Pembangunan Parapet Sungai BKT Berkejaran dengan Penghujan
Proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) Semarang, Rabu (26/9/2018). (Antara-R. Rekotomo)

Semarangpos.com, SEMARANG — Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana berkejaran dengan musim penghujan dalam membangun parapet sungai dalam proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). "Kalau parapetnya tidak segera dibangun, warga nanti yang rugi kena banjir. Sekarang ini kan sudah memasuki musim hujan," kata Kepala BBWS Pemali-Juana Ruhban Ruziyatno di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/10/2018).

Ia khawatir air Sungai BKT melimpas ke rumah-rumah warga jika pembangunan parapet sungai tidak segera rampung sebelum puncak musim penghujan. Pengerjaan normalisasi Sungai BKT Semarang masih menghadapi kendala sosial, antara lain relokasi lapak pedagang kaki lima (PKL) di bantaran sungai yang tidak kunjung rampung.

Setidaknya, kata dia, masih ada bangunan atau lapak PKL yang berada di bantaran sungai di empat kelurahan, yakni Mlatiharjo, Rejosari, Bugangan, dan Karangtempel. "Bahkan, di Kelurahan Tanjung Mas masih ada 97 kepala keluarga (KK) yang belum direlokasi. Itu masuk bagian paket I. Sampai sekarang belum direlokasi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa proyek normalisasi Sungai BKT sepanjang 6,7 km, mulai Jembatan Majapahit hingga muara dibagi dalam tiga paket yang dikerjakan secara bersamaan oleh kontraktor yang berbeda. Yang jelas, simpul dia, pengerjaan terus dikebut karena target penyelesaian maju dari 2019 menjadi akhir 2018 sehingga perlu dilakukan berbagai langkah percepatan.

Persoalannya, kata Ruhban, faktor sosial masih menjadi kendala utama yang belum terselesaikan, yakni masih adanya bangunan PKL dan hunian liar di bantaran Sungai BKT. Dari ketiga paket pengerjaan normalisasi Sungai BKT yang ditangani masing-masing kontraktor sudah berjalan bagus, lanjut dia, tetapi dikhawatirkan adanya kendala tersebut.

"Kalau progresnya sudah bagus. Hanya saja, kalau masalah sosial ini belum selesai, kami khawatir pengerjaannya sampai Desember nanti belum selesai," katanya. Demi mengantisipasi keterlambatan pengerjaan, kata Ruhban, masing-masing kontraktor juga memilih pengerjaan langsung di kawasan-kawasan yang sudah bersih dari PKL dan hunian liar.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom