Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Mochamad Syamsiro (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Persoalan sampah di Kota Solo menjadi menarik untuk didiskusikan ketika Pemerintah Kota Solo memilih alternatif pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah dan menjadi berita di halaman pertama surat kabar ini beberapa waktu yang lalu (Solopos, 22 Desember 2020).

Yang menjadi pembahasan menarik adalah judul yang judul berita yang mempertanyakan apakah pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah menjadi solusi atau justru menimbulkan masalah.

Dalam berita itu ada penjelasan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah yang mengutip hasil kajian Walhi nasional yang mengkhawatirkan potensi dampak buruk bagi kesehatan manusia dari pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah.

Potensi dampak buruk itu dari hasil beberapa jenis senyawa kimia yang berasal dari proses pengolahan sampah di pembangkit listrik tenaga sampah, antara lain dioksin. Pembahasan tersebut sampai kesimpulan bahwa Pemerintah Kota Solo layak meninjau kembali kebijakan penggunaan teknologi termal pada pembangkit listrik tenaga sampah di tempat pembuangan akhir sampah Putri Cempo.

Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh Walhi terkait pembangunan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di tempat pembuangan akhir Putri Cempo, saya sebagai akademisi, peneliti, dan praktisi di bidang teknologi pengolahan sampah menjadi energi, khususnya dengan teknologi termal, merasa terpanggil untuk meluruskan informasi yang tidak tepat terkait dengan teknologi termal.

Yang dimaksud dengan teknologi termal adalah proses pengolahan sampah pada suhu yang sangat tinggi hingga mencapai 1.000 derajat Celsius untuk membakar sampah hingga hanya tersisa abu yang jumlahnya sedikit, hanya sekitar 10%.

Teknologi Termal

Berbicara mengenai teknologi termal ada beberapa skema untuk mengubah sampah menjadi energi atau listrik. Yang pertama adalah teknologi pembakaran atau insinerasi dan biasa disebut pembangkit listrik tenaga sampah.

Sampah dibakar untuk menghasilkan energi panas sebagai penggerak turbin untuk memutar generator penghasil listrik. Pada prinsipnya ada empat tahapan proses insinerasi, yaitu proses pre-treatment, proses pembakaran, proses energy recovery, dan penanganan gas buang.

Teknologi pembakaran saat ini sudah sangat mature atau maju dan banyak digunakan di beberapa negara, di antaranya yang pernah saya kunjungi yaitu di Jepang, Taiwan, dan Tiongkok. Jangan dibayangkan pembakaran sampah seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat selama ini.

Teknologi ini menjamin pengolahan sampah yang sangat bersih dan sampah tidak tercecer ke mana-mana. Ada dua keuntungan yang bisa diperoleh daris sistem pembangkit listrik tenaga sampah ini, yaitu musnahnya sampah dan energi listrik yang dihasilkan.

Yang berikutnya adalah teknologi pirolisis dan gasifikasi. Pirolisis merupakan teknologi pemanasan sampah tanpa menggunakan udara dalam prosesnya. Sampah plastik dan karet ban bekas dapat dikonversi menjadi bahan bakar minyak dengan teknologi ini.

Gasifikasi adalah proses pembakaran dengan udara terbatas sehingga menghasilkan bahan bakar gas yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik maupun kebutuhan lainnya. Teknologi lain yang bisa diterapkan adalah dengan perlakuan hidrotermal untuk menghasilkan bahan bakar padat berupa refused derived fuel atau RDF.

Emisi

Untuk dapat memahami dan meyakinkan masyarakat tentang pentingnya penggunaan teknologi dalam pengelolaan dan pengolahan sampah, khususnya teknologi termal, perlu ada penjelasan yang lebih terperinci lagi sehingga tidak ada lagi kontroversi dalam penerapan teknologi tersebut.

Ada banyak teknologi yang bisa diterapkan untuk mengolah sampah menjadi sumber energi atau listrik. Kebutuhan bahwa teknologi tersebut harus berbasis teknologi ramah lingkungan dan bisa mengurangi volume sampah secara signifikan dalam waktu yang tidak lama menyimpulkan pilihan teknologi termal menjadi satu-satunya yang cocok dengan kebutuhan tersebut.

Untuk menangani polusi yang dihasilkan dari proses pembakaran di insinerator, mesin harus dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang terdiri atas tiga alat utama, yaitu unit pengolahan gas buang, unit pengolahan limbah cair, dan unit penanganan odor.

Unit pengolahan gas buang berfungi mengurangi gas asam dan partikulat di gas buang. Unit ini terdiri atas pemisah debu dengan sistem siklon, scrubber semikering, dan fabric filter baghouse. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa keluaran gas memenuhi regulasi yang ditetapkan pemerintah.

Pemisah debu siklon dipasang di sisi keluar gas buang untuk mengumpulkan partikulat dalam gas buang. Bag house filter dipasang di ujung unit penanganan gas. Setelah melewati pemisah siklon kemudian komponen asam dieliminasi melalui scrubber semikering diikuti penurunan suhu dan kemudian masuk ke bag house untuk menghilangkan partikulat.

Karbon aktif juga digunakan pada sistem ini untuk menyerap logam-logam berat dan dioksin. Sebagai bagian dari demokrasi yang sudah dijalankan di negara kita sejak era reformasi, menelaah secara kritis kebijakan pemerintah sangat diperlukan untuk mewujudkan tata kelola yang baik, termasuk dalam hal pengelolaan sampah.

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang teknologi secara akademis juga merupakan suatu keharusan agar masyarakat dapat menilai sisi positif dan negatif secara lebih fair tanpa perlu menggiring opini publik. Fakta bahwa ribuan pembangkit listrik tenaga sampah telah dibangun di seluruh dunia, termasuk di negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa, adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah.

Dengan demikian akan diperoleh suatu keputusan yang terbaik dari pemerintah daerah atau pemerintah kabupaten/kota dalam hal pengelolaan sampah sehingga masyarakat akan memperoleh dampak positif dari kebijakan tersebut.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom