Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

 Agustinus Heruwanto (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Agustinus Heruwanto (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Setelah seolah pupus harapan mendapatkan medali emas dalam Olimpiade Tokyo 2020 dengan tumbangnya pasangan ganda putra andalan, asa kembali terbuka ketika Greysia Polii dan Apriani Rahayu berhasil melaju ke final bulu tangkis ganda putri. Dan benar, pasangan ini berhasil mempersembahkan medali emas bagi kontingen Indonesia sekaligus mempertahankan tradisi emas dari cabang bulu tangkis.

Keberhasilan pasangan ganda putri ini tidak hanya sekedar menyumbangkan medali emas, bahkan disebut sebut juga menjadi pemecah rekor bagi partisipasi ganda putri di ajang Olimpiade. Maklum, sejak bulu tangkis dipertandingkan dalam ajang Olimpiade Barcelona 1992, prestasi tertinggi ganda putri Indonesia di Olimpiade hanya sampai babak perempat final.

Meski bukan pasangan ganda putri peringkat pertama dunia, Greysia Polii dan Apriani Rahayu telah menambah partai bulu tangkis yang berhasil menyumbangkan emas bagi negeri ini di ajang Olimpiade. Kini, Indonesia telah merasakan emas Olimpiade dari semua partai bulu tangkis.

Keberhasilan pasangan ganda putri ini bisa kita jadikan sebagai sebuah refleksi dalam memaknai pendidikan. Keberhasilan mereka seolah hendak mengatakan bahwa usaha keras mampu mematahkan prediksi peringkat satu hampir pasti menjadi juara. Kemauan yang keras untuk bermain maksimal membawa mereka ke puncak prestasi di ajang Olimpiade.

Tak jarang, inilah yang terjadi pada kita yang terlibat dalam dunia pendidikan dan bertugas memberikan pendampingan kepada anak-anak muda. Sering kali kita terjebak dalam drawing seperti saat menempatkan posisi dalam pertandingan bulu tangkis. Entah sadar atau tidak, kita seringkali menempatkan anak-anak dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas kelompok yang diunggulkan dan kelompok yang diragukan. Ada kelompok anak “pintar” dan kelompok anak yang “tidak pintar”.

Setelah kelompok tersebut terbentuk, selanjutnya tak jarang kita memberikan perlakuan yang tidak seimbang. Kita terlalu berekspektasi terhadap kelompok anak yang “pintar” dan terlalu mengesampingkan mereka yang dianggap “tidak pintar”. Kelompok yang tidak punya nama besar atau yang “tidak pintar” ini bahkan kita anggap sebagai kelompok pelengkap saja. Kita memandang mereka tidak akan pernah berprestasi.

Berbicara mengenai keberhasilan pasangan Greysia dan Apriyani di Olimpiade Tokyo 2020 tidak hanya mengenai keberhasilan menyumbangkan medali emas. Mereka menghadapi liku-liku perjalanan yang bisa kita jadikan sebagai refleksi: bagaimana kita memberikan pendampingan dalam dunia pendidikan.

Kita masih ingat ketika tim bulu tangkis Indonesia didiskualifikasi dari ajang All England pada Maret 2021 lalu sehingga gagal berkompetisi dengan alasan Covid-19. Hal tersebut bisa berpengaruh pada mentalitas mereka. Semua yang dipersiapkan secara matang harus terhenti sebelum mereka beraksi. Apa yang dialami oleh tim bulu tangkis Indonesia dalam ajang All England 2021 membuat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) harus bekerja keras memberikan dukungan bagi pemain agar tidak tenggelam dalam kekecewaan.

Bangkit dari Keterpurukan

Hal yang menarik lainnya adalah perjalanan Greysia Polii yang sudah kali kesekian berlaga di ajang Olimpiade. Yang menyakitkan bagi Greysia adalah pengalaman pahitnya di Olimpiade London 2012 saat dia dan pasangannya, Meiliana Jauhari, didiskualifikasi karena dianggap tidak sportif. Situasi tersebut sempat membuat Greysia ingin pensiun dini dari bulu tangkis.

Kembali ke dunia pendidikan, keterpurukan seperti pengalaman Greysia Polii tak jarang kita temui pada anak didik kita. Keberhasilan Greysia keluar dari tekanan, mengambil keputusan untuk tetap terus bermain bulu tangkis, dan akhirnya meraih medali emas di Olimpiade, tentu melibatkan campur tangan banyak pihak. Salah satu bentuk campur tangan itu adalah upaya membangkitkan semangatnya agar tetap bermain, termasuk dari Apriani. Ceritanya tentu berbeda jika Greysia dibiarkan begitu saja dalam keterpurukan.

Romantisme Greysia di bulu tangkis sekali lagi mengingatkan kita dalam tugas dan tanggung jawab yang besar dalam dunia pendidikan, terlebih dalam masa pandemi Covid-19. Anak-anak didik kita banyak yang mengalami keterpurukan dalam belajar dan sederet masalah pribadi. Kita harus menyadari mereka membutuhkan sapaan, bukan stempel negatif jika prestasi mereka tidak berkembang.

Kita patut belajar bagaimana upaya PBSI memberikan pendampingan kepada pemain yang mengalami keterpurukan. Ada upaya yang konsisten untuk membimbing pemain dengan kedisiplinan agar kembali ke performa terbaik. Dalam dunia pendidikan, pendidik dituntut untuk benar-benar mampu memberikan bimbingan agar anak-anak menjadi disiplin, bukan sekedar merespons masalah mereka dengan hukuman.

Hal menarik ditunjukkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali. Di tengah dahaga medali emas Olimpiade, Menpora tidak serta merta menuntut kemenangan pada Greysia-Apriyani, meski kesempatan besar di depan mata. Menpora justru meminta pasangan ganda putri ini untuk bermain tanpa beban dan rileks. Barangkali Menpora sadar para pemain mendapatkan tekanan yang sangat besar di final Olimpiade, apalagi mereka yang menjadi tumpuan terbesar mendapatkan medali emas.

Sikap tersebut bisa diterapkan dalam dunia pendidikan. Kemampuan dan kemauan pendidik untuk memahami kondisi anak merupakan kekuatan besar agar mereka bisa belajar maksimal. Kemauan kita untuk memahami pribadi anak didik akan mendorong mereka keluar dari tekanan-tekanan yang dihadapi. Akhirnya, mereka akan berani mengeksplorasi diri untuk berusaha maksimal karena tak merasa dibebani.

Sapaan kita kepada anak didik dengan segala permasalahan akan membantu dan membimbing mereka membangun kedisiplinan. Ekspektasi yang berlebihan justru bisa menjadi hukuman dan membuat mereka tidak bisa merdeka dalam belajar. Pendidik menjadi kuncinya.

Terima kasih Greysia/Apriani atas persembahan medali emas untuk negeri. Terima kasih pula atas segala inspirasi dari semua yang mengambil bagian dalam keberhasilan mereka.


Berita Terkait

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.