PBB Terbelah: Yusril ke Jokowi-Ma\'ruf, MS Kaban ke Prabowo-Sandi
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra (kedua kanan) dicium oleh Ketua Mahkamah Partai M Yasin Ardhy (kedua kiri) usai sidang ajudikasi antara PBB dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Gedung Bawaslu, Jakarta, Minggu (4/3). Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memutuskan Partai Bulan Bintang sah sebagai peserta Pemilu 2019. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Solopos.com, JAKARTA — Setelah resmi menyatakan dukungan pada capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, fenomena beda pilihan di internal tubuh Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi sorotan. Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra telah mengetok palu terkait dukungan terhadap Jokowi-Ma'ruf.

Tetapi sebelumnya, Ketua Majelis Syuro PBB MS Kaban dan beberapa kader PBB yang mematuhi rekomendasi Ijtima Ulama II, mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo-Sandi. Mereka menyebut dirinya "Gerakan Nasional Caleg PBB Poros Makkah".

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, menjelaskan pilihan PBB untuk merapat ke kubu Jokowi-Ma'ruf merupakan hal rasional.

"Merapat ke petahana merupakan hal yang rasional. Karena petahana banyak memiliki banyak sumber daya, sumber daya kekuasaan, finansial, jaringan, dan lain-lain, dan petahana dalam pandangan masyarakat masih memiliki kinerja baik, menurut survei," jelasnya kepada Bisnis/JIBI, Senin (28/1/2019).

Kendati demikian, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini menyebut, nantinya sikap dan alasan PBB beserta Yusril sebagai Ketua Umum dalam menyikapi fenomena beda pilihan di internal partai tersebut, akan dinilai oleh masyarakat.

Misalnya, ketika memilih tegas, atau justru membebaskan kadernya memilih haluan seperti kebijakan Partai Demokrat, akan dilihat dan dinilai oleh masyarakat terkait bagaimana PBB menghadapi hal tersebut.

"Sah-sah saja jika ada perbedaan pendapat di internal PBB. Namun, sejatinya jika partai sudah memutuskan untuk mendukung Jokowi-M'aruf, maka selurut elit partai, pengurus, dan kader harus taat dan patuh atas keputusan tersebut," ungkap Ujang.

"Poros Mekah bisa saja memang bertujuan untuk mengganggu dan menekan Ketua Umum PBB. Namun, saya lihat, PBB tidak akan membebaskan pilihan politiknya seperti [Partai] Demokrat," tambahnya.

Senada dengan Ujang, pihak TKN Jokowi-Ma'ruf Tb Ace Hasan Syadzily menyatakan percaya bahwa Yusril sebagai Ketua Umum sanggup menjelaskan pilihan politik tersebut untuk menghadapi fenomena di internal PBB. Tetapi sikap yang nantinya akan diambil PBB, selebihnya merupakan kebijakan internal partai.

"Soal masih adanya caleg-caleg PBB yang mendukung Prabowo, tentu kami serahkan kepada mekanisme internal Partai Bulang Bintang [PBB] dalam menegakan keputusan partai mereka," jelas Ace.

"Setahu saya, di mana pun keputusan partai, seharusnya diikuti oleh para kadernya. Apalagi keputusan itu melalui mekanisme rapat pleno partai. Sudah seharusnya setiap kader partai loyal kepada kebijakan partai," tutur Ace.

Sebelumnya, PBB resmi menyatakan dukungan kepada paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PBB, Minggu (27/1/2019).

Namun, pernyataan Yusril dalam akun Twitter resmi PBB, hanya menyebutkan bahwa Dewan Pimpinan Pusat PBB tetap menghormati perbedaan pilihan yang terjadi dalam tubuh PBB. Apakah ini berarti PBB mengizinkan kadernya bebas memilih haluan seperti Partai Demokrat?


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho