Pembunuh Bayaran dan Pageblug

“Maling itu mencuri bukan karena lapar, tapi memang karena ia seorang bajingan.”

***

Wirsu si pembunuh berkuda. Ia biasa membantu para sesepuh desa di Kabupaten Palonjo menangkap orang-orang bermasalah. Reputasinya tinggi, penjahat kelas satu pasti akan mampu didapatkannya. Baik dengan, atau tanpa kepala. Kali ini ia mendapatkan tawaran dari demang, untuk membunuh seorang maling yang sangat meresahkan warga, Lumintu. Pembunuh berkuda itu akan beraksi.

Nusantara sedang tidak sehat. Wabah penyakit melanda, pageblug. Entah karena lapar, atau memang itu profesinya, Lumintu si maling sedang getol mencuri padi di sawah warga. Di malam hari, Lumintu membabat padi, memasukkannya ke dalam karung, kemudian menghilang mengendarai kereta kuda.

"Kemarin malam sepetak sawah Maringun ludes, Wir."

"Bagaimana maling itu mampu mencuri padi sebanyak itu dalam semalam. Itu pekerjaan berat."

"Tak ada yang tahu detailnya. Warga tak berani keluar rumah, apalagi di malam hari. Warga sadar pageblug tampak lebih mengerikan daripada padi yang dicuri."

"Apa ia menyasar sawah tertentu? Di selatan atau utara?"

"Tidak, Wir. Ia selalu berpindah-pindah. Seperti ninja."

Demang benar-benar dibuat kelabakan oleh aksi maling ini. Para warga semakin resah. Angka kematian di desa meningkat tajam. Entah karena pageblug, atau karena psikis yang takut dan depresi. Bencana ini tampak begitu buruk.

Wirsu sadar di masa seperti ini memang semua masalah terlihat semakin pelik. Ada perasaan tak tega untuk menangkap maling ini. Ia tak bisa menyalahkan perut orang lapar, apalagi di kondisi pageblug seperti ini. Kompleksitas kehidupan benar-benar membuat Wirsu kebingungan. Banyak pemilik kebun-kebun kelapa dan cengkih yang merumahkan para penjaganya. Pageblug mengharuskan para warga untuk tetap di rumah. Wabah seakan mengintai di depan pintu setiap rumah.

Di istal, Wirsu memberi makan Oben, kuda hitam kendaraannya. Selama lima tahun terakhir, kuda itu menemaninya bekerja sebagai pembunuh bayaran. Memenggal kepala Tuan Rumbi, koruptor yang menghabiskan jatah sembako warga. Menyeret Rasu, psikopat yang suka memotong kaki ternak. Banyak kisah tentang darah yang sudah mereka lalui. Esok hari, Wirsu dan Oben akan beraksi. Tugas membunuh maling Lumintu adalah kasus yang umum. Memburu maling dan rampok.

***

Demang Himan adalah demang di Palonjo. Pria tua buncit yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Ia dikenal sebagai demang yang tangkas. Menyelesaikan pelbagai masalah di masyarakat. Perselingkuhan, pencurian dan sengketa tanah adalah kasus yang paling sering muncul di antara warga. Penduduk Palonjomengagumi pria botak itu. Secara intelektual ia begitu mumpuni, kemampuan diplomasinya begitu baik. Dengan mudah kasus perselisihan berakhir damai, ketika Demang Himan datang menengahi.

Ia juga sosok yang revolusioner. Mengubah sistem irigasi, memperbaiki pengairan sawah. Beberapa kali acara religi diadakan, seperti pengajian dan tausiah. Para pemuda yang terkenal hobi mabuk arak, dirangkul. Demang Himan mendirikan organisasi mirip karang taruna, kini para pemuda mulai paham ada banyak aktivitas yang dilakukan selain menenggak arak dan membantah orang tua.

Wirsu menjadi salah satu pemuda yang mampu ia tangani dengan baik. Bakat bertarung Wirsu memang tak terbantahkan. Pemuda itu pernah mematahkan tangan Pak Zahi hanya karena bola sepaknya dibuang ke kali. Perkelahian demi perkelahian membuat Wirsu begitu akrab dengan Demang Himan. Bertengkar, menang, lalu diserahkan ke Demang untuk dihukum. Begitu siklus yang terjadi di kehidupan Wirsu yang yatim piatu.

“Kapan kau mampu berhenti menghajar orang-orang, Wir? Sadarlah, tak mungkin ada yang mampu mengalahkanmu ketika bertarung. Berhenti mencari masalah. Aku sudah bingung menentukan hukuman apalagi yang tepat untukmu.”

“Aku akan berhenti ketika kebenaran muncul. Aku akan duduk dan berhenti, ketika keadilan didirikan dengan tegak.”

“Aku sudah bekerja semaksimal mungkin, Wir. Warga tampaknya juga sudah lebih tenteram. Kasus kriminal juga berkurang.”

“Tutup mulutmu, Mang. Aku tahu kau adalah Demang yang dicintai warga. Tapi jangan pernah berkata seolah-olah kau adalah pemimpin yang berhasil. Kejahatan akan selalu merebak layaknya bau bunga kematian di kuburan. Kejahatan dan kehidupan terlalu akrab. Aku akan berhenti membuat onar ketika Marjito diadili.”

Marjito adalah raksasa. Manusia dengan tubuh tinggi besar. Ia adalah manusia korup. Semua penduduk tahu itu. Pun demikian dengan Demang Himan. Namun kesaktian dan kemampuan bertarungnya tak tertandingi. Sudah tak terhitung berapa pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh atau setidaknya menangkap Marjito. Namun semuanya berakhir dengan kegagalan, terlalu banyak pembunuh bayaran yang mati di tangan pencuri sembako, preman pasar dan perampok cengkih ini.

“Marjito adalah Firaun, Wir. Tak mungkin ada yang mampu mengalahkannya. Ia terlalu digdaya.”

“Beri aku kesempatan dan seekor kuda. Aku yang akan mengakhirinya.”

Kata Wirsu muda pada Demang Himan dengan yakin

***

Di malam sebelum keberangkatan Wirsu, Lumintu si maling kembali beraksi. Dengan motif yang masih sama. Akhirnya Wirsu semakin yakin bahwa maling itu mencuri bukan karena lapar, tapi memang karena ia seorang bajingan. Wirsu menuntun Oben keluar dari istal, memandikan dan memberi kuda itu makan rumput terbaik. Ia sudah siap membunuh, atau setidaknya menangkapLumintu.

Ia mendapat informasi dari Demang Himan bahwa maling itu selalu mengarah ke hutan Banaran.Di pageblug seperti ini memang bukan keputusan yang tepat untuk pergi ke hutan Banaran. Penduduk di hutan itu terkenal kanibal. Mereka tak segan untuk memangsa orang asing hidup-hidup. Siapa pun itu, tak terkecuali memakan daging Wirsu. Tak mungkin baginya untuk menangkap maling itu di Hutan Banaran.

Namun, bagaimana seorang yang tinggal di lingkungan kanibal mencuri padi? Para kanibal mengharamkan nasi, mereka hanya memakan ubi dan jagung sebagai makanan pokok, di samping daging manusia. Sebuah pertanyaan besar menyeruak di kepala Wirsu. Pasti ada orang lain dibalik aksi maling Lumintu.

***

Petak sawah milik Mbah Sinom menjadi saksi ketika maling Lumintu ditangkap oleh Wirsu. Kronologinya, Wirsu memata-matai Lumintu di Dukuh Gino, tepat di jalan kecil perbatasan antara Hutan Banaran. Tiga hari tiga malam ia tinggal di sebuah gubuk kecil dibalik pepohonan. Hingga di suatu tengah malam, ia melihat kereta kuda yang membawa tumpukan karung dengan beberapa ikat sisa padi di gerobaknya. Tak salah lagi. Itu pasti Lumintu.

“Apa maksudmu mencuri seperti ini? Kau mau memanfaatkan situasi pageblug? Dasar bajingan. Aku tahu kau kanibal, kau tak mungkin makan nasi. Kalau ini soal uang, mengapa kau tak mencuri ternak? Itu jelas lebih mahal. Siapa yang menyuruhmu? Katakan!”

“Tidak ada yang menyuruhku.”

Sudah sepuluh kali Wirsu menanyai Lumintu perihal siapa yang menyuruhnya, setiap satu pertanyaan itu dilontarkan Wirsu sambil memotong satu ruas jari Lumintu, berurutan dari jempol ke arah kelingking, tangan kanan ke tangan kiri. Namun sama sekali Lumintu tak mau mengaku.

Wirsu sempat mengira ia jujur. Mungkin anak ini memang tidak ada yang menyuruh. Mungkin ia hanya ingin memanfaatkan situasi. Sekali lagi Wirsu bertanya, sambil meletakkan pisau di telinga kanan Lumintu yang tengkurap di antara tumpukan padi dengan tangan terikat.

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Demang Himan.” Jawab Lumintu, 10 detik sebelum telinga kanannya diiris Wirsuhingga terputus.

 

Trenggalek, 28 April 2020

Edwin Anugerah Pradana

Penulis lahir di Kecamatan Panggul,Kab. Trenggalek ,pada tanggal 24 September 1998. Merupakan Mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Tulisan-tulisannya dimuat di koran-koran lokal dan nasional, aktif di pembuatan zine lokal Surabaya. Baru saja menerbitkan buku antologi puisi pertamanya yang berjudul Terserah Handoko (2019 )


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho