Tutup Iklan

Pelaku Usaha Empon-Empon Boyolali Ikut Terpukul Dampak PPKM Darurat

Kalangan pelaku usaha empon-empon di Kabupaten Boyolali turut terdampak PPKM darurat yang dilanjut dengan PPKM level.

 Seorang pedagang empon-empon di Pasar Besar Madiun menata jahe di lapaknya, Jumat (6/3/2020). (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

SOLOPOS.COM - Seorang pedagang empon-empon di Pasar Besar Madiun menata jahe di lapaknya, Jumat (6/3/2020). (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

Solopos.com, BOYOLALI — Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat dan PPKM level di Boyolali berdampak pada pelaku usaha di berbagai sektor, tak terkecuali usaha empon-empon.

Seperti diketahui, PPKM darurat yang berlangsung pada 3-20 Juli dan dilanjut dengan PPKM level hingga saat ini mengatur berbagai macam pembatasan aktivitas masyarakat. Hal itu ditujukan untuk menangani dan meminimalkan persebaran Covid-19.

Salah satu pengusaha empon-empon di wilayah Nogosari, Kabupaten Boyolali, Suwarno, mengatakan penjualan empon-empon sebenarnya mengalami peningkatan saat pandemi Covid-19. Hanya, pengiriman barang ke luar daerah menjadi terhambat akibat penyekatan jalan di sejumlah lokasi selama PPKM darurat.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Boyolali Menurun, Sudah Sepekan di Zona Kuning

“Pengirimannya yang terhambat, karena ada penyekatan-penyekatan. Sebetulnya daerah yang mengeluarkan empon-empon juga sama sekali tidak boleh keluar. Ini kendala saya untuk memproses, untuk pengiriman barang juga sulit,” kata pelaku usaha empon-empon Boyolali itu dalam rilis yang diterima Solopos.com, belum lama ini.

Ia mengatakan empon-empon yang dijualnya biasanya dipesan oleh pelanggan baik yang ada di Jawa maupun luar Jawa. Untuk wilayah luar Jawa di antaranya Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Sedangkan Pulau Jawa biasa dikirim ke Jakarta.

Empon-Empon Paling Diminati

Suwarno menjelaskan jenis empon-empon yang paling diminati pelanggan adalah temulawak, kayu secang, jahe merah dan kunyit. Sebelum adanya PPKM, dalam sekali pengiriman ia bisa mengirim lima hingga enam ton empon-empon.

Baca Juga: Sepi Hajatan Gegara Pandemi, Pengusaha Boyolali Ini Obral Murah Sound System untuk Beli Beras

Namun dengan adanya PPKM, pelaku usaha empon-empon Boyolali itu hanya bisa mengirim lima kuintal hingga satu ton saja melalui pemesanan online. Sementara itu, PPKM darurat-level juga berdampak pada usaha ternak ayam.

Peternak ayam di Desa Pusporenggo, Boyolali, Raditya Herlambang, mengaku kesulitan dalam melepas ayam-ayamnya ke pasaran karena permintaan berkurang. Aktivitas masyarakat yang dibatasi juga berdampak pada penjualan barang di pasar. “Apalagi orang punya hajat juga dibatasi, tidak ada perayaan [pesta],” katanya, belum lama ini.

Baca Juga: Presiden Jokowi Minta Ngemplak Boyolali Disiapkan Jadi Percontohan Pertanian Terintegrasi

Pada Jumat (30/7/2021), pelaku usaha persewaan sound system asal Nogosari, Riyanto, terpaksa harus menjual perangkat sound system miliknya karena sepi order. “Dua tahun tidak ada order. Hari ini misalnya ada order, besok tiba-tiba dibatalkan,” katanya, Minggu (1/8/2021).

Ia mengaku beberapa hari ini harus membawa perangkat sound system miliknya ke pinggir jalan untuk dijual, karena untuk mencukupi keperluan sehari-harinya.

Berita Terkait

Berita Terkini

320 Petani Milenial Klaten Diusulkan Ikut Pelatihan di Kementan

Pemkab Klaten mengusulkan ratusan petani milenial yang umurnya di bawah 40 tahun ikut pelatihan dari Kementerian Pertanian.

Apa Kabar Rencana Gedung RSUD Sukoharjo di Bekas Terminal Kartasura?

Saat pemerintahan Bupati Wardoyo Wijaya, lahan bekas Terminal Kartasura diproyeksikan untuk gedung unit II RSUD Ir Soekarno Sukoharjo.

Tak Sanggup, Pengelola Serahkan Rusunawa Begalon I ke Wali Kota Solo

Pengelola Rusunawa Begalon I Solo menyerahkan pengelolaan rusunawa tersebut ke Wali Kota Solo karena sudah tidak sanggup.

Populasi Kucing Jalanan Soloraya Naik saat Pandemi Corona, Mau Adopsi?

Pegiat komunitas pencinta kucing, Rudimeong, mengajak masyarakat untuk mengadopsi kucing jalanan ketimbang membeli.

Sebelum Terbakar, Pasar Janglot Sragen Pernah Hampir Direvitalisasi

Pasar Janglot, Tangen, Sragen, yang terbakar pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari pernah hampir direvitalisasi beberapa tahun lalu.

Sudah Ada PJU, Warga Karangasem Sukoharjo Tak Perlu Takut Keluar Malam

Belasan lampu PJU bertenaga surya kini menerangi jalan Desa Karangasem, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, bantuan dari Kementerian ESDM.

Pertandingan Pembuka Liga 2 di Stadion Manahan Solo Dijaga 350 Polisi

Pertandingan pembuka kejuaraan sepak bola Liga 2 di Stadion Manahan Solo, Minggu sore, dijaga ratusan aparat kepolisian.

Brankas Berisi Rp300 Juta Selamat dari Kebakaran Pasar Janglot Sragen

Brankas berisi uang Rp300 juta selamat dari kebakaran Pasar Janglot, Tangen, Sragen, yang menghanguskan puluhan kios dan los.

Unik! Ada Ormas Bernama Polokendho di Soloraya, Apa Saja Kegiatannya?

Organisasi kemasyarakatan atau ormas di Soloraya ini punya nama unik yakni Polokendho, anggotanya dari berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan.

Innalillahi, Warga Solo Meninggal Mendadak Saat Piknik di Karangpandan

Warga Sangkrah, Solo, meninggal dunia secara mendadak saat hendak makan sambil menikmati pemandangan di Karangpandan, Karanganyar.

Polisi Ungkap Cara Pengedaran Upal Boyolali, Dijual hingga Modus Klenik

Pengedaran upal oleh komplotan yang tertangkap di Mojosongo, Boyolali, dilakukan dengan beberapa cara salah satunya modus klenik.

Penganut Hindu Klaten Minta Bangunan Tol Solo-Jogja Tak Tutupi Yoni

Penganut Hindu di Klaten meminta agar bangunan tol Solo-Jogja tak berada tempat di atas atau menutup yoni di tengah sawah Keprabon.

4 Jam Api Membara, Puluhan Los-Kios Pasar Janglot Sragen Jadi Arang

Kebakaran yang berlangsung selama empat jam menghanguskan puluhan los dan kios di Pasar Janglot, Kecamatan Tangen, Sragen.

Ada DPC PDIP di Jateng Dukung Ganjar, Ini Komentar Wawali Solo

Wawali Solo Teguh Prakoso yang juga Sekretaris DPC PDIP Solo menanggapi ihwal dukung mendukung Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.

Selain Bhre-Paundra, Sosok Ini Dinilai Layak Pimpin Mangkunegaran Solo

Selain Bhre dan Paundra yang merupakan putra Mangkunagoro IX, ada sosok lain yang dianggap layak memimpin Pura Mangkunegaran Solo.