Pelajaran Dari Gawok

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 23 April 2021. Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

 Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Daerah ini berjarak tak begitu jauh dari Kota Solo. Namanya Gawok. Lokasinya di wilayah Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo. Jaraknya hanya 10 kilometer dari pusat Kota Solo. Kalau diukur dari Stasiun Balapan, hanya berjarak sekitar 11 kilometer.

Dari Stasiun Purwosari hanya Sembilan kilometre. Hanya sepelemparan batu. Begitu kata orang Minang yang suka bikin paribasan. Di Gawok ada stasiun kereta api kelas III. Stasiun kecil. Lokasinya berada dalam wilayah kekuasaan PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi VI Yogyakarta.

Stasiun itu kali pertama dibuka tahun 1871, zaman penjajahan Belanda. Pada era kemerdekaan, pemerintah membangun kembali Stasiun Gawok pada 1950-an. Stasiun kembali direhab pada tahun 2005-2006. Keberadaannya sudah lama seperti stasiun "mati".

Sejak awal Maret 2021 lalu, Stasiun Gawok tiba-tiba bangun dari tidur panjang. Sejak 10 Februari 2021, Stasiun Gawok mulai melayani penumpang kereta rel listrik alias KRL Jogja–Solo Balapan. Selain Gawok, ada tiga stasiun lain--yakni Stasiun Delanggu, Stasiun Ceper, dan Stasiun Srowot--yang kembali diaktifkan.

Tentu saja aktivasi ulang Stasiun Gawok menjadi sangat strategis bagi penduduk sekitar. Terlebih lokasi stasiun ini tidak jauh dari Pasar Gawok. Begitu stasiun itu "diaktifkan" untuk transit KRL Solo-Jogja, geliat ekonomi mulai kelihatan.

Tanah-tanah di sekitar stasiun menjadi incaran untuk tempat hunian. Pekerja atau profesional yang bekerja di Kota Solo menjadi lebih nyaman untuk mencari lokasi tinggal di sekitar Stasiun Gawok. Bukan hanya nilai keekonomian kawasan yang menanjak naik, geliat ekonomi juga semakin terlihat.

Dari Ekspedisi KRL Solopos beberapa waktu lalu, tampak bahwa beroperasinya KRL yang menggantikan kereta Prambanan Express alias Pramex telah menghidupkan aktivitas ekonomi baru di stasiun-stasiun yang diaktifkan kembali.

Bukan hanya pedagang sekitar stasiun yang mendapatkan limpahan berkah, melainkan juga penitipan sepeda motor serta warung makan yang mulai bertumbuh. "Hukum besi" ekonomi mulai bekerja: ketika terdapat mobilitas manusia, di situlah akan tercipta geliat ekonomi.

Perkembangan serupa tentu saja dialami juga beberapa daerah lain yang menjadi lokasi transit baru KRL Solo-Jogja. Sebut saja Stasiun Srowot yang terletak di antara Klaten dan Prambanan, yang tadinya juga "mati suri", kini ramai dikunjungi.

Data dari PT Kereta Api Indonesia menunjukkan perkembangan penumpang KRL Solo-Jogja sejak diluncurkan pada Februari 2021 lalu terus berkembang signifikan.

Pada 10 Februari 2021,  jumlah penumpang hanya 3.320 orang. Angkanya terus naik dengan rata-rata penumpang harian mencapai 4.809 orang pada Februari 2021.

Pada Maret 2021, rata-rata penumpang harian mencapai 6.291 orang. Pada April 2021, rata-rata penumpang harian mencapai 7.051 orang. Jumlah penumpang harian mencapai puncaknya pada 11 April 2021, sejumlah 12.253 orang, dan menurun hingga tinggal sekitar 4.000-an orang sejak memasuki bulan puasa.

Pada awal April 2021 lalu, di Stasiun Tugu, saya mengobrol dengan Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT Kerera Api Indonesia, induk perusahaan PT Kereta Commuter Indonesia yang mengoperasikan KRL Solo-Jogja.

Menurut Didiek, antusiasme masyarakat itu menunjukkan moda transportasi seperti KRL memberikan manfaat luas tidak hanya bagi pengguna langsung, tetapi juga bagi perekonomian secara keseluruhan.

Setidaknya hal itu dapat dilihat dari sejumlah stasiun yang diaktifkan kembali dan ekonomi masyarakat mulai bergeliat. Saya sempat menjajal KRL itu, sekalian observasi kecil ihwal perilaku penumpang. Tampak para penumpang disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Petugas memeriksa dan menegur penumpang yang dianggap kurang disiplin di setiap lokasi transit di stasiun. Budaya antre dan disiplin pada aturan tampak mulai terbentuk, apalagi di setiap lokasi transit tak lebih dari lima menit kereta kembali berjalan.

Solo-Jogja ditempuh hanya sekitar satu jam. Saya merasakan betapa murahnya ongkos perjalanan dengan KRL itu karena hanya merogoh kocek Rp8.000 bisa pulang pergi Stasiun Purwosari  Solo dan Stasiun Tugu Jogja. Ini lantaran di Stasiun Tugu saya tidak keluar stasiun.

Dengan kata lain, moda transportasi massal berbasis rel ini menjadi pilihan yang tepat dan relevan bagi masyarakat luas. Saya kira manfaat ekonomis itu akan semakin meluas apabila ke depan jalur KRL ini diperpanjang tidak hanya Jogja-Solo, tetapi bahkan mungkin hingga Purworejo dari arah Jogja, dan Madiun dari arah Solo.

Keberadaan kereta penumpang jalur Jogja-Bandara YIA yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2021 nanti akan melengkapi kereta  bandara dari Klaten hingga Bandara Adi Soemarmo Solo.

Tentu saja konektivitas yang semakin lengkap disertai kenyamanan yang meningkat akan menjadi penopang mobilitas ekonomi yang penting setelah pandemi Covid-19 berlalu.

***

Saya percaya, selain menciptakan perubahan kultur alias budaya, infrastruktur yang baik akan membangun industri alias ekonomi. Sekadar ilustrasi, di kawasan Soloraya, hari ini banyak kawasan baru yang tumbuh cepat, terutama setelah jalan tol trans-Jawa sepenuhnya beroperasi.

Sebut saja seputar Kecamatan Colomadu yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar, Kartasura (Kabupaten Sukoharjo), dan Donohudan-Ngemplak (Kabupaten Boyolali), serta Mojosongo dan sekitar Palur di timur Bengawan Solo. Semua daerah yang saya sebut tadi adalah lokasi gerbang keluar-masuk tol di kawasan Solo.

Salah satu yang paling berkembang tentu saja kawasan hunian dan perkantoran. Harga properti langsung menanjak. Tak tanggung-tanggung. Kenaikan bisa berkisar 200% hingga 300% dalam beberapa tahun terakhir.

Juga kawasan komersial, selain tentu saja pusat kuliner. Lima tahun lalu, apalagi 10 tahun silam, dari kawasan Tugu Makutha (Mahkota) di Jl. Adisucipto, Solo, sebagai ikon perbatasan Kota Solo bagian barat dengan Karanganyar (Kecamatan Colomadu), Anda jarang menjumpai pusat kuliner, hotel, maupun bangunan-bangunan perkantoran seperti hari ini.

Tugu Makutha yang berlokasi di jalur utama menuju bandara itu beberapa tahun silam tampak menonjol sebagai ikon masuk wilayah Kota Solo, tetapi saat ini seolah-olah tenggelam karena di sepanjang Jl. Adisucipto dari arah Colomadu memasuki Kota Solo semakin padat dan dijejali aneka bangunan yang menjadi ikon baru.

Hari ini pertumbuhan kota melebar ke arah barat hingga menuju kawasan Bandar Udara Adi Soemarmo. Begitu pula di Solo utara dan timur yang berdekatan dengan akses jalan tol. Hotel-hotel baru juga tumbuh di Solo.

Itu sekadar gambaran saja bahwa konektivitas menjadi faktor penting pemicu pertumbuhan ekonomi. Satu tahun terakhir barangkali pergerakan itu akan jauh lebih kencang apabila tidak dipaksa untuk "jeda sejenak" akibat pandemi Covid-19.

Sudah barang tentu, apabila nanti jalan tol Solo-Jogja sudah terhubung dan jalan tol Bawen-Jogja juga rampung dikerjakan, pergerakan ekonomi akan kian kencang. Saya menduga akan banyak lahir pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di seputar gerbang tol, terutama dari kawasan Kartasura hingga ke selatan di wilayah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sleman, Kota Jogja, hingga kawasan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo.

Begitu pula di Bawen, Wonosobo, hingga Magelang, tentu akan menjadi jauh lebih aksesibel. Perjalanan wisata diperkirakan akan melonjak dengan segala efek bergandanya. Itu berarti pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta akan kian terpacu.

Saya membayangkan lebih jauh lagi, andaikata konektivitas di Jawa jalur selatan juga dipacu dengan perpanjangan lintas tol dari Bandung hingga Jogja. Lalu disambung lagi dari Jogja hingga Malang dan Banyuwangi.

Jika itu terwujud, betapa dahsyatnya perkembangan perniagaan dan pariwisata di Jawa bagian selatan yang memang banyak menggantungkan perekonomian dari sektor pariwisata.

Akan banyak Gawok lain bermunculan yang menjadi pusat-pusat geliat ekonomi yang baru. Tentu setelah pandemi Covid-19 berlalu. Nah, bagaimana menurut Anda?

 

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.