Ratusan pedagang dari berbagai pasar rakyat di Sragen ngudarasa dengan Bupati Sragen tentang kondisi pasar yang sepi hingga revitalisasi di Pendapa Rumdin Bupati Sragen, Jumat (15/11/2019) malam. (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Ratusan pedagang dari sejumlah pasar rakyat di Bumi Sukowati mendatangi Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen untuk berdialog langsung dengan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, Jumat (15/11/2019) malam. Para pedagang komplain ke Bupati tentang kondisi pasar mereka hingga wacana revitalisasi pasar.

Dalam pertemuan yang diinisiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen juga dihadiri Sekretaris Daerah Tatag Prabawanto, para asisten Setda, dan pejabat eselon II lainnya.

Semula Bupati mengecek daftar pedagang berdasarkan asal pasarnya, mulai dari seperti Pasar Bunder, Pasar Kota, Pasar Nglangon, Pasar Gondang, Pasar Sambungmacan, Pasar Kedawung, Sambirejo, Tangen, Jenar, Ngrampal, Gemolong, Sukodono, Gesi, Sumberlawang, Tanon, dan Plupuh. Jumlah pedagang yang hadir dalam daftar dari Disperindag mencapai 400 orang tetapi Bupati memprediksi ada 1.000 orang.

Ketua Kerukunan Pedagang Pasar Kota Sragen (KPPKS), Mario, mendapat kesempatan pertama untuk curhat dengan Bupati. Mario kecewa dengan tindakan Bupati yang enggan berbelanja di Pasar Kota saat program gerakan belanja ke pasar tradisional Jumat siang.

Mau Masak Perkedel, Bupati Sragen Belanjakan Rp700.000 dalam 1 Jam

Mario juga mengkritik pelaksanaan e-retribusi yang hanya menyediakan dua unit alat transaksi electronic data capture (EDC). Padahal jumlah pedagang di Pasar Kota mencapai 1.000-an orang. Selain itu, Mario juga menanyakan tentang kapan tindak lanjut revitalisasi Pasar Kota.

Sementara itu, Ketua Komite Paguyuban Pedagang Pasar Sragen (KP3S) Subono menyampaikan agar penyebutan pasar lebih baik pasar rakyat bukan pasar tradisional supaya pasar-pasar rakyat tidak kalah bersaing dengan pasar modern. Dia menyampaikan minimarket menjadi pesaing pedagang di pasar rakyat.

“Kami mohon pasar ritel modern itu ditata betul supaya tidak menggeser pasar rakyat. Kemudian untuk revitalisasi Pasar Kota itu kapan akan dimulai,” ujarnya.

Ketua Paguyuban Podo Maju Pasar Gondang Siswanto juga mengeluhkan banyaknya pedagang Pasar Gondang yang resah dengan adanya pasar pagi yang menempati terminal di sisi barat Pasar Gondang. Para pedagang di lokasi terminal itu, kata dia, buka mulai pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB tetapi bahkan sampai pukul 06.30 WIB masih menjajakan dagangannya.

Inilah Foto Pertama Gibran Rakabuming dan Putrinya La Lembah Manah

“Akibatnya omzet pedagang Pasar Gondang menjadi berkurang. Para pedagang juga menanyakan revitalisasi yang sempat diwacanakan empat tahun lalu. Kami setuju revitalisasi tetapi luas ruang untuk displai dagangan harus 3,5 meter, bukan 1,5 meter,” ujarnya.

Terpisah, perwakilan pedagang Pasar Sumberlawang, Ny. Mulyadi, menyampaikan banyak pedagang di Pasar Sumberlawang setelah dibangun justru malah sepi. “Kami minta Pasar Sumberlawang ditinjau ulang karena dibangun sebagus itu tetapi aktivitas perdagangannya menjadi bleret. Tolong pemerintah kalau ada waktu terjun ke Pasar Sumberlawang,” ujarnya.

Adik Jan Ethes Namanya La Lembah Manah, Apa Artinya?

Semua unek-unek pedagang tersebut ditanggapi Bupati dan Sekda Sragen. Bupati Yuni merespons kritikan Mario. Yuni mengatakan untuk gerakan ayo belanja ke pasar itu memang satu hari satu pasar karena berbelanja itu membutuhkan waktu lama. Untuk e-retribusi itu, kata dia, akan ditindaklanjuti Disperindag dengan pihak perbankan. Sedangkan untuk revitalisasi Pasar Kota, kata Yuni, membutuhkan dana besar dan akan diupayakan pada 2021.

“Revitalisasi Pasar Gondang belum ada prioritas. Untuk Pasar Sumberlawang biar ditindaklanjuti Sekda,” tambahnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten