Pembantu sebagai Agen Kebudayaan
Irfan S. Fauzi (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Ong Hok Ham, sejarawan terkemuka itu, tak mengerti betul soal batur. Dalam esai Gelandangan dari Masa ke Masa (2018), Ong memahami batur dari laporan yang terbit pada abad ke-18, laporan pemerintahan kolonial. Laporan mencatat ada sekitar 35.000 pekerja kasar di antara Yogyakarta dan Semarang.

Busana yang menempel di tubuh mereka cuma cawet, tak punya rumah, hidup ”liar”, tak berkeluarga, dan kebanyakan mereka jadi tukang pikul di pasar. Maka, di pasar pulalah, batur-batur itu sering dijumpai. Ong menarik kesimpulan pada abad ke-20, suatu kelompok di kota yang mirip dengan deskripsi batur mungkin adalah tukang becak dan kuli kasar lainnya.

Ong mendekati kata bahasa Jawa batur dari lema bahasa Inggris vagrants, padahal, itu dua kata berbeda. Di Kamus Inggris-Indonesia (1992), John M. Echols dan Hassan Shadily mengartikan vagrant sebagai gelandangan, pengembara, atau tunawisma.

Dari sinilah Ong menarik kesimpulan bahwa tukang becak dan kuli kasar adalah batur abad XX sebab hidup mereka tak beraturan dengan “tinggal” di pasar atau becak, alih-alih rumah. Di Kamus Basa Jawa (2006) susunan Widada, Suwadji, dan Sukardi, batur berarti kanca; wong sing mèlu wong liya (ngrèwangi pegawèan).

Vagrant yang gelandangan mestinya tak sama dengan batur  yang berarti “teman” dan “orang yang ikut orang lain (membantu pekerjaan)”. Pengertian yang jauh berlainan. Tunawisma jelas tak punya majikan. Mereka menjalani hidup sendiri dari hari ke hari tanpa membuat komitmen dengan orang lain. Sedangkan batur menjalin hubungan dengan orang lain.

Di Jawa, batur itu pembantu rumah tangga. Meski posisinya subordinasi dengan majikan, dalam tradisi Jawa, batur dianggap selayaknya anggota keluarga. Dalam memilih batur, lumrah jika calon majikan akan mempertimbangkan asal usul, latar belakang, kampung halaman, dan lain-lain (Iman Budhi Santosa, 2017).

Dalam kolom rutin di harian Kedaulatan Rakyat, yang kelak dibukukan Grafiti menjadi kumpulan esai Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Umar Kayam mendudukkan pembantu bukan dalam peran pinggiran atau sekadar manutan. Kolom-kolomnya merupakan sketsa kehidupan yang dicuri dari keadaan diri dan sekitarnya.

Percakapan dan adegan kehidupan nyata ia gelar di esai-esai, tentu dengan bekal pemahaman tradisi Jawa, pengetahuan umum, dan perangkat intelektual mumpuni yang ia miliki. Walau sekadar pembantu rumah tangga, tapi dalam amatan Kayam, batur punya posisi penting, tak cuma dalam kehidupan keluarga, tapi juga budaya!

Pembantu adalah agen kebudayaan. Berdasarkan survei International Labour Organization (ILO), pada 2015, jumlah pembantu paling banyak adalah orang Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Sangat mungkin kebudayaan Jawa yang populer di seantereo negeri sokongan utamanya bukan dari lembaga atau tokoh politik-kebudayaan, melainkan para pembantu.

Dari televisi sebuah keluarga non-Jakarta mungkin merasa mengenal kota metropolitan Jakarta, tapi itu secuplik belaka. Paling-paling lo-gue, jalanan, atau gedung-gedung menjulang. Dari pembantu, kelurga non-Jawa mengerti lebih banyak. Bahasa, dialek, musik, kisah kampung halaman, filosofi, dan terutama, masakan.

Dalam wawancara dengan Majalah Selera (Maret 1984), Umar Kayam menyebut Jawa dan Padang adalah dua suku dengan cita rasa makanan paling populer di Indonesia. Cita rasa Padang meluas sebab rumah makan Padang tersebar di mana-mana, tapi rumah makan tentu bukan pilihan bersantap setiap hari.

Dari dapurlah keluarga menjalankan rutinitas makan harian. Dari sanalah lewat tangan-tangan para pembantu, lidah-lidah non-Jawa mengakrabi cita rasa Jawa. Pada umumnya dapur orang Batak, Manado, Minang sekalipun, dihuni oleh pembantu-pembantu rumah tangga yang berasal dari Jawa.

”Dan kalau kita amati makanan keluarga mereka sehari-hari, sentuhan Jawa terasa sekali. Pengaruh pembantu memang hebat sekali,” ujar Kayam. Jangankan sesama bangsa Indonesia, di Timur Tengah sajapara pembantu rumah tangga asal Indonesia memengaruhi selera makan keluarga-keluarga Arab (Yuswohady, 2015).

Tak cuma perkara rasa, daya kreatif para pembantu kadang menyelamatkan para majikan dari penyakit kanker alias kantong kering. Ketika dompet tipis, Pak Ageng (alter ego Umar Kayam dalam kolomnya), menyandarkan keuangannya pada kelihaian tangan Nansiyem, pembantunya di rumah di Jogja.

Perempuan asal Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, itu cakap mengolah satu bahan menjadi berbagai varian menu. Ada tempe goreng, tempe bacem, tempe bakar, satai tempe, gulai tempe, sop tempe, ada pula oseng-oseng kangkung, salad kangkung dengan mayonaise santen, sayur asem kangkung, sayur bening kangkung, dan lain-lain.

Dalam kolomnya terlihat Umar Kayam menganggap dapur dan ruang makan sebagai daerah kekuasaan para batur. Berbeda dari catatan Iman Budhi Santosa dalam buku Profesi Wong Cilik (2017) yang menganggap para batur, yang kebanyakan perempuan, hanya bisa manut dan menunduk, dalam sketsanya, Kayam mencatat para batur punya kekuasaan besar di dapur dan ruang makan.

Ruang makan adalah tempat penting dalam sebuah rumah. Di sana seluruh anggota keluarga bisa berkumpul dan bercakap-cakap tanpa disela siaran televisi jika di ruang tengah atau tatapan tetangga bila di berkumpul di teras.

Percakapan yang spontan bisa memperoleh kedalaman di ruang makan, namun di sana para pembantu rupanya masih dapat menunjukkan keperkasaan. Pada suatu santap makan setelah salat Iduladha, di rumahnya di Cipinang, Jakarta, Gendut, anak bungsu Pak Ageng, berlagak kritis.

Ia berkata tak patut sebagai umat Islam memeringati pengorbanan Ibrahim dan Ismail malah dengan makan enak. Ketika melancarkan komentar, mulut Gendut dijejali kari ayam. Missus Belgedeulbeh, pembantunya yang berasal dari Delanggu, Kabupaten Klaten, mendengar dan tak terima.

Dari dapur, Missus segera membuat urap, menyodorkan pada Gendut, mengundurkan kari ayam, dan ketika tangannya tegas bergerak di atas meja makan, mulutnya nyerocos, ”Aku tidak trima! Masak mulai pagi uthug-uthug. Marut klapa, ngrebus ayam, ikan, dan ini tadi kambing kok Gendut bilang ini tidak perlu!”

Barter Makanan Hotel

Lidah Gendut, si anak Cipinang itu, pasti meronta. Makanan rasa Delanggu-nya disita. Masakan para batur nikmatnya memang berani diadu. Suatu ketika, pakar sastra Tionghoa Melayu, Myra Sidharta (1995), diundang menginap di hotel oleh sahabatnya, Nora.

Nora memang senang menginap di hotel berbintang. Ya, senang saja, tanpa mesti ada keperluan mendesak. Kadang-kadang malah cuma modal iseng. Nora senang dengan suasana hotel, tapi untuk keperluan memanjakan lidah ia lebih percaya tangan pembantunya, Yatmi, ketimbang para koki profesional hotel berbintang di Jakarta itu.

Ketika Myra menginap bersama Nora, Myra melihat kejadian menakjubkan itu: masakan Yatmi dibarter Nora dengan masakan hotel! Di hotel, Nora dan Myra memakan masakan Yatmi. Di rumah, Yatmi memakan masakan para koki profesional yang menurut majikannya kalah mantap dari masakannya.

Di majalah Femina edisi 16 Desember 1980 kita membaca pengakuan para pembantu, mengapa mereka akhirnya manjalani pekerjaan itu. Jelas bukan karena pilihan. Sulit terbayangkan di sekolahan, seorang bocah memekik kalau cita-citanya adalah pembantu rumah tangga.

Jadi pembantu adalah hal mentok terakhir agar seseorang bisa mencari kehidupan lebih baik atau kabur dari kehidupan yang kadung berantakan. Nunung, kala itu 13 tahun, adalah siswa pandai di SD. Ia punya lima saudara dan tak bisa melanjutkan ke SMP sebab orang tuanya kelewat miskin.

Dua hari dua malam Nunung menangis karena putus sekolah dan akhirnya memilih merantau ke Jakarta jadi pembantu untuk mengusir kesedihan. Alasan pembantu lainnya tak kalah mengalirkan air mata. Mbok Sarminah jadi pembantu karena kabur dari suami ketujuhnya, ia merasa tak cocok. IY, istri keempat yang tak pernah dikasih uang jajan oleh suami, memilih jadi pembantu untuk menyambung isi lambung.

Sumiati yang gara-gara marah dengan orang tuanya memutuskan merantau dan jadi pembantu di Jakarta. Tangis Sumiati bahkan pecah demi mengingat alasan ia kabur dari rumah. Tentu masih ada bejibun pembantu lain yang tak tercatat nama dan kisahnya. Kita hanya dapat melihat mereka sebagai angka yang tak jelas benar jumlahnya.

Yang jelas hanya: pokoknya banyak. Misalnya, di Kabupaten Kulonprogo saja, pada kurun waktu 1998-2005, dalam satu desa, bisa lebih dari 50 orang merantau jadi pembantu rumah tangga, entah di kota lain, pulau lain, atau negeri lain (Soetjipto da Adelina, 2013).

Mereka pergi membawa dan meninggalkan air mata. Kita bisa membayangkan di tiap wajan, panci, dan penanak nasi yang kelak jadi santapan maknyus di meja makan itu, di sana mengalir air mata, dan kesunyian desa-desa.

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom