Pelajar di Lereng Merapi Kesulitan Cari Sinyal Internet, PR Tak Dapat Dikerjakan Optimal
Anak-anak Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, mencari sinyal internet di tepi jalan kampung, Rabu (12/8/2020). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Sejumlah pelajar di lereng Gunung Merapi mengaku kesulitan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) secara online alias dalam jaringan (daring) selama masa pandemi Covid-19. Tidak adanya jaringan internet di lereng Merapi itu mengakibatkan para siswa tak dapat mengerjalan pekerjaan rumah (PR) secara optimal.

Salah seorang pelajar di Girpasang, Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, S Suyahmi, mengatakan jaringan internet tak menjangkau di daerahnya. Saat mengerjakan PR, siswi kelas III SMP itu harus mencari lokasi yang memiliki sinyal internet bagus. Jaraknya kurang lebih mencapai dua kilometer.

"Di sini, sinyalnya susah. Guna mengetahui ada tidaknya PR, saya harus ke dukuh sebelah, yakni ke Ngringin terlebih dahulu. Di sana hanya ingin mengetahui PR-nya apa. Setelah itu, saya pulang mengerjakan PR. Saat ingin mengirim PR itu ke bapak/ibu guru, saya harus ke Ngringin. Saya akui, model pembelajaran seperti ini mengakibatkan tak maksimal dalam mengerjakan PR," kata Suyahmi, kepada Solopos.com, di Girpasang, Tegalmulyo, Klaten, Sabtu (12/9/2020).

12 Tahun Mati Suri, Warga Bukuran Sragen Bangkitkan Kesenian Rodat

Hal senada dijelaskan siswi kelas I SMPN asal Girpasang, yakni Purnaningsih. Lantaran daerahnya berada di kawasan terpencil di lereng Gunung Merapi, dirinya tak dapat mengikuti KBM secara maksimal karena susah sinyal internet.

"Dari Girpasang ke Ngringin itu ditempuh paling cepat 15 menit [guna mencari sinyal untuk smartphone-nya]. Saat ada sinyal, kami hanya men-download tugas. Setelah itu kami kerjakan sendiri. Jadi bisa dibilang, kami belajar sendiri selama ini [pandemi Covid-19]. Dipikir sendiri dan dikerjakan sebisanya," katanya.

Ketua RT 007/RW 002 Girpasang, Sugino, mengatakan jumlah pelajar di dukuhnya mencapai sembilan orang. Masing-masing pelajar yang berdomisili di daerah terpencil itu, yakni dua siswa TK, empat siswa SD, dua siswa SMP, dan satu siswa SMK.

Sukiman: Saya Menyerah Nyalon Bupati di Sragen Kali Ini, Tunggu 2024!

"Memang, anak-anak [para pelajar] jadi tak maksimal dalam belajar karena terkendala sinyal. Tidak bisa sempurna [dalam mengikuti pembelajaran Daring]," katanya.

Sugino mengatakan salah seorang guru tingkat SMK pernah berkunjung ke Girpasang. Setelah mengetahui kondisi di Girpasang yang dikenal sebagai daerah terpencil. Akhirnya, guru tersebut dapat memakluminya karena di lereng Merapi itu memang susah sinyal internet.

"Saya pun pernah menyampaikan ke guru dari anak-anak di sini, mohon bisa dimaklumi. Siswa tak bisa mengerjakan PR secara maksimal," katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom