Pekerja Seni di Sragen Banting Setir karena Covid-19, Buka Olshop hingga Salon
Ketua DKDS Sragen demisioner Singgih Windarto memainkan keyboard saat pentas hiburan di wilayah Kota Sragen belum lama ini. (Istimewa/Singgih Windarto)

Solopos.com, SRAGEN — Sejumlah pekerja yang terlibat dalam seni pertunjukan atau hiburan di wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah beralih pekerjaan. Mereka ada yang membuka online shop (olshop) atau menjadi pedagang secara online, perdagang makanan, hingga membuka salon.

Alih pekerjaan itu mereka lakukan lantaran nyaris tidak adanya job untuk seni pertunjukan atau hiburan selama pandemi Covid-19.

Penjelasan itu disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Sragen (DKDS) Sragen demisioner Singgih Windarto saat berbincang dengan Solopos.com di sebuah warung di lingkungan Sragen Kulon, Sragen, Minggu (20/9/2020).

Singgih menyampaikan alih pekerjaan itu dilakukan para pekerja seni itu sebagai upaya untuk bertahan hidup karena mereka terdampak pandemi Covid-19.

Kisah Unik Pria Trucuk Klaten yang Tinggal di Makam: Pernah Berjaya Jadi Dukun Togel

Singgih menjelaskan pekerja seni itu bukan hanya seniman, baik seniman tradisi atau seniman kontemporer, namun juga termasuk pekerja pendukung seni pertunjukan dan hajatan.

"Mereka ini ada pengusaha sewa kajang dan balapecah, juru rias termasuk asisten juru rias, sound system, dekorasi, video shooting, dan seterusnya. Kami di DKDS mendukung upaya sejumlah seniman yang beraudiensi dengan Bupati supaya hajatan diizinkan supaya mereka bisa hidup," ujarnya.

Singgih menjelaskan dalam Peraturan Bupati (Pebup) No. 54/2020, Pemkab Sragen membolehkan adanya hajatan dengan syarat harus memenuhi protokol kesehatan. Peraturan tersebut, ujar dia, seolah-olah bertentangan dengan Surat Kapolda Jateng yang terkesan melarang hajatan. Dia berpendapat Surat Kapolda itu bisa dikaji kembali.

Jumlah

Singgih menyebut jumlah seniman di Sragen bisa sampai 900-an orang. Kalau dihitung dengan pekerja pendukung seni pertunjukan di Sragen, terang Singgih, jumlahnya bisa sampai 1.500 orang.

Dia mengatakan mereka berkreativitas sendiri untuk bertahan hidup, salah satunya dengan beralih pekerjaan karena tidak bisa mengandalkan penghasilan jadi seniman. Dia mengatakan selama hampir tujuh bulan mereka tidak bekerja karena hampir tidak ada orang hajatan.

Cewek-Cewek Aktivis Feminis Demo Pamer Payudara di Museum Paris, Kenapa?

"Mereka ada yang jualan online. Apa pun barang dagangan diperjualbelikan lewat online. Yang juru rias biasanya buka salon. Ada pula yang buka warung. Ada juga yang jualan pecel keliling. Ada juga yang jualan martabak dan seterusnya. Kalau saya kebetulan seniman organ tunggal yang juga terkena dampak. Tetapi saya siasati dengan mencipta lagu dan bisa laku," jelas Singgih.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Agus Endarto mengatakan Pemkab Sragen sudah memberi perhatian kepada kelompok seniman dengan bantuan sembako beberapa waktu lalu.

Selain itu, Agus mengatakan Pemkab juga memberi stimulant kepada komunitas seniman untuk bisa bertahan hidup lewat pentas virtual di sejumlah lokasi.

"Perhatian Pemkab sebatas pada stimulus kepada mereka untuk berkreativitas. Ada 14 komunitas yang sudah melaksanakn pentas virtual," katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom