Suasana Terminal Wisata Ngargoyoso, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Rabu (16/10/2019). (Solopos-Wahyu Prakoso)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sejumlah pelaku wisata Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, keberatan terhadap rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melarang bus pariwisata melewati tiga jalur menuju destinasi wisata.

Berdasarkan pantauan solopos.com, Rabu (16/10/2019) pukul 10.00 WIB sampai 11.30 WIB, tidak ada bus pariwisata yang parkir di Terminal Wisata Ngargoyoso. Lalu lintas dari Karanganyar menuju Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, cukup lengang.

Arus lalu lintas tersendat dengan diberlakukannya akses buka tutup jalan pada jalur Sudimoro-Ngargoyoso. Buka tutup jalan dilakukan karena terdapat proyek perbaikan jalan sepanjang 1,07 kilometer dengan lebar jalan enam meter menggunakan kontruksi beton.

Salah satu pedagang di sekitar Terminal Wisata Ngargoyoso, Ny. Ragil Pemungkas, 47, mengatakan, keberatan dengan kebijakan penutupan akses jalan bagi bus pariwisata. Kunjungan wisatawan dengan bus pariwisata dapat meningkatkan omzet secara signifikan.

"Kalau hari biasa jarang ada bus. Kadang enggak ada bus. Tapi kalau Sabtu, Minggu, dan hari libur lahan parkir bisa penuh," katanya kepada solopos.com.

Dia menjelaskan pada hari biasa memperoleh omzet sekitar Rp8 juta dan sekitar Rp15 juta pada hari libur karena banyaknya wisatawan yang berbelanja.

"Saya sudah berjualan 11 tahun. Sebelum ada terminal wisata omzetnya sedikit. Setelah terminal diresmikan omzetnya naik. Takutnya kalau akses bus pariwisata dibatasi menurunkan omzet," ungkapnya.

Pemilik Resto Kemuning, Suroto, menjelaskan keberatan dengan rencana pelarangan bus pariwisata melintasi jalur Sudimoro-Ngargoyoso dan Srandon-Puntukrejo karena berdampak kepada jumlah kunjungan wisatawan.

“Lima rombongan yang booking ke tempat kami pada bulan November memutuskan cancel. Dampaknya besar karena jumlah rombongan tersebut sekitar 1.200 orang,” ujarnya.

Menurut Suroto, perlu adanya kajian mendalam terkait kebijakan yang diambil Pemkab Karanganyar supaya pelaku pariwisata tidak tidak dirugikan. Ia berharap Pemkab memberikan fasilitas jalan yang aman dilalui bus pariwisata.

“Kami mendukung kebijakan pemerintah untuk membangun pariwisata Ngargoyoso. Apabila ingin menghidupkan Terminal Wisata Mbangun Makhutoromo bisa merangkul kami untuk menyediakan pusat oleh-oleh lengkap,” katanya.

Senada dengan Suroto, Direktur Operasional Bali Ndeso Group, Yanuar Irawadi, meminta Pemkab Karanganyar membuat kajian yang mendalam dan melibatkan pelaku wisata sebelum mengambil kebijakan tersebut. Setelah hasil kajian mendukung pelarangan bus pariwisata, dilakukan uji coba dan evaluasi untuk mengurangi pengaruh dari kebijakan.

“Pemkab wajib menyiapkan infrastruktur supaya pengaruhnya tidak banyak dan pelaku pariwisata Ngargoyoso tidak dirugikan. Usaha kami sedikit terdampak dengan rencana tersebut. Tapi tidak signifikan karena pasar kami lebih kepada kendaraan kecil,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, menerima aspirasi pelaku pariwisata. Ia mengambil kebijakan untuk melakukan sosialisasi hingga akhir tahun.

“Sudah banyak yang menyampaikan ke saya. Saya sampaikan Kepala Disparpora. Kalau belum ada armada yang mencukupi yang disiapkan dari Terminal Mbangun Makhutoromo. Sementara sambil dipersiapkan untuk itu. Saya minta yang sudah berjalan biarkan saja jangan dilarang. Kami toleransi hingga akhir tahun” katanya.

Dia menjelaskan armada yang tidak nyaman justru akan merugikan pengunjung dan Pemkab Karanganyar. Ia membuka peluang bagi pengusaha yang ingin menyediakan bus untuk wisata.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten