Eko Nur Cholis, 35, kembali dipasung keluarga setelah ditemukan telantar di kawasan Pasar Bunder pekan lalu. Foto diambil di rumahnya di Dusun Gondang Panjen, Desa Jono, Tanon, Sragen, Minggu (12/6/2017). (JIBI/Solopos/Istimewa)

Pemasungan di Sragen dialami warga Desa Jono, Tanon.

Solopos.com, SRAGEN -- Warga Dusun Gondang Panjen, Desa Jono, Tanon, Sragen, Eko Nur Cholis, 35, kembali dipasung. Tiga bulan lalu dia diserahkan kepada negara untuk dirawat Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, namun sejak pekan lalu Eko ditemukan telantar di Pasar Bunder Sragen. Kini Eko kembali dirawat oleh pihak keluarga.

Eko Nur Cholis, 35, kembali dipasung keluarga setelah ditemukan telantar di kawasan Pasar Bunder pekan lalu. Foto diambil di rumahnya di Dusun Gondang Panjen, Desa Jono, Tanon, Sragen, Minggu (12/6/2017). (JIBI/Solopos/Istimewa)
Eko Nur Cholis, 35, kembali dipasung keluarga setelah ditemukan telantar di kawasan Pasar Bunder pekan lalu. Foto diambil di rumahnya di Dusun Gondang Panjen, Desa Jono, Tanon, Sragen, Minggu (12/6/2017). (JIBI/Solopos/Istimewa)

Pekan lalu, Eko ditemukan oleh tetanganya sendiri yang kebetulan berjualan buah semangka di kompleks Pasar Bunder. Oleh tetangganya itu, Eko diantar ke rumahnya sendiri.

Kepulangan Eko ke rumahnya sendiri itu membuat kaget ibunya, Paniyem, 55, dan adik-adiknya.

“Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kakak saya itu kabur saat berada di panti rehabilitasi. Tapi, apa mungkin pasien di panti rehabilitasi itu mudah kabur. Atau jangan-jangan, dia sengaja dibuang di jalan,” kata adik Eko, Tri Apriyanto, 30, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Minggu (12/6/2016).

Muh. Fadhil, 18, adik Eko lainnya, mengatakan sudah belasan tahun kakaknya menderita gangguan jiwa. Selama dirawat di rumah, Eko kerap membuat ulah.

”Pada 17 Maret lalu, petugas dari Dinsos dan DKK Sragen datang ke rumah untuk menjemput kakak saya. Mereka menyatakan negara ingin merawat kakak saya guna menyukseskan program Jawa Tengah Bebas Pasung pada 2016. Saat itu, kami ikhlas menyerahkan kakak kepada negara, namun kami tidak diberi tahu di mana kakak saya akan dirawat,” terang Fadhil.

Tri Apriyanto dan Fadhil mempertanyakan keseriusan negara untuk merawat kakaknya yang menderita gangguan jiwa tersebut. Jika serius ingin merawat Eko, kata Fadhil, mestinya dia tidak dibiarkan kabur dari panti rehabilitasi.

”Kami ikhlas menyerahkan dia ke negara, tetapi harus kopen [dirawat dengan baik]. Kalau dia ditelantarkan itu namanya tidak kopen, kami tentu tidak ikhlas,” terang Fadhil.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinsos Sragen, Purwadi Joko Haryanto, mengaku belum mendapat informasi terkait hal itu. Dia mengaku akan mencari tahu informasi itu kepada anak buahnya dahulu.

”Sementara saya belum dapat laporan. Saya perlu menanyakan kepada kabid dan kasi dulu,” terang dia saat dihubungi via telepon.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten