskandar/JIBI/Solopos)

Pemkab Karanganyar menggalakkan program kota tanpa kumuh (Kotaku) untuk wilayah Colomadu.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Kecamatan Colomadu dinilai sebagai salah satu kecamatan kumuh di Karanganyar. Karena itu kawasan ini masuk satu di antara sejumlah kawasan lainnya yang harus digalakkan program kota tanpa kumuh (kotaku) Karanganyar.

“Lewat program kotaku difasilitasi fasilitator kelurahan [faskel] mulai perencanaannya diarahkan. Misalnya dalam menyusun APBDes diarahkan biar mengakomodasi kotaku. Jadi nanti mulai dari penyusunan anggaran sebaiknya didampingi faskel,” ujar Camat Colomadu, Yophy Eko Jatiwibowo ketika ditemui di Colomadu, akhir pekan lalu.

Menurut dia, program ini juga akan merinci kebutuhan wilayah secara detail. Sedangkan problem di desa biasanya meliputi drainase, sampah, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagainya.

Untuk PHBS biasanya terkait erat dengan keberadaan atau kondisi jamban keluarga. Hal ini menjadi salah satu paramater tingkat kekumuhan suatu wilayah.

Sedangkan wilayah Colomadu yang kumuh, ujar dia, ada di seluruh desa. Untuk wilayah Desa Ngasem, kawasan kumuh terdapat di Dusun Bangsan.

Sebagai langkah antisipatif, kata dia, tahap awal ini pihaknya menyusun tim perencana dan faskel akan mendampingi menyusun APBDes. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan bisa bersinergi dan terintegrasi sehingga wilayah tak hanya sekadar mengaspal, membuat talut, tapi kekumuhannya tidak diatasi.

Yophy menjelaskan, kriteria kumuh di antaranya, bisa dilihat dari penanganan sampah, kondisi jamban dan drainase harus benar. Sebenarnya untuk tidak kumuh dinilai tidak terlalu mahal. Cuma, warga kadang dinilai enggan merawat lingkungan.

Sehingga, ujar dia, pagar hidup dari tetumbuhan tidak dipangkas dengan rapi. Begitu pula dengan tidak dibersihkannya rerumputan dinilai mengganggu keindahan.

Selain itu air dari drainase rumah hanya dibuang di kebun. Diharapkan warga membuang air limbah rumah tangga ke selokan sehingga nanti air tidak menggenang di kebun melainkan menuju ke sungai.

Hal lain yang perlu diperhatikan, papar dia, rumah sebaiknya dibuat menghadap ke jalan, bukan malah membelakangi jalan. Pihaknya juga menganjurkan agar rumah warga juga tidak menghadap ke sungai.

Sebab jika menghadap ke sungai dikhawatirkan warga akan dengan mudah membuang sampah ke sungai. “Jadi penanganan sampah, drainase dan PHBS menjadi hal yang penting untuk diperhatikan,” kata dia.

Secara terpisah Kepala Puskesmas Colomadu II, drg. Ririn Nurliyani membenarkan masih banyak warga Colomadu yang tak menjalankan PHBS. Sebab beberapa di antara mereka masih membuang kotoran ke sungai.

“Dilihat sepintas warga sudah banyak yang mempunyai jamban, tapi ternyata mereka tidak mempunyai septic tank. Karena tidak mempunyai septic tank, kotoran dibuang ke sungai. Ini kan tidak sehat,” papar dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom