Pekarangan Belakang Tergerus Erosi, Warga Pilang Sragen Kosongkan Rumah
Sudarno mengamati Sungai Grompol di Dusun Klembon, Desa Pilang, Masaran, Sragen, yang terus tergerus erosi, Kamis (24/1/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Warga Dusun Klembon, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, Joyo Wagimin, 75, dan keluarganya terpaksa mengosongkan rumah gara-gara tanah di belakangnya terdampak erosi tebing Sungai Grompol.

Pantauan Solopos.com di lokasi, Kamis (24/1/2019), erosi Sungai Grompol itu terjadi sepanjang sekitar 30 meter dan lebar sekitar 10 meter. Sejak dinormalisasi pada 2006 silam, tebing Sungai Grompol yang membentuk letter U di lokasi itu memang kerap mengalami erosi.

Kali terakhir, erosi terjadi di tebing anak Sungai Bengawan Solo ini pada Selasa (22/1/2019) pagi. Erosi tersebut membuat bangunan rumah Joyo Wagimin yang sudah dikosongkan nyaris tanpa jarak dengan bibir sungai.

“Kejadiannya Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu sebetulnya debit air belum besar. Tidak banjir. Tapi, arus air terus mengikis bagian bawah tebing sehingga mengakibatkan longsor [erosi],” jelas Tarno, 40, anak dari Joyo Wagimin saat ditemui Solopos.com di lokasi.

Lantaran khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, Joyo Wagimin memilih mengosongkan rumahnya dua bulan lalu. Rumah itu baru dibongkar dalam dua pekan terakhir.

Ia kini tinggal di rumah anaknya tak jauh dari Masjid Al Hidayah. Tarno menjelaskan sebelumnya jarak antara rumah Joyo Wagimin dengan bibir Sungai Grompol mencapai sekitar 100 meter.

Saat itu masih ada satu rumah milik tetangganya yang berada di dekat bibir sungai. “Sekarang rumah itu sudah tidak ada. Pemiliknya khawatir karena tanah di tebing sungai mudah terkikis. Tanahnya itu seperti ladu dan pasir sehingga kalau kena air mudah terkikis,” papar Sudarno, 50, warga lainnya.

Petugas dari Balai Besar Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sudah menyurvei lokasi itu pada Rabu (23/1/2019). Sebelumnya, mereka juga sudah beberapa kali menyurvei lokasi.

Mereka mengatakan akan mengusulkan pemasangan beronjong kawat berisi batu untuk menahan erosi tidak bertambah parah. “Katanya itu solusi sementara. Belum tahu mau dipasang kapan beronjong itu. Mestinya harus secepatnya karena sekarang intensitas hujan sudah meninggi,” ucap Sudarno.



Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom