Pemerintah Myanmar Hancurkan Kampung Halaman Warga Rohingya

Pemerintah Myanmar Hancurkan Kampung Halaman Warga Rohingya

SOLOPOS.COM - Foto desa di Rakhine yang rata dengan tanah (Theguardian.com)

Pemerintah Myanmar menghancurkan kampung halaman warga Rohingya.

Solopos.com, SOLO – Enam bulan sudah warga Rohingya meninggalkan kampung halaman di Rakhine, Myanmar. Ratusan ribu penduduk Rohingya itu terusir dari rumah karena kekejaman militer Myanmar. Mereka mengungsi ke beberapa negara tetangga seperti Nepal, Bangladesh, dan India.

Kehidupan warga Rohingya di pengungsian itu sangat memprihatinkan. Tempat tinggal mereka sangat kumuh, jauh dari kata layak. Mereka juga kesulitan mendapat makanan dan obat-obatan. Kendati demikian, mereka memilih menetap di pengungsian daripada kembali ke Myanmar karena masih trauma dengan nasib buruk yang dialami.

Dalam laporan terbaru yang diterbitkan The Guardian, Sabtu (24/2/2018), pemetintah Myanmar menghancurkan kampung halaman warga Rohingya di Rakhine. Mereka meratakan puluhan desa di Rakhine dengan buldoser. Kini, desa yang pernah dihuni warga Rohingya telah rata dengan tanah.

Jika dilihat secara sekilas lewat satelit, kampung halaman warga Rohingya seperti tak pernah memiliki penghuni sebelumnya. Namun, pemerintah Myanmar mengjklaim penghancuran itu dilakukan untuk mendirikan bangunan baru yang lebih layak huni.

“Kami menghancurkan semuanya untuk mendirikan bangunan baru. Kami harus membersihkan reruntuhan bangunan yang rusak sebelum membuat yang baru,” kata perwakilan pemerintah Myanmar, Myint Khine.

Tapi, sejumlah anggota kelompok hak asasi manusia (HAM) menilai penghancuran itu sengaja dilakukan untuk menghapus bukti kekejaman militar Myanmar. Sementara warga Rohingya berasumsi tindakan itu dilakukan lantaran pemerintrah ingin menghapus sejarah mereka.

Seorang warga Rohingya yang baru saja berkunjung ke rumahnya sangat terkejut. Kampung halamannya telah rata dengan tanah dan tidak menyisakan apapun. “Semuanya lenyap. Bahkan, pohon saja tidak ada yang tersisa. Saya hampir tidak mengenali wilayah itu,” kata Myin Hlut.

Berdasarkan foto satelit yang dirilis awal Februari 2018 lalu, ada sekitar 28 desa di Maungdaw, Myanmar yang telah diratakan dengan tanah. Wilayah yang diratakan dengan tanah itu nantinya bakal dibangun kembali untuk menggantikan rumah warga Rohingya yang hancur.

Berita Terkait

Berita Terkini

Israel Tewaskan 7 Warga Palestina di Tepi Barat

Tujuh orang warga Palestina meninggal dunia pada Jumat (14/5/2021) akibat aksi kekerasan pasukan Israel yang membubarkan aksi unjuk rasa mereka.

Pengrajin Jamu Gendong Asal Sukoharjo Tak Pulang Kampung, Sebelum Ramadan Sudah Kulakan Dulu

Sebagian pengrajin jamu asal Nguter Sukoharjo memilih tidak pulang ke kampung halaman saat Lebaran 2021. Mereka kulakan bahan baku jamu dalam jumlah besar untuk menambah stok jamu sebelum bulan puasa.

Ini Alasan Mantan Tetap Ingin Berteman, Terima atau Tidak?

Ada sejumlah penyebab melandasi niatan sang mantan ingin tetap berteman.

Benarkah Makan Bawang Merah Berlebihan Bikin Bau Vagina Tak Sedap?

Makan bawang merah bisa memicu bau tak sedap pada vagina.

Partai Golkar Kecam Keras Serangan Israel ke Palestina

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menyatakan pihaknya mengecam keras serangan tentara Israel terhadap rakyat Palestina.

Penonton Liga Inggris Bisa Sepenuhnya Datangi Stadion di Musim Ini

Pengelola Premier League Inggris berencana membuka akses bagi para penonton untuk menonton di stadion pada musim 2021- 22 ini.

Duh! Sampah Petasan Kotori Alun-Alun Pengging Boyolali

Alun-Alun Pengging Boyolali dikotori dengan keberadaan sampah. Sebagian besar sampah itu adalah serpihan-serpihan kertas bekas petasan.

Makin Brutal, Pemboman Israel Tewaskan Satu Keluarga Palestina

Pemboman oleh pasukan Israel pada Kamis (13/5/2021) malam menumpas habis seluruh anggota sebuah keluarga Palestina di wilayah utara Jalur Gaza.

Ada Larangan Mudik, Bus dan Truk yang Masuk Solo Turun Drastis

Jumlah bus dan truk yang keluar masuk Kota Solo menurun drastis selama pemberlakuan larangan perjalanan mudik oleh Kementerian Perhubungan.

Satgas Covid-19 Evaluasi Kasus Selama Libur Lebaran

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, mengatakan belum bisa memperkirakan apakah terjadi lonjakan kasus Covid-19 selama libur Lebaran.

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Lebaran, 8 Balon Udara Dilaporkan Terbang di Langit Indonesia

Sebanyak 8 balon udara dilaporkan berada di langit Indonesia saat momentum Lebaran tahun ini. Sejauh ini, belum ada laporan balon udara melintas di langit Solo.