Pejabat Negara Kembali Berulah, Kali Ini Korupsi Pupuk

Hasanuddin merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pupuk hayati untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan pada Kementan Tahun 2013.

 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (20/5/2022), menahan tersangka mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim. (Antara)

SOLOPOS.COM - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (20/5/2022), menahan tersangka mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim. (Antara)

Solopos.com, JAKARTA — Satu lagi mantan pejabat negara masuk bui. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (20/5/2022), menahan tersangka mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim.

Hasanuddin merupakan tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan pupuk hayati untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada Kementan Tahun Anggaran (TA) 2013.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

“Untuk kepentingan penyidikan, dilakukan upaya paksa penahanan oleh tim penyidik untuk 20 hari pertama terhadap tersangka HI (Hasanuddin Ibrahim) terhitung mulai 20 Mei 2022 sampai dengan 8 Juni 2022 2021 di Rutan KPK pada Gedung Merah Putih,” kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto saat jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat.

KPK pada Februari 2016 telah menetapkan Hasanuddin bersama Sutrisno (SR) dari pihak swasta/Direktur Utama PT Hidayah Nur Wahana (HNW) dan mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Ditjen Hortikultura Kementan Eko Mardiyanto (EM) sebagai tersangka.

Baca Juga: Kasus Korupsi PT Taspen, Kejakgung Sita Tanah & Bangunan di Solo

“Untuk SR dan EM, saat ini perkaranya telah berkekuatan hukum tetap.” ucap Karyoto.

Dalam konstruksi perkara, ia menjelaskan bahwa pada sekitar 2012, Eko Mardiyanto selaku PPK mengadakan rapat pembahasan bersama Hasanuddin Ibrahim selaku Dirjen Hortikultura sekaligus kuasa pengguna anggaran (KPA) di antaranya terkait anggaran dan pelaksanaan proyek lelang pengadaan fasilitasi sarana budidaya mendukung pengendalian OPT TA 2013.

“Dalam rapat tersebut, diduga ada perintah HI untuk mengarahkan dan mengkondisikan penggunaan pupuk merek ‘Rhizagold’ dan memenangkan PT HNW sebagai distributornya,” ucap Karyoto.

Baca Juga: Lin Che Wei Digandeng Dirjen Kemendag demi Manipulasi Ekspor Migor

Selama proses pengadaan berjalan, KPK menduga Hasanuddin Ibrahim aktif memantau proses pelaksanaan lelang dengan memerintahkan EM untuk tidak menandatangani kontrak sampai dengan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBNP TA 2012 turun.

Selain itu, Hasanuddin Ibrahim diduga memerintahkan beberapa staf di Ditjen Hortikultura untuk mengubah nilai anggaran pengadaan dari semula 50 ton dengan nilai Rp3,5 miliar menjadi 255 ton dengan nilai Rp18,6 miliar di mana perubahan nilai tersebut tanpa didukung data kebutuhan riil dari lapangan berupa permintaan dari daerah.

“HI turut melibatkan adiknya Ahmad Nasser Ibrahim alias Nasser (karyawan freelance PT HNW) untuk aktif menyiapkan kelengkapan dokumen sebagai formalitas kelengkapan lelang,” ungkap Karyoto.

Baca Juga: Terkait Kasus Korupsi Stadion Mandala Krida Jogja, KPK Periksa Kepala Disdikpora DIY

Ia menyebut setelah pagu anggaran pengadaan disetujui senilai Rp18,6 miliar, proses lelang yang sebelumnya sudah dikondisikan sejak awal oleh Hasanuddin Ibrahim kemudian memenangkan PT HNW sebagai pemenang lelang.

“Atas perintah HI, EM selaku PPK menandatangani berita acara serah terima pekerjaan 100 persen untuk syarat pembayaran lunas ke PT HNW di mana faktanya progres pekerjaan belum mencapai 100 persen,” tuturnya.

KPK menduga atas perbuatan tersangka Hasanuddin Ibrahim tersebut mengakibatkan kerugian keuangan negara sekitar Rp12,9 miliar dari nilai proyek Rp18,6 miliar.

Baca Juga: Pejabat Kemendag Tersangka Dugaan Korupsi Ekspor Migor, Ini Sosoknya

Atas perbuatannya, tersangka HI disangkakan melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sumber: antara

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Terbaik Kedua di Benua Asia, Produktivitas Padi Indonesia Terus Turun

+ PLUS Terbaik Kedua di Benua Asia, Produktivitas Padi Indonesia Terus Turun

Data produktivitas padi, Indonesia menduduki urutan kedua dari sembilan negara Organisasi Pangan dan Pertanian Food and Agriculture Organizational (FAO) di Benua Asia, namun luas panen padi pada 2021 mengalami penurunan dibandingkan 2020.

Berita Terkini

Sejarah Hari Ini: 1 Juli 1946, Djawatan Kepolisian Negara Berdiri

Berbagai peristiwa penting dan bersejarah terjadi dari tahun ke tahun pada 1 Juli.

Jokowi-Putin Setuju Ada Penerbangan Langsung Bali-Moskow

Salah satu hasil penting pembicaraan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden RI Joko Widodo adalah pembukaan penerbangan langsung dari Bali ke Moskow. 

Jelang Sidang Kode Etik, Lili Pintauli Mundur sebagai Wakil Ketua KPK?

Sidang kode etik terhadap Lili terkait penerimaan fasilitas akomodasi hotel hingga tiket menonton ajang balap MotoGP 2022.

Holywings Surabaya Boleh Buka Lagi Sebagai Rumah Makan

Izin yang diperbolehkan untuk Holywings Surabaya adalah sebagai rumah makan dan bukan bar.

Diterapkan hingga 2024, Ini Teknis Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka adalah nama baru dari kurikulum prototipe yang resmi diluncurkan oleh Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim.

Terbaik Kedua di Benua Asia, Produktivitas Padi Indonesia Terus Turun

Data produktivitas padi, Indonesia menduduki urutan kedua dari sembilan negara Organisasi Pangan dan Pertanian Food and Agriculture Organizational (FAO) di Benua Asia, namun luas panen padi pada 2021 mengalami penurunan dibandingkan 2020.

Kenalan Sama Yudit Nurvita, Penyanyi Kreteg Bacem Ciptaan Didi Kempot

Pada 2017, Yudit sempat menjajaki karier bersama Didi Kempot hingga dibuatkan sebuah lagu berjudul Kreteg Bacem.

Puji Jokowi, Putin: Dialog Kami Sangat Informatif

Putin menyebut pembicaraan dengan Jokowi merupakan dialog yang sangat informatif.

Dua Dinasti Resmi Berkuasa di Filipina, Tekanan terhadap Pers Meningkat

Pada hari-hari terakhir masa jabatan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengambil langkah menutup situs berita Rappler, situs berita yang dikenal independen di Filipina.

Mantan Polwan Napi Terorisme Jalani Pembebasan Bersyarat

Mantan polwan itu sebelumnya menjalani hukuman di LP Perempuan Kelas IIA Tangerang, Banten.

Puan Maharani: Tjahjo Kumolo adalah Om dan Eyang di Keluarga Kami

Putri Megawati, Puan Maharani mengenang sosok almarhum Tjahjo Kumolo adalah om dan eyang di keluarganya.

Mantan Kepala Desa Jadi Buronan karena Tilap Duit Mobil Operasional

Buronan itu bernama Sutisna, mantan Kepala Desa Bonisari, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang, Banten.

Imami Salat Jenazah Tjahjo Kumolo, Wapres: Kita Kehilangan Orang Baik

Wapres Ma’ruf Amin menjadi imam salat jenazah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo disalatkan di Masjid Quba, Gedung Kemenpan RB

Di Mata Jokowi, Tjahjo Kumolo Sosok Nasionalis Sejati

Jokowi mengatakan mendiang Tjahjo Kumolo semasa hidupnya merupakan nasionalis sejati yang penuh integritas dan setia pada bangsa dan negara.

Dari Abu Dhabi Jokowi Sampaikan Belasungkawa Tjahjo Kumolo Wafat

Presiden Jokowi berbelasungkawa atas meninggalnya Menpan-RB Tjahjo Kumolo saat kunjungan kenegaraan di Abu Dhabi, UEA.

Human Zoo, Saat Manusia Jadi Objek Tontonan Layaknya Binatang

Masyarakat modern menjadikan kebun binatang sebagai media tontonan atau wahana hiburan. Namun, manusia juga pernah diberlakukan sebagai objek tontonan pengunjung layaknya hewan di kebun binatang.