Pedagang Pasar Eromoko, Wonogiri, Ismiati (kiri), menunjukkan cabai di losnya, Rabu (17/7/2019). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Sejumlah pedagang bumbu di Pasar Eromoko, Wonogiri, mengaku ogah jualan cabai rawit (sret) saking mahalnya harga cabai tersebut beberapa waktu terakhir.

Mereka bingung bagaimana melayani konsumen yang membeli cabai rawit merah atau sret hanya Rp1.000 atau Rp2.000. Padahal, harga jual lombok saat ini mencapai Rp75.000/kg.

Akhirnya daripada dipaido (dicela) pembeli, ada pedagang yang akhirnya memilih tak menjual cabai rawit. Salah satu pedagang bumbu di Pasar Eromoko, Sumi, 67, saat ditemui Solopos.com di losnya, Rabu (17/7/2019), mengaku tak menjual cabai rawit sejak sepekan lalu.

Saat masih menjualnya banyak konsumen yang hanya membeli Rp1.000 atau Rp2.000. Sumi pun melayani mereka. Dia memberi empat cabai kepada konsumen yang membeli Rp1.000 dan enam cabai bagi konsumen yang membeli Rp2.000.

Namun, pembeli justru komplain seenaknya sendiri tanpa melihat harga jual cabai yang sekarang sedang tinggi. “Saya kasih empat biji malah dipaido. Saya kan tidak mungkin ngasih lebih banyak. Daripada dipaido terus dan rugi lebih baik enggak jualan sekalian,” kata Sumi.

Saat ini dia hanya menjual cabai merah besar seharga Rp60.000/kg, hijau besar Rp26.000/kg, rawit hijau muda Rp50.000/kg.

Pedagang lainnya, Ismiati, 45, bingung jika ada konsumen yang membeli cabai rawit Rp1.000 atau Rp2.000. Dia tak tega jika tak melayaninya karena warga membutuhkan.

Namun, jika dilayani dia tak tahu harus memberi berapa biji. Alhasil, dia memberi sesuai perkiraannya. Ismiati memberi enam biji kepada konsumen yang membeli Rp2.000.

“Saya kulak lombok sret dari Solo hari ini [Rabu] Rp70.000/kg. Saya menjual Rp75.000/kg. Biasanya saya kulak 5 kg. Sejak sepekan ini saya hanya kulak 3 kg, itu pun tak habis setiap hari,” ulas Ismiati.

Berbeda halnya dengan Surani, pedagang cabai di lantai II Pasar Kota Wonogiri, Surani, mengaku hanya melayani pembeli yang membeli cabai minimal 0,5 ons. Menurut dia, saat ini pembeli tak berani membeli dalam jumlah banyak.

Saat harga masih normal, rata-rata pembeli membeli 3 kg-5 kg. Sekarang ini mereka hanya membeli 1 kg/orang atau bahkan kurang.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (KUKM Perindag) Wonogiri, Wahyu Widayati, mengatakan harga cabai naik sejak beberapa pekan lalu. Kondisi ini juga terjadi di daerah lain.

Informasi yang dia peroleh, hal tersebut dipicu turunnya hasil panen petani di daerah penghasil cabai akibat cuaca dingin ekstrem. Di sisi lain permintaan cenderung meningkat mengingat saat ini banyak warga menggelar hajatan.

“Masyarakat Wonogiri belum terbiasa mengonsumsi cabai kering sehingga warga tetap mencari cabai segar. Kami akan terus memantau harga di pasar. Semoga secepatnya pemerintah pusat mengambil kebijakan untuk mengatasi masalah ini,” ucap Wahyu.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten