Pemerintah Serius Kembangkan Kendaraan Bermotor Listrik di Indonesia
Talkshow Kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (Tangkapan layar)

Solopos.com, SOLO – Pemerintah Indonesia terus membuka ruang untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL BB). Dengan memanfaatkan momentum tren industri otomotif global dan keinginan mengurangi emisi karbon.

Hal itu disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufiek Bawazier saat talkshow virtual yang digelar Solopos didukung PLN (Persero).

Presiden Direktur Solopos Group, Arif Budisusilo memandu talkshow Indonesia Bangkit dengan tema, Kendaraan Listrik di Depan Mata, Siapkah Indonesia?, Kamis (25/2/2021) malam. Talkshow ini disiarkan life melalui YouTube Solopos TV, Instagram, dan Facebook Solopos.

Hadir narasumber lainnya, seperti Komisaris PT PLN (Persero) Eko Sulistyo dan Staf Ahli Bidang Pengembangan Sektor Investasi Prioritas BKPM, Aries Indanarto. Juga Ketua Pengembangan Baterai Lithium UNS Solo, Prof Agus Purwanto.

Baca jugaPLN Beri Kemudahan Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia

Talkshow kendaraan bermotor listrik
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Taufiek Bawazier (Tangkapan layar)

Dukungan Regulasi

Lebih lanjut Taufiek Bawazier menyebutkan, upaya pengembangan kendaraan bermotor listrik didasari carbon emission. Tentunya dengan dukungan regulasi dari pemerintah berupa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019. Yakni tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Menurut Taufiek Bawazier, pengembangan industri KBL BB juga berperan penting dalam penurunan target penggunaan energi fosil. Kemudian peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT). Sekaligus mendukung komitmen pemerintah dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebanyak 29% pada 2030.

Selain itu, tambah Taufiek Bawazier, dilakukan percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai melalui pengembangan industri dalam negeri. Kemudian pemberian insentif, penyediaan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Termasuk juga didalamnya pengaturan tarif tenaga listrik dengan pemberian insentif dari PLN.

Baca jugaDibangun Semester I 2021, Pabrik Baterai Kendaraan Listrik di Batang Serap Berapa Tenaga Kerja?

Saat ini industri kendaraan listrik atau electric-vehicle (EV) global terus berkembang ditandai pertumbuhan penjualan EV menigkat 63% pada tahun 2018 (y on y basis). Di mana penjualan EV mencapai 2,1 juta unit pada tahun 2018

Sementara Komisaris PT PLN (Persero) Eko Sulistyo mengatakan, sebagai dukungan pengembangan KBL BB PLN melakukan sejumlah langkah. Seperti pengembangan industri baterai dalam negeri bersama 3 Badan Usaha Milik Negara. Yakni PLN, Pertamina, dan Mind Id.

Selanjutnya, PLN terus mengembangkan infrastruktur yang mendukung kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Yakni dengan penambahan SPKLU dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) untuk kendaraan roda dua.

“Jadi untuk pengembangan SPKLU dan SPBKLU ke depan akan mengandeng UMKM untuk berpartisipasi di dalamnya,” jelas Eko.

Program Stimulus PLN

Komisaris PLN Eko Sulistyo
Komisaris PT PLN (Persero) Eko Sulistyo (Tangkapan layar)

Pengembangan PLN lainnya, sambung Eko, adalah memastikan ketersediaan suplai listrik melalui pengembangan pembangkit 35 GW. Pengembangan skema model SPKLU dan SPBKLU dan pengembangan aplikasi E-mobility (Charge.in).

“Ada juga program stimulus percepatan penggunaan KBL BB. Yakni intensif penambahan daya, karena untuk pengisian daya kendaraan roda empat listrik butuh 3.000 VA. Namun jika di rumah daya listrik 900 VA masih mencukupi untuk kendaraan listrik roda dua. Ada juga intensif untuk pengisian daya baterai di atas pukul 22.00 WIB,” kata Eko.

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom