Pemilihan Rektor UII, Fathul Wahid Tak Tertandingi
5 Calon Rektor Universitas Islam Indonesia. (Istimewa/Harian Jogja)

Pakar Teknologi Informasi Fathul Wahid kembali mendapatkan suara terbanyak dalam proses pemungutan suara senat universitas Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII)

 

Solopos.com, SLEMAN - Pakar Teknologi Informasi Fathul Wahid kembali mendapatkan suara terbanyak dalam proses pemungutan suara senat universitas Pemilihan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Rabu (21/3/2018). Dosen FTI UII itu unggul telak menandingi para seniornya di kampus tertua di Indonesia itu.

Melalui pemilihan di tingkat Senat UII, Fathul Wahid mendapatkan 77 suara disusul Suparman Marzuki 37 suara. Dekan FTSP UII, Widodo berada di urutan ketiga dengan 10 suara, disusul Rohidin dengan suara dan Agus Harjito di paling buncit dengan tiga suara. Adapun jumlah anggota senat 156 orang.

"Suara abstain ada dua. Jumlah yang memberikan suara 134, tidak hadir 22 pemilih, total 156 suara. Senat itu berasal dari semua fakultas, terutama dosen yang sudah Lektor Kepala golongan IVB, kemudian Profesor, intinya semua dosen tetap yang di senat," terang Syamsudin Ketua Panitia Pemilihan Rektor UII, Selasa (21/3/2018) sore.

Syamsudin menjelaskan, pihaknya akan mengambil tiga nama dengan suara terbanyak, yaitu Fathul Wahid, Suparman Marzuki dan Widodo ke Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII pada Senin (26/3/2018) pekan depan untuk selanjutnya ditentukan salah satu dari ketiganya untuk menjabat sebagai Rektor UII.

"Panitia akan mengajukan tiga nama itu, pemilik suara terbanyak, ke Pengurus Yayasan untuk ditentukan siapa calon rektor terpilih. Nanti kalau sudah ditentukan satu, panitia akan menetapkan rektor terpilih tersebut," ungkap dia.

Syamsudin enggan berspekulasi terkait pilihan yayasan terhadap ketiga nama yang diajukan. Namun, ia tidak menampik berdasarkan pemilihan rektor yang selama ini berjalan di UII, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII menentukan calon rektor yang mendapatkan suara terbanyak sebagai rektor terpilih. Dengan demikian, Fathul Wahid memiliki peluang besar untuk memimpin UII jika tradisi itu masih berlaku di lingkungan UII.

"Kami tidak bermaksud mendahului. Tetapi kalau tradisinya yang dipilih itu selalu yang nomor satu, belum pernah memilih yang di bawah itu. Dulu pernah ada selisih cuma satu suara antara Pak Edy [Suandi Hamid] dengan Pak Jawahir, tetapi akhirnya yang ditentukan itu yang suara terbanyak, Pak Edy," jelasnya.

Syamsudin memastikan hingga memasuki tahapan di tingkat senat dan akan menuju ke yayasan, proses pemilihan berjalan lancar dan tidak ada kendala. Sejumlah pemilih tetap yang tidak memberikam suara lebih disebabkan karena sedang bertugas ke luar kota atau menempuh pendidikan di luar negeri.

"Alhamdulillah dengan sistem, statuta baru ini semua berjalan lancar, tidak ada kendala yang signifikan," kata dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom