Kategori: Klaten

Dilema Mudik dan Potret Karantina Desa di Klaten


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Solopos.com, KLATEN—Sejumlah desa di Klaten menyiapkan tempat karantina terpusat untuk karantina mandiri warga dari luar daerah yang nekat mudik. Di sisi lain, pemerintah desa (pemdes) mulai menggencarkan kampanye melalui berbagai media agar warga atau keluarga yang berada di luar kota tak mudik saat Lebaran mendatang.

Kepala Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Sugeng Mulyadi, mengatakan pemerintah desa tetap mengikuti ketentuan dari pemerintah pusat ihwal larangan mudik. “Namun, apabila ada warga yang karena ada urusan penting sekalian mudik, Satgas desa mewajibkan mereka membawa hasil tes antigen dan melapor ke Satgas RW. Kami juga menyiapkan tempat karantina,” kata saat ditemui Espos di Kantor Desa Nglinggi, Kamis (22/4/2021).

Tempat karantina terpusat sudah ada sejak awal pandemi Covid-19. Lokasinya memanfaatkan salah satu gedung di kompleks kantor desa. Ada tiga tempat tidur di tempat itu. “Tetapi, sampai saat ini tempatnya belum pernah untuk karantina maupun isolasi mandiri,” jelas Sugeng.

Jenuh Pandemi

Upaya mengantisipasi warga tak nekat mudik juga mulai Pemdes lakukan. Aparatur desa serta Satgas Penanganan Covid-19 desa dan RT/RW menggencarkan sosialisasi melalui media sosial maupun ketika bertemu dengan warga. Sosialisasi melalui media sosial itu memanfaatkan beragam grup whatsapps (WA).

“Lewat grup WA RW, dukuh, kelompok minat, seperti pencinta burung, pencinta tanaman hias, peternak ikan, dan lain-lain. Setiap saat kami sampaikan sosialisasi. Kalau saya sendiri rutin tiga hari sekali. Pengalaman tahun lalu, cara tersebut berhasil dan sangat sedikit warga di perantauan yang pulang. Kalau dari Nglinggi yang di perantauan itu ada 200-300 orang,” kata Sugeng.

Kades Pundungan, Kecamatan Juwiring, Danang Setiawan, juga menyiapkan tempat karantina terpusat di kompleks gedung kesenian desa tersebut. Pemerintah desa juga mulai rajin mengimbau warga di perantauan agar tak mudik terlebih dahulu.

Namun, Danang mengaku dilematis ketika mengimbau warga untuk tak mudik. Sudah dua kali Lebaran ini mereka tak bisa mudik ke kampung halaman. Di sisi lain, warga juga mulai jenuh dengan kondisi pandemi Covid-19 yang tak kunjung rampung.

“Tetapi, tetap kami upayakan untuk menyosialisasikan protokol kesehatan, termasuk imbauan agar warga kalau bisa tidak mudik. Kalau pun mudik, kami tekankan minimal membawa hasil tes antigen. Kalau memang tidak bawa, kami minta melakukan karantina mandiri,” jelas Danang.

Sekretaris Desa (Sekdes) Bogem, Kecamatan Bayat, Hariyanta, mengatakan pemerintah desa segera berembuk guna menindaklanjuti keputusan pemerintah meniadakan mudik tahun ini. Haryanta mengatakan ada sekitar 250 warga Bogem yang merantau ke berbagai wilayah. “Kami segera rembuk sambil menunggu masukan RT/RW, adakah warga yang berencana pulang kampung,” jelas Hariyanta.

Tanggung Jawab Pribadi

Kepala Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Suyamto, mengatakan pemerintah desa menyiapkan tiga tempat karantina mandiri untuk mengantisipasi ketika ada pemudik yang nekat berdatangan. “Untuk warga kami yang berada di perantauan itu sekitar 600 orang,” kata dia.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten, Ronny Roekmito, mengatakan Pemkab terus mengimbau warga yang berada di luar daerah agar tak mudik ke Klaten pada Lebaran kali ini. Rencananya, penyampaian imbauan agar tak mudik itu melalui paguyuban warga Klaten di perantauan, seperti di Jabodetabek, pulau Sumatra, Kalimantan, dan lain-lain.

Apabila tetap ada pemudik yang nekat berdatangan ke Klaten, Ronny menegaskan mereka wajib membawa surat tes antigen yang menyatakan bebas dari Covid-19. Selain itu, mereka wajib menjalani karantina mandiri selama lima hari. Biaya kebutuhan selama karantina lima hari tersebut menjadi tanggungan masing-masing pemudik.

Share
Dipublikasikan oleh
Ayu Prawitasari