Arus balik kendaraan di tol Pejagan-Pemalang, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (7/6/2019). (Antara-Oky Lukmansyah)

Solopos.com, BOYOLALI -- Pemkab Boyolali segera mengidentifikasi fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di Banyudono dan Sawit yang kemungkinan terkena proyek pembangunan jalan tol Solo-Jogja.

Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Widodo Munir mengatakan meskipun sampai saat ini Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo belum mengeluarkan penetapan lokasi (penlok) jalur tol Solo-Jogja di Boyolali, daerah yang akan dilewati trase tol khususnya di wilayahnya sudah teridentifikasi.

“Sampai saat ini memang belum ada penlok. Tetapi daerahnya sudah teridentifikasi sehingga kami juga akan mengidentifikasi fasum dan fasos di daerah yang diperkirakan akan terlewati proyek,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Selasa (23/7/2019).

Menurutnya, jumlah maupun jenis fasum dan fasos di kedua wilayah tersebut cukup banyak. “Pastinya banyak. Nanti ada jalan, saluran, makam, mugkin juga tempat ibadah, kantor instansi pemerintah dan sebagainya,” imbuh dia.

Untuk memastikan hal itu, Pemkab akan bertemu dengan Camat Banyudono dan Camat Sawit serta kepala kades/pewakilan sembilan pemerintah desa di dua kecamatan yang teridentifikasi terkena proyek pemerintah pusat tersebut, Kamis (25/7/2019) besok.

“Rencaanya Kamis camat dan kepala desa akan kami undang untuk megidentifikasi fasum dan fasos di daerah masing-masing. Ini sekaligus sebagai persiapan sosialisasi kepada wilayah yang bersangkutan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, ada sembilan desa di Boyolali yang akan terkena proyek jalan tol Solo-Jogja. Di Banyudono, desa yang akan terkena proyek adalah Banyudono, Batan, Kuwiran, Sambon, dan Jembungan.

Sedangkan di Sawit, desa yang terkena meliputi Guwokajen, Bendosari, Jatirejo, dan Kateguhan. Di sisi lain, Sekretaris Desa Kuwiran, Nuri Herawati, mengatakan hingga saat ini belum ada pemberitahuan resmi atau sosialisasi dari Pemkab terkait rencana pembangunan jalan tol.

Dia hanya mengetahui informasi dari media. “Sampai sekarang belum ada sosialisasi. Saya tahunya dari media, warga juga begitu. Warga mulai kasak-kusuk tentang jalan tol yang katanya akan mengenai lahan mereka,” kata dia saat ditemui di Balai Desa Kuwiran.

Dia meyakini Pemkab sudah punya rencana sosialisasi. “Saya yakin pasti akan ada sosialisasi kalau memang Kuwiran kena proyek.”

Terpisah, sejumlah warga Desa Cangkringan yang wilayahnya berbatasan dengan Desa Kuwiran mengaku penasaran dengan proyek jalan tol tersebut. Mereka mengatakan jika jalan masuk tol ke selatan ada di barat Mapolsek Banyudono, ada kemungkinan mengenai sebagian pekarangan mereka.

“Saya memang baru dengar-dengar, katanya jalan masuknya dari barat Mapolsek Banyudono. Kalau ditarik garis lurus ke selatan, bisa saja mengenai lahan kami, makanya saya ingin tahu kepastiannya bagaimana. Ya nanti saya lihat saja lah bagaimana perkembangannya,” kata Jiyanto, 78, warga RT 016/RW 004 Cangkringan, ini.

Sementara itu, Agus Sutarto, 54, yang juga warga Cangkrigan, mengaku pasrah jika lahannya terkena proyek jalan tol. “Kalau saya manut saja. Yang peting kalau kena ya diganti rugi,” ujarnya.

Wakil Bupati Boyolali M. Said Hidayat meminta masyarakat yang lahannya kemungkinan terkena proyek agar memahami pembangunan dilakukan untuk kepentingan yang lebih besar.

“Dengan pembangunan infrastruktur harus disukuri, ini adalah bagian dari pembangunan nasional yang sudah dipersiapkan. Nanti akan ada sawah atau rumah yang kena. Soal pertanian, kita jaga lahan pertanian yang ada tapi kepentingan nasional harus kita dukung,” ujarnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten