Kondisi lahan di Dukuh Goketen, Desa Sidodadi, Masaran, Sragen, yang diuruk pakai limbah batu bara, Selasa (10/9/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN —Pembangunan masjid dan pondok pesantren di Dukuh Goketen RT 020, Desa Sidodadi, Masaran, Sragen, dipermasalahkan sebagian warga sekitar yang tidak setuju dengan penggunaan limbah batu bara untuk menguruk lahan.

Pantauan Solopos.com di lokasi, Selasa (10/9/2019), sebagian besar limbah batu bara itu sudah ditimbun di lahan seluas 2.300 meter persegi. Sebagian limbah batu bara itu masih berada di dalam karung.

Sebagian timbunan limbah batu bara itu sudah ditutup tanah cadas. Yanto, 37, warga setempat, mengatakan pembangunan masjid dan ponpes itu sudah direncanakan sejak dua tahun lalu.

Secara swadaya warga sudah mengumpulkan dana hingga Rp500 juta untuk membeli lahan seluas 2.300 meter persegi tersebut. Proses pengurukan lahan untuk pembangunan masjid dan ponpes itu sudah dimulai setahun lalu.

Pada saat itu, warga sudah bermusyawarah guna menyiasati keterbatasan anggaran untuk menguruk lahan. “Kalau diuruk pakai tanah cadas, biayanya bisa membengkak hingga Rp80 juta. Tapi kalau diuruk dengan limbah batu bara itu, biayanya jauh lebih murah karena tidak sampai 50% [dari Rp80 juta],” terang Yanto kala ditemui Solopos.com di lokasi.

Sejak proses pengurukan lahan dimulai setahun lalu, kata Yanto, terdapat beberapa warga yang keberatan atas penggunaan limbah batu bara. Akibat penolakan dari sebagian warga itu, dana senilai Rp1,5 miliar bantuan dari Timur Tengah untuk pembangunan masjid tersebut batal cair.

Menurutnya, sebagian besar warga Dukuh Goketen dari RT 018 hingga RT 021 setuju terkait penggunaan limbah batu bara untuk menguruk lahan. Proses pengurukan lahan itu pun akhirnya tetap dilanjutkan secara pelan-pelan.

“Dalam pertemuan warga tahun lalu, sudah ada voting. Dari 45 KK [kepala keluarga] di RT 018, ada sekitar empat orang yang tidak setuju. Dari 26 KK di RT 019, semuanya setuju. Dari 42 KK di RT 020, yang tidak setuju hanya delapanorang. Dari 38 KK di RT 21, yang tidak setuju ada sembilan orang. Karena berdasar voting lebih banyak yang setuju, keputusannya pembangunan masjid dan ponpes tetap dilanjutkan,” ucap Yanto.

Meski sudah dimulai tahun lalu, penggunaan limbah batu bara untuk menguruk lahan itu baru ramai di media sosial dalam sepekan terakhir. Ada warga yang tidak setuju dengan penggunaan limbah batu bara itu lalu mengunggah foto dan videonya ke media sosial.

Mereka khawatir limbah itu akan mencemari air sumur warga. "Padahal, saya sudah 10 tahun menggunakan limbah batu bara untuk menguruk lahan di halaman rumah. Saya melapisinya dengan tanah cadas dan permukaannya dicor beton. Nyatanya, air sumur saya tidak tercemar sampai sekarang,” paparnya.

Camat Masaran, Agus Winarno, sudah menyurvei lokasi lahan yang ditimbun menggunakan limbah batu bara tersebut. Pemerintah Kecamatan Masaran juga sudah memediasi warga dengan panitia pembangunan masjid dan ponpes.

“Kami minta semuanya bisa menahan diri. Kami dari Pemerintah Kecamatan Masaran sedang mengajukan kajian kepada Dinas LH [Lingkungan Hidup] untuk memastikan limbah batu bara itu berbahaya atau tidak. Masyarakat harus bersabar dulu. Apa lagi dalam waktu dekat ada pilkades. Semua pihak harus bisa menjaga kondusivitas,” terang Agus Winarno.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten