Pembelajaran Tatap Muka di Wonogiri, Pelajar Divaksin atau Tidak?
Ilustrasi vaksinasi Covid-19 (Freepik)

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten Wonogiri belum dapat memastikan pelajar akan divaksin Covid-19 terlebih dahulu sebelum pembelajaran tatap muka atau tidak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri, Yuli Bangun Nursanti, menyampaikan hingga pekan pertama Maret belum ada pemberitahuan resmi bahwa siswa akan menjadi sasaran vaksinasi.

Dia menyambut baik jika ke depan siswa turut divaksin. Pihak yang akan divaksin pada gelombang berikutnya adalah guru dan tenaga kependidikan, seperti pegawai tata usaha sekolahan, penjaga sekolahan, dan karyawan.

Baca Juga: Jumlah Pasien Covid-19 di Asrama Haji Donohudan Menurun Signifikan

“Soal pelajar akan divaksin dulu atau tidak sebelum PTM [pembelajaran tatap muka], kami belum mendapat petunjuk lebih lanjut,” kata Yuli saat dihubungi Solopos.com, belum lama ini.

Ihwal PTM yang diwacanakan bakal dimulai Juli 2021 mendatang, dia mengaku persiapan PTM di seluruh sekolah jenjang pendidikan anak usia dini atau PAUD hingga sekolah menengah pertama atau SMP sudah dilakukan sejak lama. Sekolah menyatakan siap menjalankan PTM.

Bahkan, Disdikbud hanya perlu sedikit menyesuaikan mekanisme PTM, karena skenario yang disiapkan sama dengan skenario Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau Mendikbud. Disdikbud menyiapkan skenario sejak sebelum tahun ajaran 2020/2021 lalu. Saat itu ada rencana menjalankan PTM. Namun, rencana dibatalkan lantaran kasus terkonfirmasi melonjak.

“Kalau menurut skenario Mendikbud, PTM dijalankan dengan sistem sif agar tidak 100 persen PTM dalam satu hari. Dalam satu kelas maksimal 18 siswa. Itu sudah sama dengan skenario PTM di Wonogiri,” ucap Yuli.

Skenario

Skenario PTM SMP di Wonogiri, yakni masuk sekolah dibagi berdasar kelas. Contohnya, pada Senin kelas VII masuk pagi, kelas VIII masuk siang, sedangkan kelas IX pembelajaran jarak jauh atau PJJ. Pada Selasa kelas VII bergeser menjadi masuk siang, kelas VIII menjalani PJJ, dan kelas IX masuk pagi.

Begitu seterusnya pada hari berikutnya. Jika jumlah siswa dalam satu kelas lebih dari 18 orang bisa dibagi menjadi dua kelas. Sekolah dapat menggunakan kelas yang tidak ditempati siswa karena menjalani PJJ.

“Misalnya kelas VII-IX masing-masing ada 10 kelas. Jika skenario diterapkan berarti ada 10 kelas yang kosong karena ada siswa PJJ. Kelas yang kosong itu bisa dioptimalkan, sehingga tempat duduk siswa bisa berjarak,” ulas Yuli.

Baca Juga: Bukan 25-30 Tahun, Mayoritas Anak Muda Indonesia Menikah di Usia Ini

Sementara, PTM untuk jenjang pendidikan anak usia dini atau PAUD dan sekolah dasar atau SD menyesuaikan jumlah siswa. Jumlah siswa PAUD dan SD tak banyak. Ada satu kelas yang berisi sembilan siswa. Dengan jumlah itu siswa tanpa dibagi pun sudah berjarak tempat duduknya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan atau Dinkes Wonogiri, Adhi Dharma, mengonfirmasi hingga awal Maret ini belum ada kebijakan dari pemerintah pusat mengenai vaksinasi pelajar. Sebelum melangkah lebih jauh Dinkes memilih menunggu kebijakan terlebih dahulu.



Berita Terkini Lainnya








Kolom