Peluang Energi Murah dan Bersih
Yoga Ernanto Prabowo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Pada dekade 1980-an, Amerika Serikat merupakan rumah untuk sekitar 80% kapasitas angin dunia dan 90% untuk kapasitas energi surya sehingga negara itu memiliki potensi ekonomi energi bersih terbesar kala itu.

Hari ini Tiongkok memiliki kapasitas angin terbesar dan Jerman memiliki kapasitas energi surya terbesar. Keduanya berinvestasi melebihi Amerika Serikat pada energi bersih saat ini. Hari ini pula negara-negara lain melakukan ekspor teknologi yang dirintis Amerika Serikat serta menciptakan lapangan pekerjaan baru pada sektor energi bersih.

Mereka paham bahwa bangsa yang memimpin ekonomi energi terbarukan pada abad ke-21 akan menjadi bangsa yang memimpin ekonomi global pada abad ke-21. Begitulah intisari penggalan pidato kebijakan energi Presiden Amerika Serikat Barrack Obama pada 30 Maret 2011 di Georgetown University, Washington D.C., Amerika Serikat.

Pada awal 2020 dunia diguncang oleh pandemi pneumonia yang diakibatkan oleh virus corona. Sebelum bencana global virus tersebut, dunia mengurusi dampak pemanasan global yang tertuang dalam Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi karbon agar dunia tidak bertambah hangat sebesar 2 derajat Celcius hingga akhir abad ke-21 ini.

Perang (baca: persaingan) antarnegara di planet ini terjadi salah satunya karena sumber daya alam. Perang sumber daya alam mungkin memiliki kesamaan dengan perang energi surya, angin, dan air yang menjadi inti pencarian energi bersih.

Arab Saudi yang merupakan produsen minyak berbiaya termurah di dunia melirik energi surya dan dan energi terbarukan lainnya. Khalid Al-Falih selaku kepala eksekutif perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, mengatakan investasi energi bersih sebagai salah satu strategi diversifikasi bisnis hidrokarbon-plus.

Tiongkok melalui SinoHydro membangun pembangkit listrik tenaga air PLTA tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di beberapa lokasi di Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Selatan. Di Afrika Utara, Desertec Foundation menjadikan desalinasi air sebagai salah satu tujuan proyek-proyek energi surya.

Di luar sana dan di ribuan lokasi lainnya di seluruh dunia, para insinyur inovatif, akademisi, konglomerasi, dan pengusaha (serta mungkin juga politikus) berkolaborasi mengeksplorasi dan meriset, bersaing dan bekerja dengan metode-metode baru dan termutakhir untuk memenuhi kebutuhan khusus energi bersih.

Sebagaimana seruan Barack Obama hampir satu dekade yang lalu untuk memajukan green economy Amerika Serikat, beberapa teknologi utama yang dikembangkan telah diperbaiki dan ditingkatkan oleh produsen-produsen yang inovatif dan berbiaya murah dari Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Denmark, Korea Selatan, dan Taiwan.

Tiongkok dan India dengan cepat menjadi pemimpin global untuk energi surya dan angin. Turbin angin skala besar yang mengandalkan magnet permanen dibangun melalui eksplorasi produk-produk pertambangan yang sangat penting seperti dypsrosium, neodymium, praseodymium, dan samarium.

Hal yang sama pentingnya juga bahan galian tambang untuk komponen sel surya yaitu indium, gallium, dan tellurium. Pakar industri Amerika Serikat, Jack Lifton, mengatakan pentingnya negara untuk fokus atas ketersedian rantai pasokan bahan galian mineral langka sebagai salah satu komponen utama pendukung teknologi energi terbarukan untuk kepentingan jangka panjang energi bersih di masa depan.

Saat ini komponen sel surya (photovoltaic) dipandang sebagai cara yang lebih murah dan lebih cepat untuk mendapatkan dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Di Amerika Serikat, biaya pembangkitan listrik berbasis energi surya adalah sebesar US$13 sen per KwH atau setara 1.800 rupiah per KwH,

Bandingkan dengan biaya pembangkitan listrik berbasis minyak yang hampir Rp3.600 per KwH, PLTS bisa menekan operasional hampir 50% lebih. Sel surya mungkin lebih murah, namun selain itu faktor kunci untuk tenaga surya dan mungkin energi bersih lainnya adalah apakah sumber energi tersebut memiliki kemampuan penyimpanan daya listrik yang besar.

Energi bersih tidak mungkin tersedia secara terus-menerus. Sebagai contoh, matahari tidak mungkin tersedia selama 24 jam atau energi angin tidak mungkin dalam kondisi stabil untuk terus-menerus memutar turbin.

Diperlukan kapasitas penyimpanan daya yang cukup besar sebagai buffer energy storage sebelum disalurkan ke gardu dan grid transmisi tenaga listrik. Tentu infrastruktur storage energy ini memerlukan investasi yang sangat besar jika menggunakan teknologi litium yang berkembang saat ini.

Korporasi dan Pemerintah

Perusahaan di Amerika Serikat, Solana Energy Alliance, berinvestasi senilai USS$2 miliar untuk teknologi penyimpanan daya atau baterai yang digunakan untuk kapasitas pembangkit listrik tenaga surya sebesar 280 MW.

Dengan nilai investasi sebesar itu, perusahaan tersebut memerlukan bantuan pinjaman keuangan dari pemerintah Amerika Serikat. Proyek-proyek energi surya dengan skala besar di Amerika Serikat dan di beberapa negara lain adalah salah satu contoh nyata energi bersih mendapatkan dukungan nyata dari pemerintah pusat dan korporasi besar multinasional.

Google yang mendukung Ivanpah, misalnya, juga merupakan salah satu investor utama dua pembangkit listrik tenaga angin Amerika Serikat dengan total kapasitas hampir 2.000 MW. Investasi itu belum termasuk jaringan transmisi bawah laut sepanjang 300 kilometer yang menyalurkan listrik dari generator-generator lepas pantai di sepanjang pantai timur Amerika Serikat.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Department Energi juga memberikan program pinjaman melalui komitmen bersyarat senilai US$38 miliar untuk proyek energi terbarukan. Pada akhirnya menimbulkan pertanyaan apakah sektor bisnis energi terbarukan dapat berdiri sendiri secara business to business atau memerlukan subsidi semacam itu jika di negara sekaliber Amerika Serikat saja masih perlu dukungan total pemerintah, setidaknya ini yang harus digarisbawahi Indonesia.

Siapa pun tidak akan meragukan atau skeptis bahwa batu bara masih akan menjadi bagian terpenting dalam pasokan utama ketenagalistrikan hingga 20 tahun mendatang. Kontribusi yang meningkat mengakibatkan muncul respons teknologi baru terkait pemanfaatan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berteknologi rendah karbon dalam beberapa tahun ini.

Jepang, Tiongkok, India, dan Jerman berinvestasi pada pengembangan PLTU superkritis dan PLTU ultra-super-kritis yang bertujuan mengurangi efek rumah kaca akibat konsumsi energi fosil berbahan batubara.

Indonesia juga tidak ketinggalan dalam implementasi teknologi ini sejak 2012. Berbagai independent power producer baru dalam berbagai kapasitas sudah menerapkan teknologi ini. Dengan teknologi ini efisiensi rata-rata pembangkit listrik bisa meningkat dari 28% menjadi 45%.

Pada masa depan metode dan teknologi pembangkitan tenaga listrik memang bisa berubah, tetapi tidak akan cukup cepat untuk mengurangi emisi yang akan membatasi pemanasan global kurang dari 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, yakni masa sebelum revolusi industri I atau sebelum tahun 1700-an, sesuai kesepakatan Perjanjian Paris pada 2010.

Dalam perjanjian itu disebut  pada tahun 2100 atau akhir abad ke-21 suhu bumi akan naik sebesar 2 derajat Celcius di atas suhu rata-rata pada tingkat pra-industri jika setiap negara tidak melakukan upaya mengurangi dampak pemanasan global.

Berdasarkan ratifikasi tersebut, IEA memproyeksikan bahwa peran energi terbarukan dalam sistem pembangkit listrik akan tumbuh lebih dari 32% pada 2035, sedangkan batu bara pada 2035 diproyeksikan sebesar 32%, minyak dan gas menjadi 23%, sisanya 13% berasal dari teknologi nuklir, torium, dan sejenisnya.

Perkembangan teknologi nano dan semikonduktor yang semakin pesat serta munculnya pemain pabrikan baru berbiaya murah di Tiongkok dan Asia Timur dalam proyek-proyek energi terbarukan, yang didukung penemuan operasional penambangan baru terhadap bahan galian bauksit, litium, dan sebagainya akan mengakibatkan biaya investasi sektor energi bersih menjadi lebih kompetitif.

Kita tinggal menunggu beberapa dekade lagi bahwa booming energi terbarukan tidak akan kalah dahsyat seperti booming minyak pada tahun 1970-an. Siapa yang lebih dahulu bermain dan berinvestasi secara massal di sektor ini akan mendulang keuntungan beberapa tahun kemudian.

Implementasi target rasio energi terbarukan sebesar 32% mungkin kini menghadapi tantangan yang tidak mudah dengan adanya pandemi Covid-19. Negara-negara fokus memulihkan sektor ekonomi pascapandemi. Sekali lagi, teknologi akan selalu menemukan jalan di tempat dan waktu yang tepat.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom